Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 84


__ADS_3

Pagi itu Fara masih saja menekuk wajahnya karena Aslan tetap melarangnya untuk ikut demo. Setelah selesai merawat Arya dan sarapan Fara berangkat ke kampus bersama Aslan.


"Mukanya kok masih cemberut gitu." Aslan mencubit pipi Fara yang masih sesekali menggembung itu.


Fara mengelak. Dia kini melipat tangannya sambil bersandar di jok mobil saat berangkat menuju kampus. Dia hanya terdiam saja.


"Ya udah, kalau ngambek. Ini juga demi kebaikan kamu. Setelah kelas selesai nanti langsung pulang, gak boleh kemana-mana." pesan Aslan.


Fara tak menjawabnya. Setelah mobil berhenti, Fara mencium punggung tangan Aslan lalu keluar dari mobil.


Aslan hanya berdecak sambil menatap Fara yang kian menjauh. "Far, Far, kayaknya hari ini aku harus awasi kamu."


Aslan memundurkan mobilnya dan menepi lalu dia menghubungi seseorang untuk membereskan pekerjaannya.


Sedangkan Fara berjalan masuk ke dalam kampusnya. Semua sudah sibuk mempersiapkan segala macam atribut demo, mulai dari spanduk dan slogan. Fara berjalan mendekat ke lapangan dan melihat Ayla yang sedang menghapalkan orasinya.


"Far, gimana? Lo jadi ikut kan?" tanya Lili.


Fara menggelengkan kepalanya pelan. "Mas Aslan gak ngizinin."


Ayla yang sudah hapal orasinya kini berjalan mendekati sahabatnya yang sepertinya tidak jadi ikut itu. "Rayuan lo kurang maut mungkin."


"Udah sampai gue tawarin yang enak-enak juga tetap gak diizinin." Fara memanyunkan bibirnya. Sebenarnya dia cuma ingin ikut sebentar demo itu lalu pulang sebelum bubar.


"Kali ini aja, lo diam-diam ikut aja deh. Sama Lili tuh, di belakang kalau mau cepat pulang." kata Ayla yang mulai memprovokasi.


"Takut dosa gue. Durhaka sama suami."


"Iya, Far. Lo sama gue aja di belakang. Paling lama cuma satu jam, habis itu kita pulang." Lili juga tak kalah kompornya dengan Ayla.


Fara nampak berpikir. Ikut tidak ya? Rasanya dia ingin sekali ikut dan merasakan pengalaman baru, tapi bagaimana kalau Aslan sampai mengetahuinya lalu marah padanya. Ketika singa sedang marah sangat menakutkan.


"Ih, kelamaan. Ikut aja. Sekarang lo masuk kelas dulu. Nanti setelah kelas selesai kita tungguin lo di lapangan."


Kali ini setan di diri Fara yang menang. Sepertinya dia akan menuruti ajakan sahabatnya.

__ADS_1


Maaf ya Mas Aslan, kali ini Fara gak nurut. Sekali ini saja. Semoga Mas Aslan gak sampai tahu.


...***...


Fara tak menyangka kini dia berdiri di deretan para demonstran sambil memegang sebuah slogan. Teriakan-teriakan mereka yang berunjuk rasa meminta penurunan harga BBM mulai terdengar keras. Meski panas matahari sangat menyengat dan berdesakan-desakan tak menyulutkan semangat para demonstran dari seluruh kampus.


Halaman gedung DPR sampai jalur utama sudah dipenuhi mahasiswa yang berjas aneka warna itu.


"Far, lihat tuh Ayla, PD banget naik ke atas pagar dan berorasi dengan ketua BEM." kata Lili yang kini bisa melihat Ayla dari kejauhan karena dia memanjat pagar bersama ketua BEM dan perwakilan lainnya.


"Demi mencari pangeran." Fara tertawa bersama Lili saat mengingat kalau Ayla sangat optimis akan bertemu dengan seseorang yang telah menolongnya dulu.


Mereka semua berteriak dengan kompak tentang apa yang mereka tuntut. Sampai tak terasa hampir satu jam sudah Fara berada di tempat itu.


