Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 62


__ADS_3

Setelah tiga hari di rawat di rumah sakit, kini Fara dan bayinya sudah boleh pulang ke rumah. Baru saja memasuki halaman rumahnya, ketiga sahabatnya sudah menyambutnya dengan antusias.


"Mana dedek Arya, aku mau lihat." kata Ayla. Mereka bertiga memang belum menjenguk Fara di rumah sakit karena dilarang oleh Fara, takut mereka membuat rusuh di sana.


"Masuk rumah dulu." kata Aslan sambil merengkuh pinggang Fara sedangkan putranya kini digendong Mamanya.


Mereka semua kini berkumpul di ruang tamu. Ayla, Lili, dan Nia berdiri di dekat bayi yang berada di pangkuan Bu Lani.


"Ganteng banget. Bisa ditunggu nih besarnya." kata Ayla sambil mencubit kecil pipi yang terlihat chubby itu. "Gak dapat bapaknya kan bisa dapat anaknya." kelakar Ayla.


Satu jitakan mendarat di kepala Ayla dari Lili. "Dedek Arya yang ogah sama nenek-nenek."


Mereka semua tertawa termasuk Bu Lani. "Kalian semua juga mantan muridnya Aslan."


"Iya tante, selain mantan murid, saya juga mantan pengagum Pak Aslan, bahkan sekarang masih mau jadi madunya." canda Ayla.


"Ayla, jangan bercanda kayak gitu ih." kata Fara. Karena sekarang Aslan hanya untuknya seorang. Tidak ada boleh yang menggoda.


"Astaga, bucin kebangetan sekarang. Gue kan cuma bercanda." Ayla beralih meraih tubuh Arya dan menggendongnya. "Boleh gendong kan?"


"Iya boleh, hati-hati ya."


"Ay, lo belum pantas gendong bayi. Kayak kelihatan anak gendong anak."


"Ssssttt, jangan berisik nanti dedek bangun."


Fara hanya tersenyum melihat sahabatnya sedang menimang bayinya.


"Sayang, kamu istirahat dulu di kamar. Kamar kita sudah rapi. Perlengakapan Arya dan box bayinya juga sudah tertata rapi. Satu jam lagi udah waktunya ngasih ASI, biar digendong mereka dulu, diawasi Mama juga." kata Aslan.


Fara menganggukkan kepalanya lalu dia berdiri dengan bantuan Aslan.Tangan Aslan masih setia merengkuh pinggang Fara kemanapun dia pergi.


Saat masuk ke dalam kamar, mata Fara berbinar melihat barang-barang bayi yang sudah tertata rapi dan juga box bayi di dekat ranjangnya.


"Udah gak sabar, tidur bertiga di kamar ini."


Aslan menganggukkan kepalanya lalu memeluk Fara dari belakang. "Keluarga kecil kita sekarang sudah lengkap, ditambah dengan rasa cinta kamu yang semakin menyempurnakan hidup aku."


"Mas Aslan yang sudah berhasil buat hidup aku bahagia. Makasih sudah sabar menghadapi aku."


"Sama-sama." Aslan melepas pelukannya lalu menuntunnya ke tempat tidur. "Kamu istirahat dulu. Kalau kamu ketiduran nanti aku bangunin pas waktunya Arya minum."


Fara menganggukkan kepalanya lalu naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya. "Mas, tidur sini juga."


Aslan juga naik ke atas ranjang dan merebahkan dirinya di sebelah Fara. Dia lingkarkan satu tangannya di perut Fara. "Sayang, tiga bulan lagi kamu daftar kuliah ya."

__ADS_1


Fara tak menjawabnya. Dia sendiri tidak tahu keinginannya sendiri. Apa dia akan kuliah atau tidak? "Aku belum tahu Mas."


"Kok belum tahu? Kamu kuliah saja ya. Aku nanti akan cari baby sitter buat Arya yang diawasi Mama juga."


Fara hanya terdiam lalu perlahan dia memiringkan tubuhnya menghadap Aslan. "Tapi..."


"Gak usah tapi-tapian. Selagi kamu bisa, raihlah cita-cita kamu. Aku yakin kamu akan jadi Bu Dosen hebat."


Fara tersenyum lalu memeluk tubuh Aslan. "Aku kuliah di tempat Ayla saja ya. Ambil jurusan Matematika."


"Ya sudah, nanti cari info ke Ayla ya pendaftarannya."


Fara menganggukkan kepalanya. "Mas, akan tetap jadi guru?"


Aslan menganggukkan kepalanya. "Iya, selagi aku bisa aku akan tetap jadi guru. Banyak pelajaran yang aku dapat sejak jadi guru. Meskipun harus membagi waktu, aku usahakan tetap konsisten mengajar."


