Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 38


__ADS_3

Setelah Fara dipindah ke ruang rawat, dia belum juga sadarkan diri.


Aslan berdiri di dekat brangkar Fara, dia usap puncak kepala Fara. Rasanya dia sudah tidak sanggup lagi mempertahankan Fara jika Fara terus seperti ini. Sudah dia lakukan berbagai cara untuk mempertahankan Fara, tapi semakin hari justru tindakannya seolah membuat batin Fara tersiksa.


Aslan menghela napas panjang lalu keluar dari ruangan dan duduk di lorong rumah sakit. Dia ambil ponselnya lalu menghubungi Mamanya.


"Hallo Ma, Fara masuk rumah sakit lagi... Mama bisa ke sini, aku mau bicara sesuatu... Iya..." Setelah itu Aslan menutup panggilannya lalu menyimpan ponselnya kembali di sakunya. Dia usap wajahnya yang sangat kusut itu lalu dia berdiri dan masuk ke dalam ruangan Fara. Terlihat Fara sudah tersadar dan duduk di tepi brangkar.


"Far, mau apa? Aku ambilkan. Atau mau ke kamar mandi?" pertanyaan Aslan sama sekali tidak dijawab, Fara hanya menatap kosong jendela rumah sakit dengan tirai yang telah tertutup karena hari mulai gelap.


Melihat Fara yang seperti ini hati Aslan semakin teriris. Dia berlutut di hadapan Fara dan bersimpuh di pangkuannya. Tangis yang sedari tadi dia tahan, kini telah pecah. "Fara, aku mohon jangan siksa diri kamu seperti ini. Aku yang salah. Kamu hukum saja aku, jangan hukum diri kamu apalagi janin yang ada di kandungan kamu, dia tidak tahu apa-apa. Dia tidak salah apa-apa dan dia butuh kekuatan kamu. Aku mohon, kamu berjuang demi janin yang ada di perut kamu bukan buat aku."


Aslan masih terisak di pangkuan Fara. Mata Fara yang sedari tadi menatap kosong jendela kini beralih menatap punggung Aslan yang bergetar hebat. Bahkan celananya sudah terasa basah karena air mata Aslan.


"Aku pernah bilang sama kamu, aku akan mempertahankanmu sampai aku merasa lelah dan tidak sanggup, sekarang aku benar-benar merasa tidak sanggup melihat keadaan kamu yang seperti ini. Nanti ketika anak kita sudah lahir, biar dia sama aku. Aku akan melepasmu. Aku tidak akan lagi menghalangi hidup kamu. Kamu bisa bebas meraih impian kamu." Aslan mengusap asal air matanya lalu dia mendongak dan menatap Fara. "Dan sekarang aku mohon, kamu makan ya, agar calon anak kita bisa bertahan. Meskipun kamu bilang, anak ini hasil dari keterpaksaan tapi aku sangat menyayanginya."


Fara hanya menatap mata Aslan yang berurai air mata. Seseorang yang dia kenal sangat pemarah dan galak seperti singa, sekarang justru bersimpuh di hadapannya sambil menangis dan memohon. Tentu, hatinya sekarang sedikit tersentuh.


"Sekarang kamu makan ya," kata Aslan lagi.


Akhirnya Fara menganggukkan kepalanya pelan.

__ADS_1


Aslan mengusap air matanya lalu dia mengambil makanan yang sudah tersedia di atas nakas. Kemudian dia duduk di dekat Fara dan mulai menyuapinya.


Akhirnya kali ini Fara tidak menolak. Dia menerima suapan demi suapan dari Aslan dengan lahap. Rasa sesak di dada Aslan sedikit luruh melihat Fara yang sudah mau makan sampai habis.


"Minum dulu, sama minum vitaminnya." Aslan membantu Fara minum. Setelah selesai dia membantu Fara berbaring di atas brangkar dan menyelimutinya. "Sekarang kamu istirahat. Semoga keadaan kamu besok jauh lebih baik." Aslan mengusap puncak kepala Fara agar dia cepat tertidur.


