Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 61


__ADS_3

"Mas, kayaknya ketubannya udah pecah." napas Fara semakin cepat. "Mas, aku udah gak bisa tahan ini udah mau keluar." Fara semakin mencengkeram kuat lengan Aslan.


"Ini sudah di tempat parkir." Aslan segera keluar dan membuka pintu. Dia segera menggendong Fara lalu berlari masuk ke dalam rumah sakit. "Dok, istri saya mau melahirkan, ketubannya sudah pecah." Aslan menurunkan Fara di atas brangkar dorong. Dua suster dan satu dokter yang menangani segera membawa Fara ke ruang bersalin.


Fara sudah beberapa kali mengejan karena dorongan itu semakin terasa.


"Bunda, tahan dulu sebentar." setelah sampai di ruang bersalin, Dokter itu segera memeriksa pembukaan. "Ubun-ubunnya sudah terlihat. Buka kakinya lebih lebar lagi letakkan di penyangga."


Fara kembali mengatur napasnya yang terengah.


"Tarik napas lalu buang. Jika sudah ada dorongan lagi, tarik napas dulu lalu tahan, segera mengejan dan ikuti alurnya. Kurang sedikit lagi."


Peluh semakin membanjiri pelipis Fara. Kuku-kuku tangannya semakin menancap di tangan Aslan.


Aslan tak peduli jika tangannya akan terluka karena cakaran dan cengkeram Fara. Melihat perjuangan Fara ini membuat rasa cintanya semakin besar untuk Fara. "Sayang, kamu hebat. Sedikit lagi kita akan bertemu dedek Arya."


Saat dorongan itu kembali terasa, Fara kembali mengejan dengan sekuat tenaganya. Beberapa detik kemudian suara tangisan bayi itu memenuhi ruang bersalin.


"Hebat sekali Bunda. Bayinya ndut dan tanpa robekan. Sempurna dan ganteng banget kayak Ayahnya." setelah mengelap tubuh bayi mungil itu, Dokter itu meletakkannya di dada Fara yang telah terbuka untuk melakukan inisiatif me nyu su dini dan skin to skin untuk pertama kalinya.


Fara menangis menatap bayi yang masih merah itu saat bergeliat lucu di dadanya. Dia teringat dulu dia sangat tidak menginginkan kehamilannya tapi sekarang dia merasa sangat menyayanginya. "Maafkan Mama ya sayang, dulu sempat menolak kehadiran kamu. Kamu adalah anugerah buat Mama. Kamu sudah memberi rasa cinta di hati Mama buat Ayah dan yang paling hebat, kamu tidak memberi rasa sakit pada Mama yang berlebih saat melahirkan. Makasih sayang. Mama akan selalu menyayangi kamu. Kelak jadi anak yang hebat dan berbakti pada orang tua ya."


Air mata Aslan yang sedari tadi terbendung, kini menetes mendengar kalimat Fara. Dia membungkukkan badannya dan menghapus air mata Fara. "Makasih." satu kecupan mendarat di pipi Fara lalu dia menatap putranya yang sudah berhasil menemukan sumber kehidupannya.


Aslan semakin mendekatkan kepalanya di telinga si bayi. Dia mengumandangkan adzan dengan lirih di dekat telinga kanan putranya lalu iqamah di telinga kirinya. Berharap selain berbakti kepada orang tua, dia juga akan menjadi orang yang taat beragama. Kemudian dia kecup pelan pipi itu. Kecupan pertama yang diberikan untuk putranya.


Sama halnya seperti Fara, kehadiran Arya adalah anugerah bagi Aslan. Saat Aslan sudah merasa lelah mempertahankan Fara, tapi ngidam nya Fara justru tidak bisa jauh darinya. Ingin selalu dia manja, hingga akhirnya Aslan berhasil mendapatkan hati Fara seutuhnya. Bahkan saat akan lahir saja, si bayi mungil itu menunggu setelah Aslan mencurahkan segala hasratnya untuk Fara.


"Mas, udah kasih kabar ke Mama?" tanya Fara sambil menikmati sentuhan kulit lembut di dadanya.


