Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 37


__ADS_3

Aslan tidak merasakan pergerakan Fara. Dia merenggangkan pelukannya dan melihat Fara yang sudah tertidur dalam pelukannya. Bukannya melepas, tapi Aslan semakin memeluknya dan memberi kenyamanan pada Fara. Perlahan, tangannya kini mengusap perut Fara. Hal yang sangat ingin dia lakukan sejak dia tahu kehamilan Fara.


Meskipun Fara tidak menginginkan kehamilan itu, tapi Aslan sangat bahagia dengan kehamilan Fara.


Sehat-sehat ya. Tolong bantu Mama melalui ini semua...


Beberapa hari berlalu, morning sickness Fara masih parah. Meskipun dia sudah makan mangga sesuai kata mertuanya tapi tetap tidak ada efek pada Fara.


"Far, makannya aku suapi aja biar gak mual." kata Aslan. Dia sekarang mulai mengerti, saat dia yang menyuapi Fara, makanan itu tidak akan dimuntahkan oleh Fara. Beda saat Fara makan sendiri. Makan apapun itu, pasti perut Fara langsung mual.


Tapi begitulah Fara, dia sangat keras kepala. Dia hanya mau disuapi Aslan saat ada kedua orang tua Aslan dan Ayahnya saja.


Aslan hanya menghela napas panjang. Dia tidak bisa memaksa Fara, meski kondisi Fara sekarang sangat memprihatinkan. Baru beberapa hari saja dia sudah terlihat kurus.


"Nanti aku akan tanya tugas-tugas kamu sebagai pengganti ujian praktek yang belum kamu lakukan." kata Aslan lagi.


Fara menggelengkan kepalanya. "Gak perlu. Ujian juga sudah gak ada gunanya lagi." Fara mulai mengambil makanan yang sedari tadi dia diamkan di depannya.


"Far, kamu nanti masih bisa kuliah. Kalau gak tahun ini, tahun depan masih bisa masuk."


Fara menghentikan makannya. Dia sedih mendengar kalimat Aslan itu. Sebelumnya dia sudah menyusun rencana dengan sahabat-sahabatnya tapi ternyata semua itu hanya tinggal rencana.


Lagi-lagi perutnya terasa mual. Buru-buru dia ke kamar mandi. Rasanya Fara sudah tidak sanggup jika setiap hari harus seperti itu.


Aslan menyusul Fara, dia selalu usap punggung Fara saat mual. "Tiap makan aku suapi saja ya. Biar gak mual gini."


Fara masih saja menggeleng. Dia membersihkan bibirnya lalu berjalan dengan lemas menuju kamarnya.


Aslan menghela napas panjang. Dia mengikuti Fara sampai kamarnya, terlihat Fara sudah meringkuk di atas tempat tidur. "Far, aku mau ke sekolah dulu. Setelah dari sekolah langsung ke kantor papa sebentar. Kalau ada perlu apa-apa bilang sama bibi ya."


Fara tak menyahuti Aslan.


Kemudian Aslan keluar dari kamar Fara dan titip pesan pada Bibi Sri untuk menjaga Fara. Setelah itu dia segera bersiap berangkat ke sekolah.

__ADS_1


...***...


"Far, gimana kedaan lo? Kita semua khawatir sama lo. Kita mau jenguk, lo sekarang dimana? Di rumah Pak Aslan ya?" tanya Ayla lewat penggilan suara karena Fara menolak menerima panggilan video dari mereka.


"Gue gak papa." kata Fara. "Kalian gak perlu jenguk gue, ini bukan penyakit."


"Far, kita sahabat. Kalau lo butuh teman curhat, curhat saja sama kita."


Fara kini menangis. Jujur saja dia merasa iri dengan teman-temannya yang bisa menikmati masa muda sesuai umurnya. Sedangkan dia, harus menikah di usia muda dan hamil. Hidup seolah tidak adil baginya.


"Far, kok nangis. Jangan nangis dong. Mana Fara yang kuat seperti dulu."


Fara hanya terisak. Kekuatan dan semangat hidup sudah tidak ada di dirinya.


