Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 89


__ADS_3

"Arya, pintar banget udah bisa rambatan. Sini jalan ke oma." Bu Lani dengan antusias memberi semangat pada Arya yang sudah bisa berjalan sambil pegangan di ujung meja.


Fara juga ikut bahagia melihat perkembangan Arya.


"Persis banget kayak Aslan. Pasti satu tahun udah bisa jalan lancar." kata Bu Lani lagi sambil memeluk Arya yang sudah berhasil mendekat.


Beberapa saat kemudian bel pintu rumah berbunyi, Fara segera berdiri dan membuka pintu itu.


"Iya, cari siapa?" tanya Fara saat melihat ketiga orang asing yang datang ke rumahnya. Satu seorang gadis muda dan dua orang lainnya mungkin orang tuanya.


"Benar ini rumah Pak Aslan guru di SMA 5!" tanya bapak-bapak itu pada Fara dengan keras.


"Iya benar, ada apa?" tanya Fara sambil menautkan alisnya.


"Kami ke sini mau meminta pertanggung jawaban Pak Aslan karena telah menghamili putri kami."


Mendengar hal itu Fara sangat terkejut. "Apa? Itu gak mungkin! Mas Aslan gak mungkin kayak gitu! Kalian pasti salah orang."


"Fara ada siapa?" tanya Bu Lani yang keluar sambil menggendong Arya.


Belum juga Fara menjawab bapak itu sudah menjawabnya terlebih dahulu.


"Kami ke sini mau minta pertanggung jawaban pada Pak Aslan karena sudah menghamili anak kami."


"Itu gak mungkin! Aslan sudah punya anak dan istri. Lagi pula, saya yakin anak saya gak mungkin melakukan perbuatan be jat kayak gitu."


"Banyak alasan! Kalian belum tahu saja bagaimana tingkah Pak Aslan diluar rumah."


"Apa ada bukti?" meski hati Fara sudah terasa sakit tapi dia harus mencari tahu kebenarannya. "Selama tidak ada bukti, jangan pernah meminta pertanggung jawaban apapun pada Mas Aslan. Pergi kalian dari sini!"


"Pak Yanto, usir mereka dari sini!" teriak Bu Lani agar ketiga orang itu pergi dari rumahnya.


"Kami pasti akan membawa bukti itu!"

__ADS_1


Setelah mereka diusir paksa oleh Pak Yanto, Fara dan mertuanya kini masuk ke dalam rumah.


"Fara kamu tenang saja. Aslan gak mungkin ngelakuin ini."


Fara menganggukkan kepalanya. Meski setengah hatinya dia sangat penasaran dengan masalah ini. Kalau memang Aslan tidak melakukan ini, lalu apa tujuan mereka? Apa mereka mau menipu demi mendapatkan uang?


"Fara, Mama mau pulang dulu sudah sore. Kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan hubungi Mama. Nanti bicarakan baik-baik dengan Aslan masalah ini." pamit Bu Lani.


Fara menganggukkan kepalanya. "Iya, Mama hati-hati ya.."


Setelah Bu Lani keluar dari rumah Fara, Fara kini masuk ke dalam kamar bersama Arya. Dia masih belum puas jika belum berbicara dengan Aslan.


"Udah sore, mungkin Mas Aslan udah gak sibuk." Fara kini mencoba menghubungi Aslan. Dia sangat penasaran dengan masalah ini. Apa memang ada yang disembunyikan darinya?


Setelah terdengar nada sambungan yang cukup lama, Aslan akhirnya mengangkat panggilan itu.


"Iya, hallo sayang.."


"Mas Aslan pulang jam berapa?"


"Aku mau bicara sesuatu sama Mas Aslan. Barusan ada anak SMA ke sini dengan orang tuanya meminta pertanggung jawaban sama Mas Aslan. Katanya Mas Aslan sudah menghamilinya. Apa benar?"


"Nggak! Kamu jangan percaya sama omongan mereka. Aku pulang sekarang, aku jelaskan semua sama kamu."


Kemudian Fara mematikan panggilan itu. Dia masih saja penasaran, apa mereka memang sengaja menipu demi mendapatkan uang?


