Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 78


__ADS_3

"Fara," Ana setengah tersadar melihat tubuh Fara yang diangkat oleh seseorang. "Fara dibawa siapa? Tolong!"


Dua orang penjaga Fara segera menerobos masuk ke dalam perpustakaan. "Sial! Gara-gara kita tertahan di depan perpustakaan kita gagal menjaga nyonya Fara." mereka berlari mengikuti penculik itu lewat pintu belakang tapi penculik itu lebih cepat dari mereka. Fara sudah dibawa pergi dengan sebuah mobil yang melaju kencang.


"Hallo bos, Nyonya Fara diculik. Kami gagal mengejarnya."


Sedangkan di kantor, Aslan menjadi sangat khawatir. "Kalian sudah aku perintahkan untuk menjaga Fara! Bagaimana bisa kecolongan. Sial!" Aslan mematikan panggilan dari anak buahnya itu.


Dia kini membuka ponselnya, dia memasukkan kode ponsel Fara yang baru agar posisinya bisa terlacak.


Dia segera menghubungi anak buahnya untuk mengatur sebuah siasat.


"Kalian segera menuju villa yang berada di dekat puncak!" perintahnya lewat panggilan telepon. Setelah memutuskan teleponnya, Aslan memakai jasnya lalu mengambil kunci mobilnya dan bergegas keluar dari kantor.


"Ada apa Aslan? Masih soal yang kemarin?" tanya Pak Robi saat berpapasan dengan Aslan.


Aslan menganggukkan kepalanya, "Iya Pa, Fara sekarang diculik. Mama tolong suruh jaga Arya, Pa."


"Astaga. Ya sudah semoga cepat ketemu. Bilang sama Papa kalau butuh bantuan."


"Iya, Pa." Aslan segera turun ke lantai dasar dan menuju tempat parkir. Dia menghubungi anak buahnya lagi agar segera meluncur ke tempat itu.


"Kalian jangan langsung menyerang, aku takut mereka justru akan melukai Fara. Tunggu aba-aba dari aku."


Setelah mematikan panggilannya, Aslan segera melajukan mobilnya dengan kencang.


"Fara, tunggu aku akan segera ke sana menolong kamu."


...***...


Perlahan Fara mulai membuka matanya. Kepalanya terasa sangat berat dan pusing. Tapi kini tangan dan kakinya tidak bisa dia gerakkan karena diikat dengan kuat di atas ranjang.


Dia mengedarkan pandangannya dan mulai memberontak. "Lepasin aku!" teriak Fara.


Di sana bukan hanya Vero saja tapi ada tujuh pria lainnya yang sama-sama bertelanjang dada. Mereka kini menatap Fara dengan menyeringai.


"Mau apa kalian!" teriak Fara sambil berusaha melepas talinya.


Mereka tertawa bersama dengan keras.


"Kamu gak akan bisa lepas dari kita mama cantik."


"Bukannya kalian penyuka sama jenis!" kecam Fara lagi. Tubuh dan otot yang bagus itu justru dibuat mereka sebagai kedok penyimpangan.


Vero tersenyum miring. "Kita bro?" Dia merangkul teman yang ada di sebelahnya. "Iya, kamu benar sekali cantik tapi sekali-kali kita ingin merasakan sensasi yang berbeda dengan mama muda yang sexy."


Vero dan satu temannya lain mendekati Fara. Mereka me ra ba leher Fara hingga ke dadanya, lalu membuka satu per satu kancing Fara.

__ADS_1


"Jangan sentuh!"


"Ada ASI bro."


Mereka semua menyeringai menatap tubuh Fara dengan yang sudah berani menyentuh titik sensitif Fara. Mereka re mas kedua dada Fara hingga ASI itu merembes keluar.


"Lebih sexy dan indah dari yang aku lihat lewat foto."


"Jangan sentuh! Tidaakkk!!" Fara semakin memberontak tapi sia-sia karena ikatan itu tak bisa lepas.


"Kamu nikmati saja." Vero mendekatkan bibirnya di telinga Fara. "Biasanya kamu hanya mendapat servis dari satu orang sekarang kita semua akan menyervis kamu. Kamu pasti akan puas."


...***...


Aslan dan anak buahnya sampai di sebuah villa. Tapi di dalam villa itu kosong hanya ada tas Fara dan ponselnya.