Fara hanya menatap langit-langit tanpa bersuara, beberapa saat kemudian dia mulai memejamkan matanya dan tertidur.


"Aslan." panggil Bu Lani sangat pelan sambil berjalan perlahan mendekati brangkar. "Bagaimana keadaan Fara?" tanyanya.


Aslan hanya menggeleng pelan lalu mengajak Mamanya mengobrol di luar ruangan. Mereka berdua kini duduk di lorong rumah sakit.


"Ma, aku mau minta maaf." kata Aslan sambil menundukkan pandangannya. Dia harus jujur tentang semuanya pada Mamanya.


"Minta maaf buat apa?" tanya Bu Lani tak mengerti.


Aslan terdiam beberapa saat. Dia menghela napas panjang sebelum akhirnya dia bercerita yang sebenarnya. "Aku mau cerita sama Mama tapi Mama jangan potong cerita aku sebelum selesai."


"Iya, kamu cerita biar hati kamu lebih tenang."


"Sebenarnya dari awal Fara menganggap pernikahan ini cuma pura-pura." kata Aslan mulai bercerita.

__ADS_1


Bu Lani sedikit terkejut tapi dia membiarkan Aslan melanjutkan ceritanya.


"Aku terpaksa mengiyakan keinginan Fara agar dia mau menikah denganku, selain untuk mewujudkan keinginan Ayah Fara dan Mama, sebenarnya aku sudah jatuh cinta pada Fara sejak pandangan pertama. Aku mengira seiring berjalannya waktu aku bisa membuat Fara jatuh cinta juga, tapi ternyata aku salah. Fara masih tetap ingin bersama pacarnya dan itu membuat aku cemburu dan marah."


Aslan menyusut ujung matanya yang telah mengembun karena teringat kejadian yang telah lalu itu. "Sampai aku memaksa Fara untuk berhubungan lalu Fara hamil. Dia sebenarnya tidak mau hamil, sampai dia menyiksa dirinya sendiri tidak mau berusaha untuk makan dan minum. Ini kesalahan aku, Ma." Air mata Aslan semakin mengalir. "Janin yang ada di perut Fara sampai sekarang belum terdeteksi detak jantungnya dan nyaris malnutrisi."


Bu Lani kini memeluk Aslan. Dia sama sekali tidak tahu tentang hal ini. "Ini bukan salah kamu tapi ini salah Mama yang sudah memaksa kamu."


"Ma, jika nanti anak aku lahir, biar dia sama aku ya. Aku akan membesarkannya sendiri. Aku akan melepas hidup Fara. Sebenarnya aku sangat ingin mempertahankan Fara tapi aku gak mau terus menyiksa batin Fara seperti ini."


Bu Lani terus mengusap punggung putranya. Perpisahan memang bukan jalan yang terbaik tapi jika salah satu dari mereka ada yang menderita karena hubungan itu, sebuah hibungan tidak akan bisa bertahan.


"Iya kamu bicara sama Fara secara baik-baik ya. Kali ini Mama tidak akan ikut campur. Mama akan terima apapun keputusan kalian. Mama juga akan bantu bilang pada Pak Ridwan jika mungkin nantinya kalian tidak bisa bersama." Bu Lani meregangkan pelukannya lalu menatap putranya. "Tapi Mama masih ingin kalian bisa bersama. Mama akan selalu berdo'a semoga pintu hati Fara terbuka untuk kamu."


"Amin, Ma. Do'a kan juga semoga calon cucu Mama sehat dan dapat berkembang dengan sempurna."


"Iya, Mama akan selalu berdo'a buat kalian semua."


Setelah selesai mengobrol mereka berdua masuk ke dalam ruangan Fara.


"Mama temani di sini ya malam ini." Bu Lani kini duduk di dekat brangkar Fara, lalu dia mengusap lembut puncak kepala Fara. Setelah kejujuran Aslan, dia tidak marah pada Fara. Dia mengerti, semua ini terlalu dini untuk Fara lalui.

__ADS_1


__ADS_2