
"Fara, gimana udah baikan nak?" tanya Pak Ridwan saat datang ke rumah sakit bersama kedua orang tua Aslan.
"Udah Ayah. Fara gak papa. Cuma efek kaget kemarin dengar kabar Mas Aslan kecelakaan." kata Fara yang kini sedang duduk bersandar di brangkarnya.
"Kamu jaga diri baik-baik. Kamu harus bisa kontrol emosi kamu karena sekarang ada kehidupan baru di perut kamu." kata Pak Ridwan sambil mengusap perut Fara.
"Iya Ayah." jawab Fara.
"Ayah gak sabar mau lihat cucu Ayah. Semoga lancar sampai lahiran nanti ya." kata Pak Ridwan. Kini dia tersenyum merasakan tendangan kecil dari perut Fara.
"Iya, amin." kemudian Fara merapa pipi Ayahnya yang terlihat tirus itu. "Ayah kenapa sekarang kurusan gini? Ayah sakit lagi?" tanya Fara. Karena setelah dia tinggal bersama Aslan, Ayahnya selalu bilang dia sehat dan baik-baik saja. Fara tahu penyakit Ayahnya tidak bisa sembuh begitu saja.
Pak Ridwan menggelengkan kepalanya. "Ayah gak papa. Ayah sehat-sehat saja. Jangan memikirkan Ayah. Kamu fokus sama kandungan kamu saja ya."
"Pak Ridwan kayaknya cucu kita cewek." kata Pak Robi yang sedang duduk di sofa bersama Aslan. Dia ingin mencairkan suasana.
"Tidak. Saya yakin, cucu kita laki-laki." kata Pak Ridwan dengan yakin. "Nanti kalau cucu Ayah beneran laki-laki kamu beri nama Arya Mahesa ya. Artinya adalah seorang pemimpin yang besar dan berkuasa layaknya raja hutan."
Fara memutar bola matanya, nama itu tak jauh-jauh dari singa. "Ayah, nanti Fara jadi punya dua singa."
Seketika kedua orang tua Aslan dan Ayah Fara tertawa.
"Gak papa. Kan kamu pawang singa." celetuk Aslan.
"Tuh, Aslan sekarang benar-benar sudah jinak. Ketemu pawangnya." Bu Lani tertawa lebar. "Tapi bagi Mama mau cucu cowok atau cewek gak masalah. Kalau memang lahir cowok ya gak papa nanti coba lagi yang kedua siapa tahu cewek." Bu Lani menyenggol bahu putranya yang membuat pipi Aslan memanas.
"Ih, apaan sih Ma." karena sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya dia juga ingin. Ya, ingin segera mengulang rasa nikmat itu lagi.
"Jangan gitu. Gak enak punya anak satu. Banyakin sekalian mumpung masih muda."
Aslan menatap Fara penuh arti sedangkan Fara hanya menatap tajam Aslan dan sarat akan ancaman.
...***...
Dua bulan pun berlalu. Memasuki trimester kedua, rasanya Fara semakin malas untuk melakukan suatu hal. Dia seringkali merasakan pinggangnya yang pegal. Jalan juga sudah berat.
__ADS_1
"Sayang, daripada bosan di rumah dan malas gini kamu jalan-jalan gih sama teman-teman kamu." kata Aslan karena sejak pagi hanya melihat Fara yang bergelung dengan selimut.
Fara akhirnya duduk dengan malas. "Jalan-jalan kemana? Nanti kaki aku pegal."
"Ya, terserah kamu. Belanja atau apa? Biar diantar Pak Yanto soalnya aku ada meeting." kata Aslan, dia kini tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
Fara turun dari ranjang dan memeluk Aslan dari samping. "Sama Mas Aslan aja yuk jalan-jalannya."
"Hari ini aku gak bisa." Aslan mencium kening Fara yang sedang mendongak menatapnya. "Besok-besok saja ya kalau jalan-jalan sama aku."
"Iya sih, tadi teman-teman pada ngajakin ngumpul di kafenya Ayla."
"Ya udah datang saja. Biar diantar Pak Yanto."
