
"Sayang, kamu mau langsung lanjut S2?" tanya Aslan saat dia sedang bermalasan dengan Fara di kamarnya saat siang hari itu.
Fara terdiam beberapa saat. "Pengennya sih. Biar aku cepat bisa jadi Dosen."
"Gimana kalau kamu pemanasan jadi guru dulu di sekolah SMA sambil lanjut kuliah," kata Aslan memberinya ide.
Seketika Fara tersenyum dan memeluk Aslan. "Iya, benar apa kata Mas Aslan. Aku bisa sambil mengajar juga di sekolah. Besok mau siapin surat lamaran dulu."
"Ngapain pakai surat lamaran? Besok aku langsung hubungi Pak Widodo kamu tinggal datang saja. Sudah beres."
Fara mencubit kedua pipi Aslan. "Iya, lupa kalau sekolahnya milik Mas Aslan."
"Belum, masih milik Papa kalau sekolahnya." Aslan mengeratkan pelukannya dan menciumi pipi Fara. "Kalau kamu mau, nanti minta sama Papa." kata Aslan sambil tertawa.
"Ih, itu bukan bagian aku." Fara kini melepas pelukan Aslan lalu memandang langit-langit kamarnya. "Sampai kapan kita malas-malasan kayak gini Mas?"
Aslan tersenyum kecil lalu merapikan rambut Fara yang berantakan karena dia tidak menyisir rambutnya seharian. "Gak tahu, aku mau ngerasain pengantin baru lagi. Mumpung Arya juga lagi menginap di rumah Mama."
"Pengantin baru?" Fara tertawa kecil. "Pengantin lama kali. Kita sudah lima tahun lebih menikah."
Aslan masih saja tertawa. Ya, memang usia pernikahannya sekarang sudah lima tahun. "Gak terasa ya udah lima tahun aja. Dan kamu tetap buat aku kecanduan. Tiap hari terasa seperti pengantin baru malah rasanya aku semakin mau mau terus." Aslan mengecup singkat bibir Fara.
Fara hanya tersenyum kecil. Jelas saja semakin ke sini Aslan semakin buas ditambah Fara sendiri yang sudah tidak malu lagi mengekspresikan semua yang dia rasakan.
"Gak terasa aku juga sudah berumur 31 tahun." Aslan tersenyum kecil. "Saat aku menginjak kepala tiga, rasanya jadi terpaut jauh sama kamu."
"Aku kan juga hampir 24 tahun. Umur kita cuma terpaut 7 tahun."
"Nanti kalau aku sudah tua terlebih dulu, kamu tetap sayang kan sama aku?"
"Ya, jelas dong. Sampai kapanpun aku akan tetap sayang sama Mas Aslan." Fara menyingkirkan rambut yang menutupi dahi Aslan. "Mas Aslan itu awet muda. Masih gak kelihatan kalau sudah kepala tiga. Masih ganteng."
Aslan semakin memeluk Fara dan menaikkan Fara di atas tubuhnya. "Kamu juga gak kelihatan kalau sudah punya anak TK. Kelihatan kayak masih gadis. Makanya aku selalu berwaspada ngawasin kamu."
"Ih, yang penting hati aku sudah penuh ditempati Mas Aslan sama Arya."
Kemudian Aslan mengusap punggung Fara. "Sayang buat dedek lagi yuk."
__ADS_1
"Mas Aslan dari tadi pagi udah berapa kali?"
"Baru dua kali."
"Tapi durasinya?" Fara memutar bola matanya karena dia merasa tidak sanggup mengimbangi tenaga Aslan meskipun rasanya bisa membuatnya melayang tapi setelah melakukannya dia merasa lemas dan tak berdaya setelah mencapai puncak berkali-kali.
Aslan hanya tertawa lalu dia menurunkan Fara lagi dari tubuhnya. Dia kini bangun dan duduk di tepi ranjang. "Ya udah kamu tidur saja. Lanjut nanti malam ya. Aku lupa ada satu dokumen yang harus aku periksa."
Aslan berdiri lalu mengambil laptopnya.
Fara hanya menatap punggung yang sekarang duduk dan sedikit membungkuk itu. Dia tersenyum kecil lalu beberapa saat kemudian dia memejamkan mata dan tertidur.
Aslan kini menoleh Fara yang sudah tidak bersuara lagi. "Istri nakal udah tidur. Pasti capek." Aslan tersenyum kecil lalu dia melanjutkan pekerjaannya.