"Sial! Kemana mereka membawa Fara! Cepat kalian cari mereka! Pasti mereka tak jauh dari tempat ini."


Aslan keluar dari villa itu dan berusaha mencari jejak Fara.


Ya Allah, tolong lindungi Fara.


Aslan tak akan menyerah mencari Fara. Dia kembali menghubungi orang suruhannya yang memata-matai Vero. "Bagaimana? Sudah tahu markas mereka dimana?"


"Di villa bukit indah! Baik, kita akan segera ke sana."


"Semoga semua belum terlambat."


Aslan dan anak buahnya segera melajukan mobilnya menuju villa yang dimaksud dengan kecepatan penuh.


Sudah tidak ada waktu lagi. Sebelum semuanya benar-benar terlambat.


Setelah tiba di lokasi, Aslan keluar dari mobil dan melihat ada beberapa sepeda motor serta mobil yang berjajar di depan villa.


Hati Aslan semakin tidak tenang. Berani mereka menyentuh Fara, dia pastikan hidup mereka akan hancur di tangannya.


Aslan dan anak buahnya segera mengepung tempat itu. Ditambah dua mobil polisi yang sekarang juga telah tiba di tempat.


Dia dobrak villa itu, banyak pasangan sesama jenis yang sedang bermesraan di tempat itu.


"Dimana bos kalian?" Aslan menyergap salah satu dari mereka.


Beberapa orang sempat akan kabur tapi langsung disergap oleh anak buah Aslan.


"Jawab! Dimana!" suara Aslan semakin keras bagai singa yang sedang mangaum.


"Di atas."

__ADS_1


Dengan langkah jenjang Aslan segera berlari menaiki anak tangga.


Dia mendobrak dengan keras pintu yang tertutup rapat itu. Matanya membulat sempurna saat melihat kondisi Fara yang sudah setengah telanjang dan dikelilingi pria-pria be jat itu.


"Kalian berani sekali menyentuh istri aku!" Aslan mengambil kursi dan melemparnya ke mereka. Dia kini melepas jasnya untuk menutupi tubuh Fara lalu dia menyergap dan menghajar Vero bertubi-tubi. "Aku gak akan lepasin kamu dan mereka semua."


Aslan dan anak buahnya menghajar mereka habis-habisan hingga mereka tidak bisa berkutik.


"Siapapun yang berani menyentuh istri aku, hidup kalian akan habis!"


Setelah mereka berhasil dilumpuhkan, polisi memborgol dan menangkap mereka semua.


Aslan kini melepas tali yang mengikat tangan dan kaki Fara.


Fara masih saja memejamkan matanya dan menangis.


"Far, tenang ada aku. Maaf aku terlambat."


Fara menepis tangan Aslan beberapa kali saat akan menyentuhnya.


"Fara, ini aku. Far..." Aslan memeluk tubuh yang bergetar itu.


Fara akhirnya membuka matanya dan menenggelamkan wajahnya di dada Aslan. Dia masih saja menangis sesenggukan.


"Maaf, aku gagal menjaga kamu." Aslan mengusap rambut Fara agar dia lebih tenang.


Fara masih saja tak berhenti menangis, Aslan tahu pasti mereka sudah berbuat sesuatu pada Fara.


"Mereka sudah apain kamu?" tanya Aslan.


Bukan jawaban yang didapat tapi hanya suara tangis yang semakin keras.


"Ya sudah sekarang kita pulang. Istirahat di rumah." Aslan mengangkat tubuh Fara dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Pastikan mereka semua dapat hukuman yang setimpal!" teriak Aslan pada anak buahnya lalu dia masuk ke kursi pengemudi dan segera melajukan mobilnya.


Sepanjang perjalanan Fara masih saja menangis. "Aku udah kotor Mas. Mereka semua sentuh tubuh aku, bahkan..." Fara menghentikan perkataannya. Dia kembali menangis tergugu.


"Sayang udah, jangan nangis lagi ya. Mereka akan mendapat hukuman yang setimpal."


"Mas, mereka udah... Mereka udah hisap ASI aku bergantian. Jijik Mas, udah gak layak buat Arya."


Aslan semakin mengeraskan rahangnya. Rasanya dia ingin sekali menghabisi nyawa mereka semua yang sudah berani menyentuh Fara.


💞💞💞


.

__ADS_1


Like dan komen ya...


__ADS_2