
Seketika Aslan memeluk Fara dengan erat. "Aku sayang kamu Far. Aku sayang banget sama kamu."
"Mas, perut aku kejepit nih." Fara sedikit mendorong Aslan karena Aslan memeluknya terlalu erat.
Aslan merenggangkan pelukannya. Dia menatap dalam kedua mata Fara. "Kalau hasilnya kayak gini, kenapa gak dari dulu aja aku kecelakaan."
"Ih, jangan ngomong gitu. Aku khawatir banget. Aku gak mau Mas Aslan kenapa-napa karena sebenarnya aku..." Fara menghentikan perkatannya. Mereka berdua kini bertatapan lekat. "Aku cinta sama Mas Aslan."
Aslan tersenyum dengan mata berkacanya. Akhirnya doa-doanya di sepertiga malam itu kini terkabul. Rasanya dia ingin bersujud syukur karena Fara kini telah membalas rasa cintanya. "Are you seriously?" tanya Aslan lagi untuk memastikan.
Fara menganggukkan kepalanya.
Aslan menyusut air mata yang hampir saja menetes. Lalu dia menciumi kedua pipi Fara dan juga keningnya. "Makasih sudah membalas perasaan aku."
Fara menggeleng kecil. "Aku yang seharusnya berterima kasih sama Mas Aslan karena sudah sangat sabar menghadapi aku. Sudah mau memberi aku waktu untuk mengartikan perasaan aku." Fara kini berpegangan lengan Aslan dan duduk di tepi brangkar. "Kaki aku pegal, tadi jalan buru-buru ke sini."
"Maaf ya. Kamu sekarang pulang saja, istirahat di rumah. Kamu sama Pak Yanto kan?"
"Iya, sama Bi Sri lagi nunggu di lorong. Aku mau di sini saja nemeni Mas Aslan. Aku gak bisa tidur kalau gak ada yang nemeni."
"Ya sudah kalau begitu aku pulang saja. Aku gak mungkin biarkan kamu tidur di sini. Luka aku juga gak parah." kata Aslan. Karena yang sakit hanya kakinya saja.
"Beneran gak papa? Kakinya luka-luka gini." Fara melihat beberapa luka di kaki Aslan karena saat keluar Aslan hanya memakai celana selutut. "Gimana bisa jatuh sih? Mas ngebut?"
"Tadi jalannya ada lubang aku gak tahu. Jadinya jatuh." cerita Aslan singkat.
"Lain kali hati-hati. Bawa mobil aja kalau keluar."
"Iya sayang."
Pipi Fara seketika memerah mendengar panggilan sayang itu. "Ih, kok panggil sayang."
"Ya kan, kesayangan Mas Aslan." kemudian Aslan mengusap perut Fara. "Tumben agak kencang gini."
"Iya. Soalnya tadi aku kaget banget terus jalan buru-buru. Ini aja rasanya kaku."
__ADS_1
"Ya udah, kamu duduk di sofa dulu. Tenangin diri kamu dan minum air putih dulu. Terus pulang."
Fara menuruti perkataan Aslan. Dia kini duduk di sofa sambil mengambil sebotol air mineral lalu meminumnya.
Sedangkan Aslan kini memanggil dokter dengan memencet tombol emergeny. Beberapa saat kemudian Dokter yang menanganinya datang. Karena permintaan Aslan akhirnya dia diperbolehkan untuk pulang.
Kini dengan bantuan Pak Yanto, Aslan berjalan menuju tempat parkir. Setelah mereka semua masuk ke dalam mobil, mobil mereka segera melaju pulang ke rumah.
Saat di dalam mobil, Fara masih saja memeluk Aslan. Hatinya terasa lega karena sudah tidak ada yang mengganjal perasaannya. Semua sudah terungkap.
Aslan berulang kali menciumi puncak kepala Fara. Mendapat balasan perasaan dari Fara seperti mimpi baginya. "Far, kamu sudah makan?"
Fara menggelengkan kepalanya.
"Bentar lagi sampai rumah langsung makan ya."
Fara hanya mengangguk. Badannya sekarang terasa lemas. Entah karena telat makan atau karena rasa terkejut tadi.
