
Fara turun dari mobilnya dan menghampiri Weni. "Kenapa kamu ke sini?" tanya Fara.
"Aku diusir dari rumah." jawab Weni. Dia tetap saja menundukkan pandangannya. Sama sekali tak berani menatap Fara.
Fara terdiam. Dia kini menatap wajah pucat Weni. "Kalau kamu diusir dari rumah kenapa kamu ke sini? Kamu kan masih punya saudara lainnya."
Weni hanya menggelengkan kepalanya. "Aku..." Dia menghentikan kalimatnya lalu memutar langkahnya pergi.
Hati Fara tergerak untuk menolongnya. Meski sebenarnya dia juga tidak mengizinkan Weni tinggal di rumahnya tapi melihat kondisi Weni saat ini, dia merasa kasihan. "Tunggu dulu, ya sudah kamu ikut aku masuk ke dalam rumah." Fara menarik tangan Weni dan membawanya masuk ke dalam rumah. Dia juga ingin menginterogasi Weni, siapa tahu Weni mau mengakui kesalahannya dan siapa yang telah menyuruhnya menjebak Aslan.
"Kamu duduk dulu, sebentar aku mau lihat anak aku dulu." Setelah masuk ke dalam rumah, Fara menyuruhnya duduk di sofa ruang tamu sedangkan dia kini berjalan ke kamarnya dan melihat Arya sedang tidur di dalam box nya.
"Mbak, Mama gak ke sini?" tanya Fara pada baby sitter Arya yang sedang mengemasi barang-barang Arya.
"Baru saja pulang. Arya, juga baru saja tidur." setelah meletakkan tas dan membuka sepatunya, Fara mencium pipi Arya singkat lalu keluar dari kamarnya dan menuju dapur meminta Bi Sri untuk menyiapkan makanan.
Setelah itu dia menemui Weni yang masih duduk dengan lemas di sofa ruang tamu. "Kamu masih kelas XI?" tanya Fara. Dia kini duduk tak jauh dari Weni.
Weni hanya menganggukkan kepalanya.
"Kamu disuruh siapa untuk menjebak Mas Aslan?" tanya Fara langsung pada pokok persoalan.
Weni hanya menggelengkan kepalanya. Tak mau menjawab pertanyaan Fara.
"Kamu jujur sama aku, gak papa. Aku ngerti, mungkin kamu bingung dengan kondisi kamu saat ini. Aku bisa bantu kamu. Kita bisa bantu kamu untuk menuntut orang yang tidak bertanggung jawab itu."
Weni hanya terdiam. Dia menggigit bibir bawahnya dengan air mata yang telah terbendung.
Fara menghela napas panjang. Dia sekarang mengerti, sepertinya Weni hanyalah korban. Entah siapa yang memaksanya melakukan ini semua. "Kamu sudah pernah periksa kandungan kamu?" tanya Fara.
Weni hanya menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah. Nanti kita periksa kandungan kamu. Sekarang kamu makan dulu lalu istirahat di kamar." Fara berdiri dan berjalan mendahului Weni.
Air mata itu sudah tidak bisa Weni bendung. Dia kini menangis sambil menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. "Maafkan aku..."
...***...
"Sayang, kenapa kamu biarin Weni tinggal di sini?" tanya Aslan saat baru pulang dari kantornya. Dia kini duduk di tepi ranjang sambil membuka jasnya.
__ADS_1
Fara yang sedang menggendong Arya kini duduk di samping Aslan. "Biar aku lebih mudah menginterogasi dia. Aku ingin cari tahu kebenarannya."
Aslan menghela napas panjang. "Tapi kalau dia licik gimana? Aku gak mau kamu dan Arya kenapa-napa."
"Sepertinya dia dipaksa melakukan ini semua. Di sini dia juga korban Mas, kasihan." kata Fara lagi.
Aslan menghela napas lagi lalu memijat kepalanya yang terasa pusing. "Seharian aku dipusingkan dengan berita hoax yang menyebar di sosial media. Untung tim IT aku sudah berhasil membersihkannya."
"Yayah..." Arya menarik baju Aslan ingin duduk di pangkuannya.
