
"Fara."
Mendengar panggilan itu seketika Fara menghentikan langkahnya. Dia kini menatap Arsyad yang berjalan ke arahnya.
Arsyad tersenyum menatap Fara, meski setengah hatinya tetap saja terluka. Seseorang yang sangat cantik itu kini telah menjadi milik orang lain. Dia tidak mungkin bisa lagi memilikinya atau hanya sekadar untuk mengharapkannya.
"Bang Arsyad nanti aja dekat Faranya pas dansa, kita masih mau kumpul, ngerumpi, ghibah bareng-bareng." kata Ayla.
"Tahu tuh, sana-sana." Ketiga temannya justru menarik Fara agar mengikutinya dan duduk berjejer lalu melanjutkan obrolan mereka dengan tawa yang sekali-kali terdengar keras.
Arsyad hanya melihatnya dari kejauhan. Setidaknya tawa lepas Fara sekarang sudah bisa dia lihat lagi.
Semoga kamu selalu bahagia, Far.
Mereka semua duduk dengan rapi di kursi yang tersedia. Ada beberapa juga yang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Acara itu dibuka oleh seorang host yang sedang viral di sebuah akun media sosial, tentu saja mereka kini bersorak setiap kali host itu selesai berbicara.
"Kalau ramai penuh sorakan gini jadi ingat waktu abang SMA dulu. Maklum kan wajah abang ganteng," kata host itu.
"Huuu,"
"Jadi tiap kali jalan di lorong kelas pasti ada yang suit-suit gitu, ada yang ngasih coklat sama surat cinta. Saking bingungnya Abang pacarin aja semuanya. Hah, indahnya masa SMA tapi sayang itu hanya karangan Abang doang."
Aula kembali riuh mendengar candaan dari host itu.
"Oke kembali ke kenyataan sekarang. Sebagai acara pembuka, ada sedikit salam perpisahan dari Bapak Kepala Sekolah kita yang terhormat. Kepada Pak Wiyanto saya persilahkan."
Pak Wiyanto naik ke atas panggung itu. Dia tersenyum hangat menyapa anak didiknya dan memulai sambutan serta salam perpisahan di depan anak muridnya. Setelah ini, mereka telah resmi lepas dari SMA.
__ADS_1
Semua murid terdiam dengan pandangan mata yang berkaca-kaca mendengar pesan dari Bapak Kepala Sekolah mereka.
"Ingat, ini bukan akhir dari perjuangan kalian tapi ini adalah awal dari perjuangan kalian. Entah kalian nanti akan melanjutkan ke perguruan tinggi atau langsung bekerja. Semua itu adalah proses untuk menuju kesuksesan. Tidak ada yang instant, semua butuh proses dan perjuangan."
Ya, perjuangan mereka memang masih panjang. Tentu dengan jalan dan cara yang berbeda untuk mencapai kesuksesan itu.
"Saat kalian rindu dengan sekolah ini, atau mungkin dengan saya. Sekolah ini tetap terbuka lebar untuk kalian semua. Sekian dari saya sepertinya kalian semua sudah tidak sabar untuk ke acara inti." Pak Wiyanto menoleh pada host yang menjadi pajangan beberapa saat itu. "Abang host."
"Wah, Pak Kepala Sekolah terhormat, terima kasih saya dipanggil Abang." Host yang bernama Rizki itu kini maju ke depan menggantikan posisi Pak Wiyanto. "Terima kasih atas sambutan yang sangat berkesan dan sarat akan petuah. Kalau ngomongin soal perpisahan pasti identik dengan kesedihan nih. Eits, tapi di dalam perpisahan pasti juga akan ada pertemuan. Bayangkan saja nanti setelah lulus dari sini kalian kuliah terus bertemu dengan senior atau maba dari sekolah lain. Yang bekerja nanti juga pasti bakal ketemu dengan teman kerja baru. Apalagi yang tutup buku buka terop, wah benar-benar menggetarkan jiwa kalau yang kayak gitu." Rizki tertawa yang dibarengi tawa murid lainnya kemudian dia melanjutkan acara selanjutnya.