"Gak ada yang naksir kan di sekolah?" Bukan tidak mungkin, wajah Aslan yang masih terlihat muda dari umurnya pasti banyak yang menyukainya.


Aslan tertawa dan mengeratkan pelukannya. Rasanya sangat bahagia mendengar pertanyaan itu, karena dia tahu Fara sekarang sudah benar-benar mencintainya.


"Hmm, aku gak tahu. Dimanapun aku berada aku selalu ingat kamu. Itu aja."


"Ih, gombal."


Mereka saling bertatapan lekat. Memang tak mudah untuk mereka sampai di detik itu.


Beberapa saat kenmudian wajah itu saling mendekat dan bibir itu kembali bertaut. Saling menikmati rasa manis yang bergelora.


Tapi cumbuan itu berakhir saat ada suara ketukan pintu dan suara Arya menangis di depan pintu.


Aslan segera turun dari ranjang dan membuka pintu kanarnya.


"Nangis nih diciumi cewek-cewek di depan." kata Bu Lani sambil menyerahkan Arya pada Aslan.


"Mereka nakal ya, ganggu Arya bobok. Nen dulu yuk." Aslan membawa masuk Arya lalu menurunkannya di pangkuan Fara yang sudah duduk sambil bersandar di headboard.


"Cup, cup, sayang." Fara membuka dadanya lalu mulai mengasihi Arya. Seketika tangisannya berhenti.


"Pintar banget kalau hisap. Ayah kalah dong." Aslan duduk di sebelah Fara sambil merengkuh bahu Fara.


Mendengar itu Fara hanya tersenyum kecil.


"Aku tunggu, dua bulan lagi." bisik Aslan sambil mengecup singkat cuping telinga Fara.


Mendengar hal itu, seketika pipi Fara merona. "Apaan sih."

__ADS_1


"Tentang hal-hal yang nikmat." Aslan tertawa kecil. Dia sudah membayangkan berbagai gaya yang akan dia lakukan bersama Fara setelah melahirkan karena sudah tidak terhalang oleh perut yang besar.


"Ih, omes."


"Iya dong. Udah nagih. Aku hampir lupa, Mama mau adakan acara buat kita. Ya mirip acara resepsi gitu sekalian merayakan kelahiran Arya."


"Acara biasa aja. Aku gak suka acara yang ramai dan mewah."


"Ini kemauan Mama. Sekali ini saja ya. Karena pernikahan kita belum diumumkan ke teman-teman Mama dan Papa, orang-orang kantor juga." kata Aslan.


Fara akhirnya setuju dengan hal itu. "Ya udah. Kapan acaranya?"


"Dua bulan lagi. Kamu gak usah bingung, aku pastiin kamu gak bakal capek. Nanti setelah menemui tamu, kamu bisa langsung istirahat di kamar sama Arya."


Fara menganggukkan kepalanya.


"Tapi kamu juga harus siap-siap karena malamnya kita akan melakukan malam pertama."


Fara memutar bola matanya. "Mas, jangan ngomongin itu terus. Arya jangan punya adek dulu. Lagian juga udah bukan malam pertama."


"Iya, aku ngerti. Pokoknya kamu fokus kuliah dulu."


"Ngerti-ngerti tapi nanti kecolongan. Kemarin aja sekali tembak langsung jadi."


"Itu berarti kita emang udah klop dari awal. Kali ini kita konsultasi ke dokter dulu. Adiknya Arya kita proses pas kamu udah lulus kuliah." kini Aslan melihat Arya yan sudah kembali tertidur. "Habis ***** langsung tidur lagi. Pipinya cepat chubby kalau gini." Aslan menempelkan kepalanya di bahu Fara sambil mengusap pipi putranya.


"Pintar. Kalau rewel cuma bentar. Malam juga gak terlalu rewel."


Aslan kini mencium pipi Fara. Fara yang dulu manja sekarang jadi seorang ibu yang hebat. "Nanti malam kalau Arya terbangun, bangunin aku juga. Jangan bergadang sendiri kayak semalam."


"Semalam Mas Aslan kelihatan capek jadi aku gak mau bangunin Mas Aslan."


"Capek mana sama kamu? Waktu kamu hamil, aku gak bisa bantu kamu. Sekarang saat Arya sudah lahir, biar aku yang gendong saat aku di rumah."


Fara hanya mengangguk. Kemudian kini berganti Fara yang bersandar di pundak Aslan.


💞💞💞


.


Cerita dilanjut sampai Fara kuliah ya... 😄


.


Jangan lupa like dan komen..

__ADS_1


__ADS_2