Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 57


__ADS_3

Mendengar suara Aslan, Fara kini membuka matanya. Dia tersenyum kecil melihat Aslan yang sedang mengobrol dengan perut besarnya.


"Mas..." panggilnya.


Seketika Aslan beralih menatap Fara. Tangannya kini juga beralih mengusap puncak kepala Fara. "Sayang, udah enakan?"


Fara hanya menganggukkan kepalanya.


"Bentar lagi makan dan gak boleh sedih lagi." kata Aslan.


"Iya tapi sulit, meski sebenarnya aku sudah ikhlas." Fara menghela napas panjang. "Ayah seperti punya firasat sebelumnya. Ayah sudah memberikan nama buat anak kita, bahkan hari ulang tahun aku dimajukan satu hari. Dan hari ini tepat hari ulang tahun aku, ayah telah pergi untuk selamanya." Air mata itu kembali terbendung di pelupuk matanya, tapi buru-buru dia susut dengan jemarinya agar tidam sampai menetes.


Aslan hanya terdiam mendengar curhatan Fara. Dia biarkan Fara meluapkan segala perasaannya.


"Andai saja dulu aku tidak menuruti keinginan Ayah untuk menikah dengan Mas Aslan, pasti aku akan menyesal. Selama ini aku belum bisa membahagiakan Ayah. Hanya ini yang bisa aku lakukan. Ayah pergi dengan tenang saat aku sudah bahagia bersama Mas Aslan dan sedang menanti kelahiran anak kita." ungkap Fara lagi.


"Itu karena Ayah kamu sayang sama kamu. Aku akan selalu menyayangi kamu dan menjaga kamu, seperti Ayah kamu. Meskipun aku tidak bisa menggantikan kasih sayang Ayah kamu. Aku akan terus berusaha membahagiakan kamu. Jadi suami yang baik buat kamu dan aku juga akan terus belajar jadi Ayah yang baik untuk anak kita." Aslan mendekatkan dirinya dan mencium kening Fara lalu dia tempelkan pipinya di pipi Fara. "Jangan sedih lagi. Anak kita ikut sedih merasakan kesedihan kamu. Kasihan dia lapar, dari semalam sampai siang ini kamu belum makan sama sekali. Sekarang kamu makan ya."


Fara menganggukkan kepalanya. Lalu dia mengusap perutnya. "Anak kita gak papa kan Mas? Dari semalam dia gak aktif kayak biasanua."


"Gak papa. Asal mulai sekarang kamu harus bisa mengontrol emosi kamu dan makan dengan teratur." Aslan kini menegakkan dirinya dan ikut mengusap perut Fara.


Fara menganggukkan kepalanya. "Maafkan Mama ya sayang. Dedek Arya pasti lapar ya."


Aslan tersenyum mendengar sebutan nama itu. "Arya Mahesa."


Fara menganggukkan kepalanya lagi. "Singa junior."


Aslan semakin tertawa. Memang benar perkataan Almarhum Ayahnya Fara, nama yang diberikannya akan terkenang seumur hidup. Sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan uang tapi sangat berarti untuk cucunya.

__ADS_1


"Nama yang bagus. Aku sempat bingung cari nama. Mau aku kasih nama Leon atau Tiger sebenarnya." kekeh Aslan lalu membantu Fara duduk karena dia akan menyuapinya.


"Ih, gak mencerminkan Indonesia banget. Aku udah cek google, Arya itu artinya singa dari kata arrio, kalau Mahesa itu artinya pemimpin yang hebat." Fara terenyum kecil sambil tetap mengusap perutnya. Berharap putranya kelak akan menjadi pemimpin yang hebat dan bijaksana.


"Kalau Aslan artinya apa?" tanya Aslan menggoda Fara.


"Kucing orange." jawab Fara menggoda Aslan. Karena sekarang singa itu sangat sabar dan penyayang.


Aslan semakin tertawa. "Ya ampun, Mama cariin nama aku sampai ke Turki loh. Sekarang malah diartiin kucing orange." Aslan kini mulai menyuapi Fara.


"Setahu aku sih Aslan itu yang di film The Chronicles Of Narnia." kata Fara setelah menelan makanannya.


"Aslan yang di film itu hebat kan? Sama hebatnya kayak aku."


Fara mengerutkan dahinya sambil menerima suapan dari Aslan.


"Sekali kena ekor singa, perut kamu langsung besar." lanjut Aslan.


"Yah, masalah ekor nanti saja dilanjut."


Fara menggelengkan kepalanya sambil menerima suapan dari Aslan lagi.


"Yah, kesempatan gak datang dua kali." kata Aslan yang mengerti dengan gelengan dari Fara.


Fara terdiam sambil menghabiskan makanannya. Dia takut tersedak jika terus mengobrol masalah ekor singa yang gagal beraksi.


Setelah menghabiskan makanannya dan minum, baru dia lanjut mengobrol dengan Aslan untuk membahas sesuatu yang terlewat itu. "Hmm, masalah itu kita lanjut setelah dedek Arya lahir aja ya."


Aslan tersenyum sambil mengusap puncak kepala Fara. "Iya gak papa, kondisi kamu juga naik turun gini. Yang penting kamu sehat dan dedek Arya lahir dengan sehat."

__ADS_1


Bahagianya mempunyai seorang suami yang sangat pengertian seperti Aslan.


"Mas, aku nanti mau melahirkan secara normal ya."


"Iya, terserah kamu. Jika memang kamu ingin melahirkan normal, kamu jaga kondisi tubuh kamu biar tetap fit. Tapi jangan dipaksa juga. Dengan cara apapun kamu melahirkan nanti kamu tetap akan menjadi seorang ibu yang sempurna."


"Tapi Mas Aslan temani aku," pinta Fara


"Itu pasti." Kemudian Aslan membantu Fara berbaring dan menaikkan selimutnya hingga menutupi tubuh Fara. "Sekarang kamu tidur. Kamu semalaman kan gak tidur."


"Mas, kapan boleh pulang? Aku mau ikut yasin tahlil di rumah," kata Fara. Dia rasanya sudah tidak betah di rumah sakit. Sejak hamil ini sudah keempat kalinya dia dirawat di rumah sakit.


"Besok baru boleh pulang. Makanya sekarang kamu harus istirahat. Nanti setelah bangun kamu makan lagi agar kondisi kamu cepat pulih."


"Mas boleh gak ditemani Mas Aslan tidur di sebelah aku sini." pinta Fara sambil menggeser dirinya dan menyisakan ruang di sampingnya.


"Nanti sempit sayang."


"Gimana aku bisa tidur nyenyak kalau gak di peluk Mas Aslan," kata Fara dengan manjanya.


Ternyata Fara sudah sebucin itu sekarang. Aslan menuruti permintaan bumil kesayangannya. Dia kini naik ke atas brangkar, memiringkan tubuhnya agar brangkar itu muat untuk dua orang dan satu tangannya kini memeluk Fara.


"Nih, udah aku peluk. Sekarang kamu tidur ya." Aslan mencium pipi Fara sesaat.


Fara tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di leher Aslan, barulah dia bisa tertidur dengan nyenyak.


Sehat-sehat ya dua kesayangan Ayah.


💞💞💞

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen...


__ADS_2