Fara mengangukan kepalanya lalu melepas pelukannya.
"Mas Aslan cepat pulang ya. Jangan sampai malam. Nanti aku kangen."
Aslan tersenyum mendengar kemanjaan Fara. Semakin hamil besar Fara semakin tidak mau Aslan tinggal. Bahkan saat di kantor pun, Fara seringkali menelepon Aslan agar segera pulang.
Aslan melepas tautan bibirnya lalu mengusap bibir Fara yang basah. "Bentar aja. Aku mau ke kantor. Kalau tegangannya tinggi berbahaya." Aslan terkekeh kecil lalu mencium kedua pipi Fara dan beralih ke perut Fara. "Ayah berangkat kerja dulu ya. Baik-baik sama Mama."
Setelah memakai jasnya dan membawa tasnya, Aslan keluar dari kamar yang diantar Fara sampai depan rumah.
Fara melambaikan tangannya seiring kepergian mobil Aslan.
Baru saja Fara akan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, Ayla beserta kedua temannya datang dan berteriak memanggil Fara.
"Fara!!!" mereka bertiga segera berjalan mendekati Fara.
"Kalian kok ke sini. Katanya ngumpul di kafe Ayla." kata Fara sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Kita berubah pikiran. Kita harus susulin lo karena kita tahu bumil satu ini sekarang mager." kata Ayla sambil merangkul Fara masuk ke dalam rumah.
"Kita semua mau ke rumah Ayla, belajar masak sama chef Ayla." kata Lili.
__ADS_1
"Baru beberapa bulan kuliah memang sudah jadi chef?" Fara mengerutkan dahinya, benarkah Ayla sudah sehandal itu.
"Curang dia, masak dia pakai akun youtube bokapnya buat vlog. Subscriber udah ratusan ribu. Bisa kaya mendadak."
Ayla tertawa dengan keras. "Ini tuh warisan pertama dari bokap gue karena gue mau masuk fakultas boga. Ternyata habis gelap terbitlah terang."
Mereka masih asyik mengobrol sambil masuk ke kamar Fara.
"Bumil sekarang siap-siap pakai baju yang cantik nanti kita buat vlog di rumah. Siapa tahu bisa trending nanti gue kasih bagian buat kalian semua. Terutama buat bumil kita satu ini." kata Ayla sambil duduk di tepi ranjang.
Fara kini sibuk memilih pakaiannya yang ada di lemari. Dia yang awalnya mager tapi karena kedatangan ketiga sahabatnya jadi bersemangat lagi.
"Far, ngomong-ngomong lo masih pisah ranjang sama Pak Aslan?" tanya Lili sambil merebahkan dirinya di atas ranjang Fara. "Pak Aslan gak pernah tidur di sini kan? Nanti gue kena sawan, apalagi kalau bekas ninu ninu."
Seketika Lili mendapat satu lemparan bantal dari Nia. "Gak usah bahas masalah privasi."
Fara hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lalu dia mengambil dress yang dia beli bersama Aslan untuk yang pertama kalinya dulu. "Udah tiduran aja gak papa. Kamar Mas Aslan di sebelah. Kalau malam gue juga tidur di sana."
Seketika Ayla melempar tubuhnya ke atas ranjang. "Gue gak bisa bayangin tiap malam lo ditemani Pak Aslan. Pasti tiap hari melewati malam yang panas."
Fara masih saja tersenyum kecil. "Gue gak pernah ngapa-ngapain. Cuma tidur bareng aja." kata Fara sambil berlalu ke kamar mandi.
Sedangkan ketiga temannya hanya melongo.
"Gak pernah ngapa-ngapain. Kasihan Pak Aslan dianggurin." mereka mulai bisik-bisik setelah Fara menutup pintu kamar mandi.
"Masak iya, cuma lakuin sekali dan langsung jadi sampai sekarang gak pernah asah lagi. Bisa karatan punya Pak Aslan."
"Nanti kita stimulasi yuk biar malam ini jadi malam spesial buat mereka."
Mereka bertiga masih bisik-bisik sambil sesekali cekikikan.
💞💞💞
.
__ADS_1
Like dan komen ya...