"Sesaat lagi akan kalian saksikan, beberapa teman kalian akan memberi pesan dan kesan selama sekolah di sini. Dimulai dari, Arsyad. Kepada saudara Arsyad bisa langsung naik ke atas panggung bersama saya. Dari profil yang Abang baca nih, Arsyad mantan ketua OSIS, peraih nilai Matematika tertinggi, juara pertama satu sekolah. Wih, gak main-main, disabet semua" Rizki merangkul Arsyad yang telah naik ke atas panggung. "Keren. Udah punya pacar belum? Pasti yang tipe kayak gini jadi most wanted di sekolah. Kayak Abang dulu, tapi karangam Abang juga."
Arsyad hanya tersenyum kecil.
"Oke, pacarnya gak perlu dikenalkan sama abang nanti pacarnya kecantol. Silahkan mulai." Rizki mundur beberapa langkah.
"Selamat malam..." Arsyad mengedarkan pandangannya ke sederet teman-temannya lalu berhenti pada Fara sesaat yang juga sedang menatapnya.
"Tak terasa sudah tiga tahun saya menuntut ilmu di sekolah ini. Terima kasih untuk semua guru yang telah mendidik saya hingga saya mendapat nilai yang memuaskan dan ilmu yang tak ternilai harganya."
"Sudah begitu banyak kisah yang telah terukir di sekolah ini. Mulai dari saya bertemu dengan sahabat-sahabat saya dan bertemu dengan seseorang yang saya sayangi. Banyak suka duka yang telah kita lalui bersama. Kini saatnya kita melanjutkan impian kita, kita berjuang lagi di tempat yang berbeda."
"Meski terkadang dalam hidup kita harus merelakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kita lepaskan."
Suara Arsyad kian meredup. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. "Untuk..." Arsyad menghentikan perkataannya sejenak. "Untuk seseorang yang sangat aku cintai semoga kamu selalu bahagia bersamanya, agar suatu saat nanti aku tidak menyesal telah melepasmu."
Semua yang mendengar hal itu menjadi terbawa perasaan, termasuk Fara.
__ADS_1
"Wow, wow, siapa yang berani mematahkan hati Arsyad. Siapa? Sini Abang mau tahu."
Beberapa temannya menunjuk pada Fara. Meski mereka tak pernah menduga best couple sekolah mereka hubungannya telah berakhir.
"Ternyata si cantik itu." Rizki menepuk bahu Arsyad. "Pantas bro kalau kamu sampai patah hati gini. Lupain perasaan kamu, cewek masih banyak tapi Abang gak bisa jamin ada cewek yang lebih cantik dari dia." Seketika suasana kembali mencair.
Arsyad turun dari panggung. Masih ada beberapa teman lagi yang menyampaikan pesan dan kesannya di atas panggung.
Fara semakin berdebar. Sebentar lagi acara dansa akan dimulai. Host sudah memberi aba-aba. Lampu juga sudah berganti menjadi temaram. Alunan musik sudah terdengar merdu. Para murid yang memiliki pasangan dipersilakan untuk berdansa.
Arsyad mendekati Fara lalu meraih tangan Fara. Mereka saling mendekat. Fara meletakkan kedua tangannya di bahu Arsyad. Rasanya begitu canggung dan kaku. Apalagi saat merasakan kedua tangan Arsyad kini berada di pinggangnya.
"Makasih, kamu sudah mau berdansa dengan aku." kata Arsyad sambil menatap wajah cantik itu.
Fara hanya menganggukkan kepalanya. Mereka bergerak seiring alunan musik. Tapi beberapa saat kemudian, keringat dingin mengalir di pelipis Fara. Perutnya terasa diaduk, apalagi saat mencium wangi parfum Arsyad. Padahal dulu saat mereka pacaran Fara begitu suka mencium aroma tubuh Arsyad. Tapi sekarang perutnya terasa sangat mual.
Fara sudah tidak bisa menahannya lagi. Dia melepas tangan Arsyad. "Maaf..." lalu menutup mulutnya dan berlari keluar dari aula.
"Fara!!"
💞💞💞
.
Dedek bayi cuma mau sama Bapaknya.. 😂
.
__ADS_1
like dan komen ya...