Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 116


__ADS_3

Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, kondisi Fara sudah membaik dan mereka sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah.


"Mama sama dedek Lesha hari ini pulang. Yee.." Arya tersenyum bahagia saat ikut menjemput Fara dan Alesha hari itu di rumah sakit.


"Iya, nanti bantu Mama jaga dedek Lesha ya di rumah," kata Aslan sambil membantu Fara mengemasi barang-barangnya.


"Iya Ayah." Arya kini duduk bersama Bu Lani yang sedang menggendong Alesha. "Oma dedek Lesha cantik ya?"


"Iya, cantik. Kalau Arya ganteng." Bu Lani menatap kedua cucunya bergantian. Akhirnya dia tidak hanya punya cucu laki-laki tapi juga punya cucu perempuan.


"Nanti di rumah Arya mau gendong dedek Lesha ya." kata Arya. Dia begitu gemas dengan adik cantiknya.


"Iya sayang."


Setelah mereka selesai berkemas, Aslan membantu Fara berjalan keluar dari ruangan sedangkan barang-barang mereka dibawa oleh pembantu mereka.


Setelah sampai di tempat parkir, mereka semua segera masuk ke dalam mobil. Bu Lani menurunkan Alesha di pangkuan Fara yang sudah duduk di dalam mobil.


"Fara, Mama naik mobil sama Papa saja ya."


"Iya, Ma."


Kini Aslan dan Arya juga duduk di jok belakang. Sedangkan di kursi pengemudi ada Pak Yanto dan di sebelahnya ada Bi Sri. Beberapa saat kemudian, mobil itu melaju meninggalkan rumah sakit.


"Dedek Lesha dari tadi bobok sih Ma?" Arya sedari tadi begitu gemas dengan Alesha. Dia terus mengusap pipi lembut itu.


"Dedek masih kenyang. Satu jam lagi pasti dedek bangun."


"Arya mau dengar suara menangisnya dedek Lesha Ma. Lucu."


Aslan justru tertawa sambil mengusap puncak kepala Arya. "Iya, memang lucu banget." Sama halnya dengan Arya, Aslan juga suka mendengar suara tangisan bayi meski baik Arya dulu dan juga Alesha sekarang sangat anteng dan jarang rewel.


Setelah mereka sampai di depan rumah, mereka segera turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah. Satu tangan Aslan masih setia di pinggang Fara.


"Arya, Mama sama dedek Lesha mau istirahat dulu kalau Arya mau makan sama Bu Rita ya.".


"Iya Ayah."


Kemudian Arya berjalan menuju meja makan karena memang sudah waktunya dia makan.


Sedangkan Fara kini tersenyum menatap kamarnya yang sudah cantik dan bernuansa pink itu.


"Siapa yang dekor Mas? Lucu warna pink."

__ADS_1


"Yang dekor ya tukang." Aslan tersenyum sambil berdiri di samping Fara yang sedang menurunkan Alesha di dalam box nya.


"Ya tahu Mas."


Aslan hanya terkekeh lalu dia memeluk tubuh Fara yang masih memandangi wajah pulas Alesha. "Makasih untuk semuanya."


"Kok makasih lagi. Aku bisa melalui ini semua juga karena Mas Aslan."


Fara membalikkan badannya lalu mencium singkat bibir Aslan.


"Kok cuma bentar." Aslan menahan tengkuk leher Fara. Dia labuhkan ciumannya di bibir Fara. Memagutnya dengan lembut yang membuat Fara merasa terbuai.


"I love you..."


"I love you too.."


...***...


Beberapa bulan telah berlalu. Fara dan Aslan menikmati setiap momen perkembangan Alesha. Tak terasa Alesha sekarang sudah 6 bulan. Dia sangat murah senyum dan sudah bisa duduk sendiri. Paling bahagia saat diajak bercanda dan bermain dengan Arya.


"Cantik." Fara menciumi pipi gimbul Alesha. "Hari pertama MPASI nyenengin banget makannya."


Aslan yang baru pulang dari kantornya selalu tersenyum saat disuguhkan pemandangan seperti ini. Tiga orang kesayangannya sedang berkumpul di ruang tengah sambil bermain.


"Besok hari Minggu, Ayah libur. Kenapa? Mau jalan-jalan."


