
Selesai sarapan Aslan beberapa kali memuntahkan isi dalam perutnya yang tak seberapa itu. Dia semakin terlihat pucat dan lemas.
"Mas, kita ke rumah sakit sekarang saja." Fara mengambil jaket untuk Aslan dan membantu Aslan memakai jaketnya. Setelah itu dia memakai cardigannya sendiri. Setelah memakai tas selempangnya, dia memapah Aslan keluar dari kamar.
"Ayah sakit ya? Ayah cepat sembuh ya," kata Arya sambil memeluk kaki Aslan yang sempat terhenti di depan pintu.
Aslan tersenyum sambil mengusap puncak kepala Arya. "Iya sayang. Ayah gak papa. Arya di rumah saja ya, Ayah cuma periksa saja terus pulang."
"Iya Ayah."
"Arya yang pintar ya sama Bu Rita. Nanti Mama telepon Oma biar nemeni Arya." kata Fara sambil berlalu.
"Iya Mama."
Mereka berdua segera masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Pak Yanto. Beberapa saat kemudian mobil itu segera melaju menuju rumah sakit.
Aslan dengan manjanya terus bersandar di pundak Fara selama perjalanan menuju rumah sakit.
"Tumben manja banget gini." Fara menggenggam tangan Aslan dan mengusap punggung tangan Aslan dengan jempolnya.
"Gak tahu, rasanya pengen banget manja-manja terus sama kamu." kaya Aslan sambil memejamkan matanya.
"Makanya jangan sampai telat makan biar gak sakit gini."
"Aku gak ada niat sama sekali untuk telat makan. Gara-gara kemarin kamu gak mau nyuapin aku, nafsu makan aku langsung hilang sampai malam, sampai tadi pagi juga."
"Jadi ceritanya marah nih sama aku?" tanya Fara lagi.
"Nggak marah juga. Gak tahu, rasanya gak bisa diungkapin dengan kata-kata."
"Ya udah, nanti aku suapi. Ih, manja banget." Fara mengacak rambut Aslan yang menempel di dagunya.
Aslan hanya tersenyum kecil dan semakin menenggelamkan wajahnya di bahu Fara.
Setelah sampai di rumah sakit, Fara segera membantu Aslan menuju ruang tunggu pemeriksaan di Dokter Umum.
"Sebentar, Mas tunggu sini dulu biar aku daftar dan ambil nomor antrian. Untung masih pagi jadi tidak terlalu ramai." Fara meninggalkan Aslan sesaat, setelah itu dia duduk di sebelah Aslan sambil menunggu nomor antriannya.
Setelah dua orang keluar dari ruang pemeriksaan, kini Aslan dan Fara masuk ke dalam ruangan itu.
Aslan merebahkan dirinya di atas brangkar saat diperiksa tensinya oleh seorang suster.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian ada seorang Dokter yang datang dan mengecek tensi Aslan. Dia terkejut saat menatap pasien yang diperiksanya. Begitu juga dengan Aslan.
"Pak Aslan."
"Arsyad."
Sedangkan Fara hanya berdiri mematung di dekat Aslan menatap pertemuan yang sangat tidak di sengaja ini.
Meski demikian Arsyad melanjutkan pemeriksaanya pada Aslan. "Tensinya hanya 100/70, cukup rendah. Harus banyak istirahat dan dijaga pola makannya. Keluhannya apa saja?"
"Pusing, mual, muntah."
"Nafsu makan hilang?" tanya Arsyad sambil mengecek detak jantung Aslan lalu menekan perut Aslan secara perlahan.
"Iya."
"Apa sebelumnya punya riwayat asam lambung atau gerd?" tanya Arsyad lagi karena dia tidak menemukan adanya gejala itu di perut Aslan.
Aslan menggelengkan kepalanya. "Tidak pernah."
Arsyad justru tersenyum. Dia menatap Fara sesaat lalu beralih menatap Aslan. "Ini bukan penyakit."
Mendengar hal itu seketika Fara mengernyitkan dahinya dan juga Aslan.
Fara hanya tersenyum kaku. "Mas Aslan baperan banget sih." Lalu dia menatap Arsyad tidak enak. "Maaf ya, Dokter Arsyad."