Beberapa saat kemudian mobil itu berhenti di depan rumah Aslan. Dengan bantuan Pak Yanto, Aslan turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
Fara dan Aslan kini duduk di meja makan. Bi Sri segera menyiapkan makanan untuk kedua majikannya itu.
Aslan hanya tersenyum. Lalu dia menerima suapan pertama dari Fara. Setelah menyuapi Aslan, Fara berganti menyuapi dirinya sendiri dengan satu sendok yang sama tentunya.
Setelah satu piring habis, Fara menambahnya lagi karena perutnya masih terasa sangat lapar.
"Far, aku udah kenyang kamu aja yang habisin."
"Gak mau. Aku maunya makan bareng Mas Aslan."
Akhirnya Aslan mau menerima suapan itu lagi. Apa keinginan dedek bayi sudah berganti dengan makan bareng dan sepiring berdua seperti ini?
"Jangan lupa vitaminnya diminum." kata Aslan mengingatkan Fara setelah makan malam mereka selesai.
Fara segera mengambil obat vitaminnya lalu meminumnya. Setelah itu dia berniat membantu Aslan berjalan ke kamar.
__ADS_1
"Far, aku bisa jalan sendiri."
Tapi Fara tak juga melepas rengkuhannya. "Besok kakinya dipijat saja, biar langsung sembuh. Ayah punya kenalan tukang pijat. Aku dulu juga pernah jatuh waktu naik sepeda, dipijat langsung sembuh."
"Aduh, pasti sakit." setelah sampai di kamar dia kini duduk di tepi ranjang sambil melihat pergelangan kakinya yang terbalut perban coklat.
"Ya emang sakit tapi langsung sembuh." Fara keluar dari kamar sesaat lalu dia kembali dan sudah memakai daster longgarnya. Kemudian dia beralih mengambil piyama untuk Aslan. "Mas ganti baju dulu."
Aslan menatap Fara sesaat. Entah kenapa pikiran kotor tiba-tiba muncul di benaknya. Apakah kenikmatan yang dulu sempat dia rasakan akan bisa dia rasakan lagi setelah Fara membalas cintanya. Slow, jangan terburu-buru.
"Gimana mau ganti celana? Kaki aku sakit." kata Aslan sambil melepas kaosnya lalu berganti piyama.
"Ya gak tahu Mas. Aku capek, aku mau tidur." Entah kenapa Fara menjadi salah tingkah. Dia kini merebahkan dirinya dan memunggungi Aslan.
Aslan masih saja tersenyum kecil. Lucu juga ekspresi Fara saat dia menggodanya. Dia akhirnya berganti celana sendiri tapi tentu sangat susah menggerakkan kakinya yang sakit. "Aww." Aslan membungkuk berusaha memasang celananya.
Mendengar suara Aslan yang kesakitan seketika Fara menoleh, lalu dia turun dari ranjang. "Sini aku bantu." meski dengan dada yang berdetak tak karuan, Fara membungkukkan badannya dan membantu Aslan memasukkan kakinya yang sakit ke dalam celana.
Fara terus menundukkan pandangannya. Dia tidak mau melihat sesuatu yang menonjol itu.
"Udah. Naikin sendiri." Fara kembali ke atas ranjang dan masih saja memunggungi Aslan karena pipinya masih terasa merah dan memanas. Beberapa siluet pemaksaan itu seolah tereka ulang di benaknya. Bukan nikmat yang dia rasakan tapi sakit yang teramat. Rasanya dia masih sangat trauma jika mengingatnya.
Satu tangan Aslan kini melingkar di perut Fara yang membuat Fara sangat terkejut.
"Aku gak mau!" kata Fara tiba-tiba.
"Kenapa?" seketika Aslan melepas pelukannya. Dia menarik bahu Fara agar menghadap ke arahnya. "Kamu kenapa? Kok kamu keringetan gini?" Aslan mengusap keringat yang membasahi pelipis Fara padahal dia tidak ada niat apa-apa pada Fara.
"Mas Aslan meskipun aku sudah mencintai Mas, tapi jangan minta hak Mas Aslan sekarang ya. Aku masih takut. Aku masih trauma. Aku masih butuh waktu." kata Fara dengan suara yang bergetar bahkan wajahnya saja sekarang terlihat pucat.
💞💞💞
.
Selamat berjuang lagi ya Aslan.. 😁
__ADS_1
.
Like dan komen ya...