"Iya, besok jalan-jalan ke taman ya. Sama dedek Lesha."


"Iya, besok kalau harinya cerah kita jalan-jalan, oke?"


"Oke Ayah." Aslan mengusap puncak kepala Arya.


Alesha yang melihat Ayahnya kini meregangkan tangannya ingin digendong. "Bentar ya Dek, Ayah mau mandi dulu. Setelah mandi Ayah gendong."


Melihat Aslan hanya berlalu saja seketika Alesha menangis.


"Dek Lesha Ayah masih mau mandi. Sini main sama Kakak dulu." Arya mengambil mainan Alesha lalu menggodanya.


Seketika tangisannya berhenti dan tertawa.


"Arya, jagain adek dulu ya. Mama mau ke kamar."


"Iya, Ma."

__ADS_1


Fara berdiri dan berjalan menuju kamarnya meninggalkan Arya dan Alesha. Mereka berdua tidak sendiri tapi masih ada Bu Rita yang mengawasi.


Saat masuk ke dalam kamar, Fara melihat suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada dengan satu tangan yang sedang mengeringkan rambut dengan handuknya.


"Mas." Tiba-tiba saja Fara memeluk Aslan sambil mencium dalam aroma tubuh Aslan. "Aku mau daftar S2 ya?"


"Iya, kamu daftar aja. Kan dari kemarin-kemarin sudah aku suruh. Alesha juga sudah mulai MPASI. Biar dijaga sama Bu Rita. Lagian cuma 2 tahun, dan semoga setelah lulus kamu cepat menjadi Dosen sesuai cita-cita kamu."


Fara tersenyum sambil menatap Aslan. "Makasih, sudah memberikan aku kesempatan untuk meraih cita-cita aku."


"Itu hak kamu sayang. Di awal kita menikah kan aku sudah bilang, aku akan mendukung semua cita-cita kamu."


"Iya, sekarang aku sudah punya segalanya. Punya Mas Aslan, punya Arya, punya Alesha. Tiga A yang sangat penting dalam hidup aku."


Aslan mengecup singkat bibir Fara. "Kamu juga sangat penting dalam hidup aku, dan tentu saja sangat penting buat Arya dan Alesha."


"Hmm," Fara menundukkan pandangannya sambil memainkan telunjuknya membentuk pola abstrak di dada bidang Aslan. "Sepertinya hari-hari kita ada yang terlewat."


"Apa?" tanya Aslan. Dia tidak mengerti maksud Fara kali ini.


"Gini, hmmm, Mas tumben gak minta sampai 6 bulan?" tanya Fara dengan pipi yang merona dan malu-malu. "Aku sebagai seorang istri juga takut Mas Aslan jajan diluar."


Aslan justru tertawa. "Jadi ini yang membuat malam-malam kamu resah. Kamu tenang saja, aku gak mungkin jajan diluar. Kalau aku mau ya aku minta sama kamu tapi..." Aslan menghentikan perkataannya sesaat. "Jujur saja aku masih merasa kasihan sama kamu setelah melihat perjuangan kamu melahirkan Alesha. Sedangkan selama ini yang aku rasakan hanyalah enak saja, tanpa tahu rasa sakitnya melahirkan."


"Itu udah kodratnya seorang wanita Mas. Jadi trauma nih? Gak mau minta jatah lagi. Ya udah gak papa." Fara tersenyum kecil sambil melepas tangannya dari pelukan Aslan.


"Sayang, bukan gitu." Aslan menahan tubuh Fara dan mengeratkan pelukannya. Dia cium dengan liar bibir yang telah menjadi candu untuknya. Mereka saling berbalas indera pengecap dan saling bertukar saliva. Napas Aslan semakin terasa berat. Dia lepas pagutannya sambil menatap sayu Fara. "Tuh kan, aku jadi gak tahan."


Fara hanya tersenyum kecil sambil membalas tatapan Aslan.


Tapi tatapan mereka dibuyarkan suara ketukan Arya. "Ayah, Mama, dek Lesha nangis nih nyariin."


"Aku udah janji mau gendong Alesha. Nanti aja dilanjut." Aslan melepas pelukannya lalu dia keluar dari kamarnya.


.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


.


Time to time nya cepat ya... ☺️


.

__ADS_1


like dan komen ya...


__ADS_2