Arsyad semakin tersenyum. "Iya saya paham, itu karena hormon Pak Aslan yang tidak stabil, sehingga membuat tingkat sensitifitas dalam tubuh tidak terkontrol." Lalu Arsyad mengulurkan tangannya pada Aslan. "Selamat Pak Aslan, sepertinya Pak Aslan akan segera mendapat momongan lagi."
Aslan menerima jabatan tangan itu dengan bingung. Dia kini saling tatap dengan Fara. "Maksudnya ini bagaimana?"
Arsyad melepas tangannya lalu menjelaskan pada Fara dan Aslan. "Jadi kemungkinan besar Pak Aslan mengalami kehamilan simpatik. Karena dari apa yang saya periksa, Pak Aslan tidak memiliki gangguan pada pencernaannya dan saya semakin yakin saat melihat Fara. Saya memang bukan Dokter Kandungan tapi saya bisa tahu kehamilan itu dari wajah Fara."
Seketika Fara meraba pipinya yang memang semakin chubby. "Masak sih? Ini aku emang chubby. Berat badan aku naik satu kilo bulan ini. Emang itu tanda-tanda hamil ya?"
"Untuk memastikan silakan langsung ke poli kandungan. Mari saya antar biar tidak perlu antri lagi."
Arsyad berjalan mendahului mereka berdua.
Aslan dan Fara masih memikirkan perkataan Arsyad. Benarkah Fara sekarang sedang hamil?
Mereka bertiga kini berjalan menuju poli kandungan.
__ADS_1
"Dokter Arsyad, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter Vina, Dokter kandungan yang bertugas hari itu.
"Ini ada teman saya. Dia mau periksa kandungan."
"Silakan masuk."
Aslan dan Fara duduk berdampingan di depan Dokter Vina, sedangkan Arsyad kini sudah keluar dari ruangan dan kembali melanjutkan tugasnya.
"Sudah telat berapa hari? Apa ada keluhan?"
"Baru telat satu minggu dan tidak ada keluhan apa-apa. Hmm, bukan, jadi suami saya yang mengalami muntah dan mual. Apa memang ada kaitannya Dok?"
Dokter Vina tersenyum dan mulai menjelaskan. "Iya, bisa. Itu dinamakan kehamilan simpatik. Apa ini anak kedua?"
"Iya, Dok."
"Pasti di kehamilan yang pertama ibu mengalami morning sickness yang parah sehingga membuat bapak merasa kasihan dan memiliki empati yang kuat. Itu yang mengakibatkan kehamilan simpatik."
Aslan dan Fara hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan itu.
"Mari, untuk lebih jelasnya langsung kita lalukan USG saja."
Fara dan Aslan kini berdiri dan menuju ruang USG. Fara merebahkan dirinya di atas brangkar dan menatap layar USG setelah Dokter mengoles gel di atas perutnya, lalu mengarahkan alat USG itu, Fara tersenyum menatap bulatan kecil yang berada di dalam rahimnya.
"Lihat ya, kantong janinnya sudah terbentuk. Masih berusia 5-6 minggu. Belum ada detak jantungnya karena masih sangat muda, nanti kita cek lagi di usia 8-10 minggu."
Aslan dan Fara tersenyum dengan tangan yang saling terpaut. Ternyata benar apa yang dirasakan Aslan karena rasa ngidam dari kehamilan anak keduanya.
Setelah selesai mereka lanjut berkonsultasi seputar cara mengatasi ngidamnya Aslan ternyata cara mengatasi sama dengan kehamilan Fara dulu. Hanya saja jika memang mualnya berlebihan disarankan untuk mengkonsumsi obat lambung.
Kini Aslan dan Fara keluar dari poli kandungan dengan wajah bahagia dan kedua tangan yang masih terus terpaut.
"Sayang, aku mau terima kasih sama Dokter Arsyad dulu."
Mendengar hal itu seketika Fara mencibir, tadi sudah menuduh Arsyad yang bukan-bukan sekarang malah mau mengucapkan terima kasih. Memang mood pakmil yang naik turun.
💞💞💞
.
Like dan komen ya...
__ADS_1
.
😂