Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 105


__ADS_3

"Fara, apa kabar?"


Seketika Fara menolehnya. Mereka saling bertatapan beberapa saat. Sudah empat tahun mereka tidak bertemu.


"Arsyad..." Fara mengalihkan pandangannya. "Iya, baik. Kamu sendiri apa kabar?"


Lili berangsur melepas tangan Fara dan memberikan ruang untuk Arsyad.


"Baik." Arsyad tersenyum kecil menatap wajah Fara yang semakin terlihat cantik dan lebih dewasa. Sudah empat tahun tidak bertemu. Banyak perubahan yang terjadi, tapi hatinya masih saja belum berubah. Meskipun sekarang dia sudah berhenti berharap tapi nama Fara sampai saat ini tetap terselip di hatinya. "Pak Aslan dimana?"


"Ada, sama Arya." jawab Fara.


"Putra kamu sudah besar ya?"


Fara hanya menganggukkan kepalanya. Putra? Fara tidak pernah berkomunikasi dengan Arsyad, tapi dia tahu semua tentang Fara. Selama ini diam-diam Arsyad menjadi stalker Fara.


"Syukurlah, kamu sekarang sudah hidup bahagia bersama Pak Aslan."


"Mama..." Arya berlari ke arah Fara. Sedangkan di kejauhan Aslan sedang menatap istri dan mantannya sambil melipat tangannya.


"Arya, habis makan apa bibirnya belepotan gini." Fara menggandeng tangan Arya sambil mengusap coklat dengan ujung jempolnya tapi coklat itu terlalu lengket.


"Habis makan mamellow ama coklat Ma."


"Tas Arya mana?" tanya Fara, karena tisu basah dan perlengkapan Arya ada di dalam tas itu.


"Di Ayah."


Arsyad tersenyum melihat Arya yang terlihat sangat tampan dan sepertinya dia juga anak pintar. "Hallo, namanya Arya ya. Ayo ikut om." Arsyad mengulurkan kedua tangannya akan menggendong Arya.


"Om, siapa?"


"Om Arsyad. Teman Mama. Ayo iku Om." Arsyad menggendong Arya lalu dia mengambil sapu tangannya dan membersihkan bibir Arya.


Fara hanya tersenyum lalu dia berjalan menuju Aslan yang sedang duduk di meja tamu vip. Arsyad yang sedang menggendong Arya juga mengikutinya di belakang.


Aslan hanya menghela napas panjang. Berat sekali membiarkan istrinya bertemu dengan mantan terindah tapi di umur yang sudah berkepala tiga itu dia harus bisa lebih sabar dan berlapang dada.


Arsyad tersenyum dan mengulurkan tangannya mengajak Aslan bersalaman. "Pak Aslan apa kabar?" tanya Arsyad.


"Alhamdulillah baik. Sini duduk dulu." suruh Aslan.


Arsyad duduk di sebelah Aslan yang berseberangan dengan Fara.

__ADS_1


"Arya sini ikut Mama." ajak Fara karena Arya masih saja anteng duduk di pangkuan Arsyad.


"Ma, Arya mau kasih selamat sama Aunty Ayla ya?"


"Iya, ayo sama Mama."


Arsyad turun dari pangkuan Arsyad lalu berjalan ke pelaminan bersama Mamanya.


Aslan dan Arsyad kini dipertemukan lagi. Dua orang dengan status yang berbeda, suami dan mantan Fara.


"Kuliah kamu sudah selesai?" tanya Aslan.


"Sudah Pak, saya baru pulang satu bulan ini."


"Tidak melanjutkan ambil Dokter spesialis juga?"


Arsyad menganggukkan kepalanya. "Iya, rencana saya memang mau ambil Dokter spesialis jantung tapi masih mau buka praktek di sini dulu."


"Hebat! Kamu benar-benar calon Dokter yang hebat. Saya ikut bangga anak didik saya ada yang bisa menjadi Dokter seperti kamu."


"Perjuangan saya menjadi Dokter baru dimulai, Pak. Saya sendiri juga tidak tahu bagaimana ke depannya, apakah saya benar-benar bisa menjadi seorang Dokter yang hebat seperti yang Pak Aslan bilang."


Aslan tersenyum kecil. "Kamu jangan pernah ragu melakukan sesuatu. Harus yakin, bahwa kamu bisa menjadi yang terhebat."