"Sayang, Ayah capek. Main sama Mama aja ya." kata Fara sambil menaham Arya yang kian berontak ingin duduk di pangkuan Ayahnya.
"Udah gak papa." Aslan meraih tubuh Arya dan mengangkatnya ke atas yang membuat bayi umur 10 bulan itu tertawa riang sambil tepuk tangan.
"Yayah, yayah."
"Mau lagi ya? Yee, Arya terbang..."
Fara hanya tersenyum sambil melihat interaksi mereka berdua.
"Mas, nanti kita antar Weni periksa kandungan ya?" tanya Fara tiba-tiba.
"Ih, Mas. Kasihan."
"Oke, dia korban. Harusnya dia bisa speak up gak harus nuduh aku."
"Ya, makanya itu pelan-pelan aku cari tahu, siapa yang udah memaksa dia untuk menjebak Mas Aslan."
Aslan merengkuh tubuh Fara lalu mencium pipinya. "Kamu sekarang makin dewasa ya."
"Itu karena Mas Aslan yang selalu sabar menghadapi aku jadi aku belajar banyak hal dari Mas Aslan." Fara mengusap pipi Aslan tapi usapannya terhenti dan berpindah ke tengkuk leher Aslan yang lebih hangat dari biasanya. "Mas Aslan sakit?"
"Gak tahu sayang. Tadi siang tiba-tiba kepala aku pusing."
"Mas mandi pakai air hangat ya. Terus makan dan minum obat."
"Iya." Aslan berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah dia selesai mandi, badannya terasa semakin menggigil. Dia akhirnya merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan menarik selimutnya.
"Mas." Fara mendekat lalu mengusap rambut Aslan yang terasa semakin panas. "Aku ambilkan makanan ya. Makan di kamar aja."
__ADS_1
Aslan hanya menganggukkan kepalanya.
Fara membawa Arya keluar dan menitipkan pada pengasuhnya. Lalu dia segera mengambilkan makanan dan segelas air putih beserta obat, dia letakkan di atas nampan kemudian dia bawa ke kamarnya.
"Makan dulu, aku suapi. Kebetulan ada sup ayam masih hangat."
Perlahan Aslan duduk dan bersandar di headboard. "Maaf ya, aku jadi merepotkan."
"Ih, ngapain minta maaf sih. Sama istri sendiri juga. Selama kita menikah, Mas Aslan juga baru kali ini sakit." Fara mulai menyuapi Aslan sesendok demi sesendok. "Mas Aslan jangan terlalu memikirkan masalah ini, drop kan jadinya."
Aslan tersenyum kecil. "Karena aku takut kamu marah sama aku. Aku takut kamu gak percaya sama aku."
"Sekarang aku percaya sama Mas Aslan dan aku juga gak marah sama Mas Aslan. Cepat sembuh ya. Biar bisa jahil lagi."
Aslan tersenyum kecil sambil menerima suapan dari Fara.
"Yee, habis. Pintarnya..."
Aslan semakin tersenym mendengar candaan Fara. "Udah berasa kayak jadi Arya."
"Nih, minum air putih sama minum obat." Fara membantu Aslan memegang gelas saat Aslan meminunya. "Sekarang tidur. Aku temani."
Aslan merebahkan dirinya yang langsung diselimuti oleh Fara.
Fara juga naik ke atas ranjang lalu mengusap punggung Aslan agar cepat terlelap. Dia pandangi gurat wajah lelah itu, selain lelah memikirkan pekerjaan, Aslan juga lelah memikirkan masalahnya.
"Cepat sembuh, Mas." Fara mencium singkat kening Aslan. Setelah Aslan terlelap dalam tidurnya Fara turun dari ranjang karena saatnya Arya minum susu.
Sampai malam larut Aslan masih terlelap. Fara berulang kali mengecek suhu tubuh Aslan. Awalnya sempat turun setelah minum obat tapi semakin malam panas itu semakin tinggi lagi.
"Badan Mas Aslan kenapa demam lagi...."
.
💞💞💞
.
Kebanyakan tuh jadinya tepar.. 😂😂
__ADS_1