Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 68


__ADS_3

Aslan keluar dari kamar lalu mengambil Arya yang masih berada di pangkuan Mamanya.


"Arya, ikut Ayah yuk. Waktunya minum."


"Iya, sebentar. Mama mau cium dulu pipinya." Bu Lani mencium kedua pipi Arya. "Aku sedari tadi gak lihat Fara. Dia gak enak badan?" tanya Bu Lani sambil berbisik.


"Ada Tasya di sini."


Bu Lani hanya mengangguk paham.


Setelah itu Aslan melangkah kembali menuju kamarnya, tapi langkahnya terhenti saat dia ditahan seseorang di ruang tengah.


Aslan menghela napas panjang. Mau apalagi wanita ini?


"Lucu banget." kata Tasya. Entah yang lucu Ayahnya atau anaknya.


"Minggir, aku mau ke kamar. Waktunya Arya minum." kata Aslan, dia mencari jalan lain tapi tetap dihadang Tasya.


"Aslan, apa kamu bahagia hidup dengan bocah kayak gitu? Apa bisa dia urus kamu dan anak kamu? Aku ajak bicara saja dia langsung ngambek dan masuk kamar." kata Tasya mulai memanasi suasana.


Aslan menghela napas panjang. "Itu bukan urusan kamu." Aslan akan melangkahkan kakinya tapi ditahan lagi oleh Tasya.


"Aku dulu menyesal telah menerima jodoh pilihan Mama. Aku tahu gimana rasanya dijodohin, terpaksa itu gak enak. Pasti kamu juga terpaksa kan mau menikah dengan bocah."


"Kalau aku terpaksa, aku gak mungkin sampai punya anak."


Tasya semakin mendekat bahkan dia berani menyentuh lengan Aslan dengan jarinya. "Ya, kan bisa aja bocah itu goda kamu agar kamu mau lakuin itu sampai dia hamil dan punya anak. Aku masih bisa loh terima kamu meski kamu udah punya anak."


Aslan akan menimpali perkataan Tasya, tapi tiba-tiba Fara datang dan mengambil paksa Arya.


"Silakan sana lanjutin, gak usah bawa-bawa anak." Fara melangkah jenjang kembali ke kamarnya.


"Far." Aslan menatap tajam Tasya. "Jangan pernah lagi ganggu hidup aku!" kecam Aslan kemudian dia melangkah cepat menyusul Fara masuk ke dalam kamar.


Terlihat Fara mengasihi Arya di tepi ranjang sambil meneteskan air matanya.


"Far, jangan dengerin omongan dia."


Fara menghapus air matanya tapi tetap saja mengalir. Rasanya sangat sakit, bahkan lebih sakit saat dia meninggalkan Arsyad dulu.

__ADS_1


"Fara, jangan menangis." Aslan akan menghapus air mata Fara tapi ditepis oleh Fara.


Aslan akhirnya duduk dan terdiam. Dia buarkan emosi Fara meluap dulu dengan lelehan air mata.


Setelah Arya tertidur, Fara menurunkannya di tengah ranjang. Dia ikut berbaring di sampingnya dan memeluknya.


"Arya, Mama sekarang cuma punya kamu. Mama udah gak punya tempat untuk mengadu dan mengeluh." kata Fara dengan lirih. "Mama pasti akan terus berusaha jadi Mama yang baik buat kamu."


"Far." Aslan duduk di belakang Fara. Baru saja dia menyentuh pinggang Fara tapi sudah ditepis lagi oleh Fara. "Ya udah kita pulang aja yuk, kita selasiin masalah ini di rumah."


Fara bangun dan duduk. Dia menatap tajam Aslan lalu dia turun dan masuk dalam kamar mandi. Tapi langkahnya kalah cepat dengan Aslan.


"Fara, please. Jangan salah paham."


"Salah paham? Aku dengar sendiri wanita ular itu menggoda Mas Aslan. Dia juga ngatain aku masih bocah, gak bisa urus Mas Aslan dan anak kita. Iya, aku memang masih belum dewasa. Aku ngerti." Fara membalikkan badannya dan mengusap wajahnya. "Mas Aslan juga gak belain aku di depan dia."


"Far, bukan kayak gitu. Aku cuma gak mau berurusan lagi dengan dia."


"Gak mau berurusan lagi dengan dia? Yakin? Bahkan setelah ini Mas Aslan akan terus bekerja sama dengan dia. Istri mana yang gak sakit hati melihat suaminya digoda wanita lain." Fara semakin menangis sesenggukan. "Mas Aslan udah bawa aku terbang tinggi, tapi nyatanya dihempaskan seperti ini."