Tak jauh dari Fara ada seseorang yang terus mengamatinya. Dia sampai rela menyamar menjadi seorang mahasiswa dan memakai jas almamater yang sama dengan Fara. Agar semakin tidak dikenali, dia juga memakai topi. Beberapa kali dia melihat jam yang ada di tangannya lalu menggelengkan kepalanya.


Istri nakal. Kalau udah ikut demo gini lupa sama anak dan suami. Udah satu jam dia tidak juga mundur dari barisan. Harus banget aku tarik mundur.


Sejak pagi Aslan memang sengaja stay di depan kampus Fara. Benar saja dugaannya, istri tersayangnya itu ikut demo meski dia tidak mengizinkannya. Dia sampai meminjam almamater kampus itu agar bisa terus mengikuti Fara.


"Iya, seru banget." jawab Fara yang tidak menyadari bahwa yang di sebelahnya itu adalah suaminya.


"Gak takut kalau ketahuan sama suaminya?"


Seketika Fara berhenti tertawa. Wajahnya menegang saat menyadari suara itu. Dia menoleh dan membuka topi Aslan. "Mas Aslan!"


Lili yang mendengar suara terkejut Fara seketika menoleh. Sepertinya akan ada sebuah pertengkaran dalam rumah tangga. Lebih baik dia mundur teratur. Meskipun dia yang mengajak Fara tapi dia lepas tangan. Begitulah ciri-ciri sahabat yang baik.


"Mas Aslan kenapa bisa di sini? Ngapain pakai almamater segala." kata Fara sambil menatap Aslan.


Mendapati pertanyaan dari Fara, Aslan merasa sangat gemas. "Kamu tanya aku ngapain di sini? Kamu yang ngapain di sini? Kan udah jelas aku larang."


"Hmmm, itu anu..." Fara menundukkan pandangannya. Dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Sengaja aku biarin ternyata sampai satu jam belum juga mundur dari barisan."

__ADS_1


Fara menggigit bibir bawahnya karena suara Aslan mulai memancing perhatian teman-temannya.


"Sekarang kita pulang." Aslan menarik tangan Fara dan memecah kerumunan agar dia dan Fara bisa keluar.


"Ih, Mas malu sama teman-teman jangan posesif gini dong."


Aslan hanya diam sambil terus menarik tangan Fara menuju mobilnya yang dia parkir lumayan jauh dari tempat itu.


Setelah sampai, mereka berdua segera masuk ke dalam mobil.


"Mas, iya maaf aku salah. Jangan marah. Aku cuma bentar." kata Fara, mendapat tatapan amarah dari Aslan dia merasa takut.


Aslan melepas jas almamater itu lalu melemparnya ke jok belakang. "Cuma sebentar tapi sampai satu jam. Gak mikir anak nungguin di rumah. Gak mikir aku yang khawatir sama kamu. Kalau aku bilang gak boleh ya gak boleh."


"Iya maaf Mas aku salah. Aku cuma pengen ngerasain aja demo tuh kayak gimana?" Fara menundukkan pandangannya sepertinya Aslan benar-benar marah padanya.


"Lain kali jangan diulangi lagi."


"Iya." jawab Fara dengan pelan.


"Aku ngerti kamu butuh hiburan. Kamu lelah habis kuliah terus merawat Arya di rumah. Begitu terus setiap hari pasti kamu merasa bosan. Tapi gak harus ikut demo juga. Aku gak bisa bayangin kalau mereka tiba-tiba rusuh, terus kamu kenapa-napa. Gak hanya satu dua orang yang ikut tapi ratusan bahkan sampai ribuan, nanti kalau kamu jatuh terus keinjak-injak gimana? Masih ada Arya yang sangat membutuhkan kamu dan aku juga." Aslan tak juga menjalankan mobilnya. Dia justru menceramahi Fara terlebih dahulu.


"Iya Mas, aku salah. Aku gak akan kayak gini lagi."


Aslan menghela napas panjang lalu dia merengkuh tubuh Fara. "Aku juga minta maaf. Aku memang terlalu posesif sama kamu. Semua ini aku lakukan karena aku takut kamu kenapa-napa lagi."


Fara mengangguk pelan. "Iya Mas, aku ngerti."


Aslan meregangkan pelukannya lalu mencium kening Fara. "Ada satu hukuman buat kamu."


💞💞💞


.


😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2