Bukannya tidak percaya dengan suaminya, tapi sebagai seorang istri tentu Fara ingin mengetahui yang sebenarnya. Fara menurunkan Arya di tempat bermainnya yang berpagar itu lalu dia masuk ke dalam ruangan kerja Aslan.


Dia mencari buku dan daftar siswa yang biasanya Aslan bawa ke sekolah. Karena hari ini Aslan hanya berpamitan saja pada guru dan murid-muridnya tanpa membawa tasnya. Dia berusaha pencari sebuah petunjuk. Siapa tahu ada sesuatu yang bisa menjadi jawaban.


Dia bongkar tas persegi itu. Dia buka acak buku-buku latihan soal dan panduan matematika lainnya. Tiba-tiba ada selembar foto yang jatuh ke lantai dari selipan buku. Lalu Fara segera mengambil foto itu.


Matanya membulat sempurna saat dia melihat wajah gadis SMA yang tadi datang ke rumahnya dengan sebuah tangan yang merengkuh bahu gadis itu. Meski wajah seseorang yang berada di samping Weni tidak terlihat tapi seragam yang dipakai pria dalam foto itu menandakan jika dia seorang guru.

__ADS_1


"Kenapa foto ini ada di bukunya Mas Aslan?" Fara berusaha menepis rasa curiganya tapi dengan adanya foto itu dia tidak bisa mengelak jika setengah hatinya menjadi ragu.


Fara keluar dari ruang kerja Aslan. "Mbak, Arya tolong dimandikan ya," suruh Fara pada baby sitter Arya karena biasanya saat di rumah memang dia sendiri yang merawat Arya.


"Baik nyonya."


Fara akan melangkah masuk ke dalam kamar yang bebarengan dengan kedatangan Aslan.


Fara menatap Aslan sesaat lalu mereka masuk ke dalam kamar. Dia kini hanya diam dan duduk di tepi ranjang.


"Sayang, tolong percaya sama aku. Mereka cuma mau menipu kita. Aku tadi sepulang dari sekolah, gak sengaja melihat dia pingsan di pinggir jalan jadi aku tolong dan aku bawa ke klinik. Setelah dia sadar aku antar dia pulang ke rumah. Setelah itu keluarganya justru menuduh aku udah menghamili putrinya." cerita Aslan. Meski dia bisa melihat gurat kesal di wajah Fara.


"Apa dia murid Mas Aslan?" tanya Fara.


Aslan menggelengkan kepalanya. "Dia masih kelas XI. Aku juga gak kenal sama dia sebelumnya."


"Terus foto ini?" Fara menunjukkan sebuah foto yang baru saja dia temukan di dalam buku Aslan.


Aslan mengambil foto itu dan melihatnya. "Kamu dapat darimana?"


"Ada di dalam tas Mas Aslan."


Aslan menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin foto itu bisa berada di dalam tasnya. Pasti ada yang menjebaknya lagi sama seperti masalah Fara dulu. "Gak mungkin! Aku gak pernah menyimpan foto ini dan di dalam foto ini bukan aku."


"Terus, bagaimana bisa foto itu berada dalam tas Mas Aslan? Sebenarnya aku percarya sama Mas Aslan tapi setelah melihat foto itu aku jadi ragu."


Aslan menghela napas panjang lalu merengkuh tubuh Fara. "Iya, aku mengerti. Tidak ada seorang istri yang mau suaminya berkhianat. Tapi aku gak pernah melakukan itu, di dalam foto itu bukan aku. Sepertinya ada yang sengaja ingin merusak rumah tangga kita. Entahlah, apa motifnya karena ingin uang atau yang lainnya. Yang jelas, apapun yang terjadi kita harus saling percaya. Kita bercermin pada kejadian sebelumnya. Ada seseorang yang memang dengan sengaja menjebak kita."


Fara yang sedari tadi membuang pandangannya kini menatap Aslan.


"Aku gak mudah untuk mendapatkan cinta kamu. Aku gak mungkin sia-siakan kamu." Aslan menangkup kedua pipi Fara. "Aku cinta sama kamu melebihi apapun. Tetap bersamaku dan kita hadapi semua masalah ini sama-sama."


Fara menatap kedua netra Aslan yang selalu membuatnya terhipnotis.

__ADS_1


.


__ADS_2