
Ayla terjatuh karena benturan yang keras itu mengakibatkan kepalanya terluka. Dia kini memegangi kepalanya, samar-samar dia melihat seseorang yang berhasil memukul orang yang mendorongnya itu.
"Apa yang lo lakuin, woy!"
Sayang sekali Vero berhasil kabur.
"Lo gak papa?" Dia membantu Ayla berdiri lalu menuntunnya untuk duduk di depan kampus. Dia mengambil tisu lalu membasahinya dengan air mineral dan membersihkan luka di kening Ayla, setelah itu dia pasang plester. "Kamu hati-hati, dia bukan pria baik-baik."
Ayla hanya menatap wajah tampan itu. Sebelumnya dia sama sekali tidak pernah melihatnya, tapi dari almamater yang dia pakai, dia memang mahasiswa kampus sebelah.
Saking terpesonanya Ayla sampai lupa mengucapkan terima kasih atau sekedar untuk bertanya namanya. Dia pergi begitu saja.
"Yah, udah pergi." guman Ayla.
"Ayla, lo kenapa? Gue cariin dari tadi ternyata lagi bengong di sini. Jidat lo kenapa?" tanya Lili yang melihat luka di kening Fara.
"Li, ikut gue ke rumah. Gue mau cerita sesuatu."
...***...
"Gimana hari pertama kuliahnya?" tanya Aslan sambil mengemudi.
"Nih, baju aku basah semua." Fara menekuk wajahnya sambil menunjukkan bajunya yang kian basah.
Aslan hanya terkekeh. Karena dia sudah mengingatkannya tapi Fara tak mendengarnya.
"Makanya kalau aku suruh bawa itu nurut." satu tangannya kini terulur mengusap pipinya.
"Iya Mas." Fara justru menikmati sentuhan Aslan.
"Cowok yang tertangkap video call tadi siapa?" tanya Aslan. Dia tidak terlalu mempermasalahkannya karena Fara tidak menutupi statusnya.
"Itu Vero. Dia kating aku. Gak tahulah dia aneh banget, udah tahu kalau aku udah punya suami dan anak tapi masih saja didekati."
Aslan hanya tersenyum kecil. "Soalnya kamu masih cantik. Kamu jaga jarak aja sama dia. Setelah kuliah selesai, langsung pulang."
"Oke, siap. Untung posesifnya gak kambuh." Fara justru menyandarkan kepalanya di bahu Aslan.
"Asal kamu jujur, aku udah tenang. Aku pasti juga akan pantau kamu dari jauh." kata Aslan. Dia biarkan Fara bermanja di bahunya. Sedangkan dia masih fokus dengan jalanan sore hari itu.
"Sewa detektif ya."
__ADS_1
"Iya, detektif conan." Aslan tertawa lalu menghentikan mobilnya di depan rumahnya. "Butuh bantuan gak? Kalau Arya gak habis, aku siap menghabiskan." goda Aslan sambil menekan dada Fara dengan jarinya.
"Au, Mas, ih, sakit. Aku mau mandi dulu habis itu aku pompa. Mas Aslan jaga Arya dulu." kata Fara sambil keluar dari mobil yang diikuti oleh Aslan.
"Mandi bareng yuk. Aku bantuin." Aslan menggandeng lengan Fara sambil masuk ke dalam rumah.
"Kasihan Arya, temani dulu kalau kita pulang jangan langsung berduaan."
"Ya udah tapi kalau Arya tidur mandi bareng. Titik. No debat." Begitulah Aslan selalu tidak bisa terkalahkan.
Fara hanya memutar bola matanya. Ternyata Arya lebih memihak Ayahnya. Dia sekarang sedang tidur dengan nyenyak di dalam box nya.
"Tuh kan, Arya tidur." Aslan tersenyum sambil melepas jasnya.
Fara hanya memutar bola matanya lagi lalu dia buru-buru masuk ke dalam kamar mandi tapi sayang langkah Aslan lebih cepat darinya.
"Mas."
"Sini aku bantu biar bisa langsung plong." Aslan membuka kemeja Fara lalu penutup buah sintal itu. "Sayang, sampai keras gini loh, nanti sakit. Pokoknya besok jangan lupa bawa pompanya."
"Iya Mas."