...***...
Sejak Fara mengajar di sekolahnya, setiap pagi Fara berangkat ke sekolah sambil mengantar Arya ke sekolah TK nya terlebih dahulu. Tentu saja bersama Aslan yang selalu setia menyopirinya kemanapun Fara pergi selama dia bisa.
"Sayang, nanti pulang di jemput sama Bu Rita ya." Fara mencium kedua pipi Arya setelah mengantarnya masuk ke dalam gerbang sekolah.
"Iya, Ma."
"Iya, Mama." kemudian Arya bergabung dengan teman sebayanya setelah melambaikan tangannya pada Fara.
Fara tersenyum kecil menatap putranya yang sekarang sudah semakin besar. Kemudian dia membalikkan badannya dan kembali masuk ke dalam mobil. Dia melihat Aslan yang sedang menyandarkan kepalanya di pengemudi.
"Mas kenapa?" tanya Fara sambil menyentuh pundak Aslan.
Aslan menegakkan dirinya sambil memijat pelipisnya sendiri. "Gak tahu, tiba-tiba kepala aku pusing banget."
"Tadi pagi kan gak papa." Fara mengecek suhu tubuh Aslan yang memang terasa hangat. "Kalau gak enak badan Mas Aslan istirahat saja di rumah."
"Sekarang ada rapat penting. Nanti biar aku minum obat di kantor."
"Ya udah, makanya jangan bergadang terus tiap malam. Pasti kecapekan."
Aslan tersenyum lalu menjewer pipi Fara. "Bergadangnya juga sama kamu." Kemudian Aslan kembali melajukan mobilnya menuju sekolah. "Nanti kalau meetingnya sudah selesai aku langsung pulang. Kalau masih ada waktu aku jemput kamu ya."
__ADS_1
"Oke."
"Gimana? Anak-anak tahun sekarang nakal-nakal gak?" tanya Aslan.
Setelah satu minggu mengajar di sekolahnya Fara bisa merasakan kenakalan mereka yang sebatas wajar saja. Masih jauh nakal dan bandel zamannya dulu. "Biasa aja sih, Mas. Malah mereka cenderung penurut. Masih nakal-nakal zaman aku dulu." Fara tersenyum kecil. Dia akui dulu dia memang sangat bandel.
"Memang iya. Termasuk istri aku nih bandel banget."
"Iya." Fara semakin tertawa.
"Tapi waktu itu sekolah kita dapat nilai terbaik satu provinsi. Dan setelah itu belum ada yang menandingi lagi."
"Iya, Arsyad memang hebat. Tapi sebenarnya aku juga hebat, karena waktu itu banyak masalah sama Mas Aslan jadinya aku gak bisa konsentrasi dan nilai aku turun semua."
"Nah, kan jadi aku." Aslan menghentikan mobilnya di depan sekolahnya. "Aku harus menggantinya dengan apa nih?"
Fara menggelengkan kepalanya. "Nggak perlu. Sekarang aku sudah punya semuanya." Fara mencium pipi Aslan sebelum dia turun tapi Aslan justru menahannya dan mencium singkat bibir Fara. Meski singkat sudah membuat bibir itu basah.
"Mas, ih, nanti ada yang lihat."
"Nggak ada, kacanya gelap," kata Aslan sambil menutup mulutnya karena tiba-tiba perutnya terasa sangat mual. "Sayang, aku mau ke toilet."
Fara dan Aslan turun dari mobil. Aslan segera berlari menuju toilet yang berada di dekat pos satpam.
"Mas," Fara berhenti di dekat pintu saat melihat Aslan sudah berkumur dan membersihkan bibirnya. "Mas, periksa aja kalau sakit."
Aslan menggelengkan kepalanya. "Udah, aku gak papa. Kayaknya barusan kekenyangan. Sekarang udah hilang mualnya."
Fara hanya menatap heran pada Aslan. "Tapi nanti kalau masih mual lagi atau pusing langsung periksa ke Dokter."
"Iya, ya udah aku berangkat dulu." Aslan keluar dari gerbang setelah sebelumnya menyapa pak satpam yang sedang berdiri di dekat gerbang.
💞💞💞
.
Like dan komen ya...
__ADS_1
.
Menjelang akhir, apakah masih ada yg baca?? 😌