Arsyad menganggukkan kepalanya lalu mereka berlanjut mengobrol seputar perkembangan Dokter di Indonesia. Aslan yang tidak pernah ketinggalan membaca berita, jelas pengetahuannya sangat luas.


"Ayla, anak gue jangan dicubitin gitu pipinya."


"Arya diam aja kok. Aduh ganteng banget sih pakai kemeja dan blaser kecil gini."


"Moga kalian cepat dapat momongan ya." kata Fara sambil menurunkan Arya dari kursi pelaminan.


Kedua pengantin baru itu justru saling senggol dengan pipi yang merona.


"Kayaknya mereka udah gak sabar banget buat malam pertama." bisik Lili pada Fara.


"Iya." Fara justru cekikikan.


"Fara, Pak Aslan gak perang kan sama Bang Arsyad?" tanya Ayla.


"Mereka lagi ngobrol tuh. Lagian semua udah berlalu dan kita juga udah dewasa ngapain berantem segala."


"Ciee, yang ketemu mantan." Lili justru menggoda Fara. "Tapi tatapan Arsyad ke lo masih tetap sama kayak dulu. Penuh cinta dan kasih sayang."

__ADS_1


"Dih, apaan. Ingat anak nih udah besar." Kemudian dia turun dari pelaminan. "Arya mau makan apa? Ayo makan sama Mama."


Setelah acara selesai, Fara dan Aslan pulang ke rumah. Arya kini tertidur di pangkuan Fara saat berada di dalam mobil.


"Mas tadi ngobrolin apa sama Arsyad. Betah banget?" tanya Fara. Karena saat tadi dia tinggal makan bersama teman-temannya, Aslan dan Arsyad masih saja mengobrol.


Aslan hanya tersenyum kecil. Dia sesekali menoleh Fara. "Memang kenapa? Gak boleh akur? Suruh berantem lagi kayak dulu?"


Satu cubitan langsung mendarat di lengan Aslan. "Ih, gak gitu."


"Aw, main cubit aja sih. Nanti ya kalau sampai rumah, aku cubit balik biar men de sah." goda Aslan sambil tertawa.


"Yee, apaan. Aku kan cuma penasaran kalian berdua ngobrol apa?"


"Kenapa gak ikut duduk di meja yang sama aja tadi. Sengaja banget menghindar."


"Aku kan juga mau temu kangen sama teman-teman yang lain."


"Itu sih cuma alasan kamu. Bilang aja kalau masih gerogi lihat Arsyad. Aku akui sih, dia hebat dan wajahnya terlihat semakin fresh tapi untungnya istri aku udah jatuh cinta sama aku. Kalau masih ada sedikit sisa-sisa gerogi sih wajar."


Satu tangan Fara kini terulur mencubit pipi Aslan.


"Aw, dicubit lagi. Nanti sampai rumah pokoknya langsung pakai baju dinas."


"Baju dinas?" Fara mendekatkan bibirnya di telinga Aslan. "Enak langsung polosan, Mas."


Mendapat satu bisikan itu saja membuat sekujur tubuh Aslan sudah meremang.


"Nantangin ya. Oke, gas poll." Aslan menghentikan mobilnya di depan rumahnya. Setelah itu dia turun dan membuka pintu untuk Fara. Dia meraih tubuh Arya dan menggendongnya masuk ke dalam rumah.


Aslan menidurkan Arya di kamar Arya terlebih dahulu sedangkan Fara langsung masuk ke dalam kamarnya.


Setelah menidurkan Arya, dia menyusul Fara masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu kamarnya. Dia duduk di tepi ranjang dan melepas sepatunya. Kemudian dia melepas blazer serta kemejanya karena terasa sangat gerah sambil menunggu Fara yang sedang berada di kamar mandi.


Beberapa saat kemudian Aslan dikejutkan oleh Fara yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Kulit punggungnya yang menyentuh dada Fara membuatnya bergetar.


Dia menoleh menatap Fara. "Sayang.." Aslan tersenyum lalu menjatuhkan tubuh Fara di atas ranjang. "Beneran udah polos."


Fara hanya tersenyum kecil.


Aslan jelas tidak melewatkan kesempatan itu. Dia buat hari yang telah sore itu kembali memanas.


💞💞💞

__ADS_1


.


Like dan komen ya...


__ADS_2