"Far, lo masih bisa lakuin apa aja, ayo semangat." kata teman-teman Fara di ujung sana. "Lusa kita jemput ke rumah kamu ya buat ikut SNMPTN."


"Aku gak ikut."


"Aku gak mau kuliah dengan keadaan seperti ini."


"Far..."


"Maaf." Fara mematikan panggilannya. Dia masih saja menangis.


Beberapa saat kemudian Bi Sri masuk ke dalam kamar Fara dengan membawa senampan makanan. "Non Fara makan dulu, sedari tadi belum makan."


"Taruh meja saja, Bi."


Bi Sri yang melihat kondisi Fara, dia juga merasa iba. "Dimakan ya Non. Kalau butuh sesuatu bilang sama Bibi."


Fara hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian Bi Sri keluar dari kamar Fara.


Fara kini menatap setumpuk buku-buku tebal yang ada di atas meja belajarnya. Dia berdiri lalu duduk di depan meja belajarnya. Mengambil buku-buku tebal itu yang berjudul, Kiat Khusus Mempersiapkan SNMPTN. Kemudian Fara melemparnya ke tempat sampah. Dia mengambil satu buku lagi yang berisi contoh-contoh soal, kemudian dia melempar ke tempat sampah. Begitu seterusnya sampai buku itu habis.

__ADS_1


"Semua udah gak ada gunanya lagi!" Fara semakin menangis tergugu. "Aku gak mau hidup seperti ini." Fara sudah berada diujung keputus asaannya. Dia kini menelungkupkan kepalanya di atas meja sambil menangis terisak.


...***...


Saat hari menjelang sore, Aslan baru saja pulang dari kantor Papanya. Dia kini masuk ke dalam rumah yang langsung di sambut pembantunya.


"Tuan, Non Fara sedari tadi gak mau makan. Seharian ini hanya di kamar saja."


Seketika Aslan berjalan cepat menuju kamar Fara setelah sebelumnya dia melepas blazernya. Dia kini melihat Fara yang menelungkupkan wajahnya di atas meja dengan buku-buku berserakan di bawah dan di tenpat sampah. "Far," Aslan berjalan mendekat lalu menyentuh tangan Fara yang terasa panas itu. "Badan kamu panas banget. Kamu demam?" Aslan meraih tubuh Fara yang sudah melemas. "Far?" Aslan menyentuh kening Fara yang terasa sangat panas.


Dia segera mengangkat tubuh Fara dan membawanya menuju mobil. Dia harus segera membawa Fara ke rumah sakit. Sepertinya kondisi Fara semakin menurun dan buruk.


Aslan melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah sakit. Dia tidak mau terjadi apa-apa pada Fara dan calon anaknya.


Setelah sampai di rumah sakit, Aslan segera membawa Fara ke IGD. Dia turunkan Fara di atas brangkar yang langsung diperiksa oleh Dokter.


Seorang suster segera memasang infus di pergelangan tangan Fara. Dokter yang memeriksa Fara menggeleng beberapa kali. "Tensinya sangat rendah. Dehidrasinya juga sudah parah sampai menyebabkan demam." kemudian Dokter itu mengoles gel di perut Fara dan menempelkan alat perekam detak jantung janin. Sudah dicari letak yang paling pas tapi detak itu tidak terdengar.


"Detak jantung janinnya masih belum terdengar. Besok kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut apakah janinnya memang bisa berkembang atau tidak. Pak, ini masalah yang serius. Tolong usahakan tetap ada makanan yang masuk karena jika terjadi malnutrisi, saya khawatir janin benar-benar tidak akan berkembang dan jalan satu-satunya harus di kuret."


Seketika hati Aslan terasa hancur. Dia merasa tidak bisa menjadi suami yang baik. Perlahan dia mengikuti brangkar Fara yang didorong ke ruang rawat dengan air mata yang menggenang. Dia tak tahu lagi harus bagaimana. Segala cara sudah dia lakukan untuk meluluhkan Fara. Apakah ini akhir dari semuanya?


.


💞💞💞


.


Bawang mulai bertaburan..


.


Komennya mana guys.. 🙄

__ADS_1


__ADS_2