"Lupa sayang. Pasti Mama marah nih, soalnya Mama ingin banget menemani kamu lahiran." Aslan menegakkan dirinya. Kemudian dia berjalan keluar ruangan karena Dokter akan melakukan perawatan untuk ibu dan bayinya.

__ADS_1


Aslan kini duduk sambil menelepon Mamanya. Jelas saja, baru saja Aslan memberi kabar kalau Fara sudah melahirkam langsung kena marah mamanya.


"Iya Ma. Tadi subuh baru terasa sekarang udah lahir. Emang cepat banget cuma rentan waktu dua jam jadi gak ingat buat kabari Mama."


Aslan tersenyum kecil lalu mematikan panggilannya. Begitulah Mamanya yang pemarah tapi sangat penyayang.


Satu beban kini telah berkurang, karena putranya telah lahir dengan sehat begitu juga dengan Fara yang kondisinya sangat sehat bahkan tidak merasakan sakit berlebih.


Alhamdulillah, satu per satu doaku telah dikabulkan.


...***...


Setelah sampai di rumah sakit, Bu Lani langsung masuk ke dalam ruang rawat Fara.


"Fara, maafin Mama gak menemani kamu lahiran." Bu Lani langsung memeluk Fara yang sedang terbaring di atas brangkar.


"Tidak apa, Ma. Ada Mas Aslan yang menemani Fara."


"Ini gara-gara Aslan gak ngasih kabar Mama." Bu Lani melepas pelukannya lalu mengusap puncak kepala Fara.


"Mirip kamu banget loh." kata Pak Robi yang berdiri di sebelah Aslan.


Aslan hanya tersenyum kecil sambil menyentuh pelan pipi lembut itu.


"Sakit gak lahirannya? Moga gak kapok ya, soalnya Mama masih ingin punya cucu lagi." Bu Lani tertawa kecil.


"Ya sakit, Ma tapi gak terlalu. Prosesnya cepat banget. Alhamdulillah. Ini semua berkat doa Mas Aslan." pandangan mata Fara tertuju pada Aslan yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Syukurlah. ASI juga sudah keluar ya?"


Fara menganggukkan kepalanya. "Tadi saat IMD juga langsung bisa menghisap."

__ADS_1


Bu Lani tersenyum sambil mengusap puncak kepala Fara lagi. Fara sekarang jauh lebih dewasa dari awal Bu Lani bertemu dengannya. Ternyata Aslan benar-benar bisa mengubah Fara menjadi lebih baik seperti keinginan Almarhum Pak Ridwan.


"Aslan sini Mama mau lihat cucu Mama. Bisa gendong gak?" Bu Lani masih duduk di dekat brangkar Fara. Dia memang suka menggoda putranya.


"Bisa dong, Ma." Aslan meraih tubuh mungil itu dan mengangkatnya secara perlahan. "Meskipun aku gak punya adik, kalau sama anak sendiri ya bisa."


Meski terlihat kaku, tapi Aslan sudah bisa menggendongnya. Dia berjalan mendekati Mamanya lalu menurunkan putranya di pangkuan.


"Persis banget sama Aslan bayi." Bu Lani mencium pipi bayi itu. "Ganteng. Nanti besarnya pintar juga ya kayak Ayah kamu. Tapi jangan niru usilnya."


Aslan tersenyum mendengar celoteh Mamanya. Memang terkadang dia masih usil. Sekarang pun juga masih sama.


Bu Lani berdiri sambil membawa Arya dan duduk di sofa dekat suaminya.


Sedangkan Aslan kini duduk di dekat Fara. "Udah lapar lagi belum?" tanya Aslan. Dia kini mengambil puding yang ada di atas nakas.


Fara tersenyum. "Iya, mau."


Aslan membantu Fara untuk duduk.


"Aku bisa sendiri Mas. Badan aku rasanya udah enteng."


"Tetap aja, kamu masih dalam masa pemulihan." Aslan mulai menyuapi Fara. "Aku akan tetap memanjakan kamu meskipun kamu sudah gak hamil, karena bagi aku kamu ibu yang hebat."


Fara tersenyum mendengar kata-kata manis dari Aslan. Semoga saja setelah detik itu dan seterusnya hubungannya dengan Aslan akan tetap membaik seperti ini.


💞💞💞


.


Happy new year ya...

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen..


__ADS_2