"Fara, aku gak mungkin tergoda sama dia. Oke, aku akan putuskan kerja sama itu. Biar aku gak berhubungan lagi sama dia."


"Gak perlu. Papa sangat senang dengan kerjasama itu. Jangan hancurin harapan Papa Mas Aslan." Fara keluar lalu mengemasi barang-barangnya.


"Aku mau pulang." kata Fara.


"Ya udah kita pulang sekarang."


"Bukan ke rumah Mas Aslan."


"Terus pulang kemana?"


Tersadar dia tidak punya siapa-siapa lagi. Lututnya terasa melemas. Dia kini duduk sambil menutup wajahnya agar suara isak tangis yang semakin menjadi sedikit tertahan. "Iya, aku tahu. Aku sudah gak punya siapa-siapa lagi. Kakak juga gak mungkin peduli sama aku."


Aslan memeluk Fara meski Fara berulang kali mendorongnya.


"Kamu punya aku. Aku minta maaf, aku juga belum bisa jadi suami yang baik buat kamu."


Fara masih saja menangis.

__ADS_1


"Bukannya aku gak belain kamu saat dia menghina kamu, tapi aku gak mau dia semakin memandang buruk kamu. Biar dia melihat sendiri, bagaimana hebatnya istri aku yang sudah mampu membuat aku jatuh cinta sedalam-dalamnya dan juga seorang ibu yang sangat hebat, diumur belasan sudah bisa merawat seorang bayi tanpa bantuan orang tua. Orang yang menghina kamu belum tentu jauh lebih baik dari kamu."


Air mata Fara akhirnya telah surut.


"Aku gak mau membuat kamu menangis lagi. Maafin aku." Aslan mengusap air mata Fara lalu mencium pipinya. "Aku berharap kamu bahagia dengan pesta ini karena dulu aku menikahi kamu hanya di rumah sakit tanpa ada acara apapun tapi ternyata justru sebaliknya." Aslan merapikan rambut Fara yang berantakan. "Jangan sedih lagi. Aku gak akan tergoda oleh siapapun kecuali kamu."


Fara hanya terdiam. Dia kini sudah berhenti menangis.


"Di dalam sebuah rumah tangga, pasti akan selalu ada masalah. Sebisa mungkin kita harus selesaikan masalah kita baik-baik."


Aslan berdiri dan membantu Fara mengecek barang-barangnya. "Kita pulang saja. Sepertinya tamu sudah pulang. Biar Arya aku yang gendong."


Fara hanya terdiam tapi dia menuruti perkataan Aslan. Mereka keluar dari kamar dan berpamitan dulu pada orang tuanya.


"Ma, kita pulang dulu." kata Aslan.


"Loh, gak jadi menginap di sini."


Fara yang matanya sangat sembab hanya menundukkan kepalanya sambil mencium tangan mertuanya. "Maafin Fara ya, Ma."


"Far," Bu Lani menahan Fara saat Fara akan melangkah pergi. "Ada masalah apa? Kamu habis nangis?"


Fara hanya menggelengkan kepalanya. "Fara tidak apa-apa."


"Fara.." panggil Bu Lani tapi Fara tetap melangkah pergi.


Setelah berpamitan dengan Pak Robi juga, mereka keluar dari rumah Aslan.


"Papa, lihat, hubungan mereka baru aja adem, sekarang memanas lagi begini. Pokoknya putuskan kejasama dengan keluarga Tasya itu." kata Bu Lani. Dia tidak mau melihat Aslan dan Fara bertengkar lagi.


"Iya, Ma. Papa juga gak tahu kalau Pak Ilyas itu Ayah Tasya."


Bu Lani menghela napas panjang. "Istri mana yang gak sakit hati kalau suaminya ketemu lagi sama mantan. Tasya itu bukan wanita baik-baik. Bisa saja dia nekad rebut Aslan dari Fara."


"Iya Ma. Besok Papa bicarakan masalah ini dengan Pak Ilyas, soalnya proyek ini sudah setengah jalan." kata Pak Robi karena tidak mungkin kerjasama itu tiba-tiba batal begitu saja.


"Secepatnya. Pokoknya Mama gak mau Fara dan Aslan bertengkar gara-gara masalah ini."


💞💞💞

__ADS_1


.


Like dan komen ya...


__ADS_2