Aslan mulai menghisap pu ting Fara yang terus meneteskan ASI itu.
Aslan melepas sesaat lalu mendongak menatap wajah Fara yang memerah. "Ini banyak banget loh. Gak mungkin aku habiskan." Dia menegakkan dirinya lalu memeluk Fara. "Aku sayang banget sama kamu."
"Aku juga sayang banget sama Mas Aslan."
Kedua wajah itu saling mendekat. Mereka saling memagut dan menyesap manisnya madu itu. Saling memadu cinta yang tiada habisnya. Hanya terdengar suara de sah yang kini tersamar oleh gemercik air.
"Nanti malam jangan ganggu ya. Aku capek." kata Fara sambil mengeringkan rambutnya dengan hair dryer setelah mandi berdua dengan Aslan. Mandi plus-plus tentunya.
"Iya. Kan barusan udah." Aslan tersenyum kecil lalu menggendong Arya yang baru saja terbangun dari tidurnya. "Hai sayang, pintar banget anak Ayah." Aslan menciumi pipi chubby Arya yang membuat bayi itu tertawa geli.
Setelah selesai mengeringkan rambutnya, Fara meraih Arya dan menggendongnya. "Arya, Mama kangen banget sehari gak ketemu. Sini minum sama Mama dulu ya." Fara duduk sambil bersandar headboard dan mulai mengasihi Arya.
Beberapa saat kemudian, ponsel Fara berbunyi. Ada sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Aslan mengambil ponsel Fara hanya mengernyitkan dahinya.
"Nomor siapa ya?" tanya Aslan sambil menunjukkan layar ponselnya pada Fara.
Fara hanya mengangkat bahunya pertanda tidak tahu.
__ADS_1
"Coba aku angkat." Aslan mengangkat panggilan itu. "Hallo... Hallo ini siapa?" tidak ada jawaban dari sana. Kemudian Aslan mematikan panggilan itu.
"Siapa Mas?" tanya Fara.
Aslan menggelengkan kepalanya. "Gak ada jawaban."
Beberapa saat kemudian ada pesan masuk dari nomor itu. Ada kiriman sebuah foto Fara yang sedang tertawa.
Tetaplah tersenyum, meskipun bukan aku yang membuat kamu tersenyum...
Aslan mengernyitkan dahinya membaca pesan itu lalu dia berusaha untuk menghubungi nomor itu lagi. Tapi sekarang nomor itu justru tidak aktif.
"Sayang sepertinya ada yang memata-matai kamu." Aslan menunjukkan hasil foto curian itu. "Kamu hati-hati ya. Sepertinya dia terobsesi sama kamu."
"Mas, jangan bilang gitu. Aku jadi takut. Apa ini perbuatan Vero ya?"
"Nanti aku selidiki nomor ini. Kamu tenang aja. Aku akan selalu jaga kamu." Aslan duduk di samping Fara sambil merengkuh bahunya.
"Emang gimana jaganya, kita kan beda lokasi."
"Ya udah, apa aku perlu menjadi dosen kamu biar aku sama kamu terus." goda Aslan.
"Ya, kalau bisa." Fara tersenyum kecil karena jujur saja dia merasa tenang jika berada di dekat Aslan.
"Meskipun aku gak berada di dekat kamu, tapi aku selalu memastikan kalau kamu aman dimanapun berada. Apalagi setelah kamu bilang di kampus itu ada beberapa kasus penyimpangan."
"Jadi, beneran ada bodyguard yang jaga aku dari kejauhan nih."
Aslan hanya tersenyum kecil lalu tangannya mengusap pipi chubby Arya yang sudah kenyang meminum ASI. "Sayang sudah kenyang ya. Main sama Ayah yuk, biar Mama istirahat." Aslan menggendong Arya lalu membawanya keluar dari kamar.
Fara hanya tersenyum kecil. Dia benar-benar merasa disayangi Aslan. Kemudian dia kembali meraih ponselnya.
Ada satu pesan masuk lagi dari nomor yang berbeda.
Cepat istirahat ya, agar hari esok jauh lebih baik dari hari ini. Aku sudah tidak sabar melihat senyummu lagi.
Seketika Fara memblokir nomor itu. "Siapa lagi sih ini? Horor banget."
💞💞💞
.
__ADS_1
Like dan komen ya...