
"Fara, gak istirahat ke kantin?"
Pertanyaan itu seketika membuat kepala Fara mendongak. Ada Vero yang berdiri di dekatnya. Hanya lengannya saja yang tertangkap kamera video call nya.
"Eh, hmm..." Fara melirik Aslan yang semakin fokus dengan layar ponselnya. "Nggak." jawabnya singkat, kemudian Fara kembali fokus pada layar ponselnya dan menganggap Vero hanyalah angin lalu. Dia kembali menggoda Arya yang sekarang mulai merengek minta susu.
"Sayang, dua jam lagi Mama pulang. Tunggu ya, gak boleh rewel. Minum susu di botol terus bobok." Fara tak peduli dengan kehadiran Vero yang ada di dekatnya. Biar sekalian dia tahu kalau dia sudah mempunyai keluarga. "Mas nanti jemput aku kan?" tanya Fara.
"Iya, nanti aku jemput. Udah ya, aku mau ketemu client dulu. I love you..."
"I love you too..."
Setelah itu panggilan video berakhir.
Vero kini duduk di dekat Fara. Lelaki itu masih saja penasaran dengan Fara. "Jadi benar kamu sudah menikah dan punya anak?" tanya Vero memastikannya lagi.
"Iya, memang kenapa?" kata Fara sambil memasukkan kembali kotak bekalnya yang telah kosong.
"Ya gak papa. Aku gak nyangka aja, soalnya kamu masih terlihat sangat muda. Gak kelihatan kalau udah punya anak satu."
Dalam hati Fara, dia terus mendumel. Kalau sudah tahu gitu kenapa masih tidak mau pergi.
"Ya, aku memang nikah muda." kata Fara lagi berharap Vero segera pergi tapi justru Vero semakin menatapnya bahkan satu tangannya kini terulur dan akan menyentuh leher Fara.
Seketika Fara menjauh, "Apaan sih?" Dia menutup lehernya teringat dengan tanda merah itu. Apa alas bedaknya sudah menghilang jadi tanda merah itu terlihat.
"Itu kayak ada luka." kata Vero.
Seketika Fara mengambil alas bedaknya lalu dia keluar dari kelas menuju toilet. Meninggalkan Vero sendiri.
Apa lelaki zaman sekarang memang seperti itu? Sudah tahu Fara mempunyai suami tapi masih saja didekati. Ternyata bukan hanya pelakor saja yang marak dan tampil berani tapi juga pebinor.
Fara masuk ke dalam toilet dan menyamarkan tanda merah itu dengan alas bedak.
"Ih, untung tadi yang lihat cuma Kak Vero. Tapi nakutin juga tuh orang. Dimana-mana selalu ada lagi. Udah kayak hantu gentayangan."
Setelah selesai dia segera kembali ke kelas karena sebentar lagi bimbingan akan segera dimulai.
__ADS_1
...***...
Fara bernapas lega, akhirnya kegiatan hari itu selesai. Kedua dadanya sudah terasa sakit. Benar kata Aslan, harusnya dia membawa alat pompa meski sebelum berangkat sudah dia kosongkan.
Padahal cuma 7 jam tapi rasanya penuh banget gini. Gara-gara aku gak mau ribet mompa di kampus. Tahan dulu, bentar lagi pulang.
Para mahasiswa baru sudah akan berdiri tapi ternyata ada kegiatan tambahan yang mengharuskan mereka berkumpul di aula.
Fara hanya bisa menghela napas panjang. Mau tidak mau dia harus ikut acara itu.
Teman-temannya sudah membawa tas dan keluar kelas tapi Fara masih saja terduduk. Fara merasakan ASInya justru semakin merembes ke bajunya.
"Aduh, basah nih. Kacau, aku gak bawa cardigan lagi. Gimana nih." Fara membuka tasnya berusaha mencari sesuatu yang bisa untuk menutupi kemejanya yang basah. Semua ini terjadi karena kebodohannya. Harusnya dia lebih mempersiapkan semuanya.
"Fara kenapa?" lagi, lagi Vero datang dan mendekatinya. Memang benar dia seperti hantu yang datang secara tiba-tiba.
Fara mendongak sambil menyilangkan tangannya di depan dadanya.
"Eh, ini, hmm, Kak aku bisa pulang lebih awal tidak?" tanya Fara. Sepertinya dia tidak mungkin melanjutkan kegiatan hari itu.
"Kenapa? Kamu sakit?" tanya Vero.
"Sebenarnya ini cuma acara pengesahan mahasiswa baru dari ketua BEM. Kalau kamu mau pulang dulu gak papa aku izinkan."
Fara tak menjawabnya. Lelaki yang berada di dekatnya memang baik. Apakah semua kakak tingkatnya memang baik seperti itu. Atau ada maksud tertentu dari kebaikannya?
Vero melepas almamaternya lalu diberikan pada Fara. "Ini kamu pakai biar gak terlihat basah."
Fara menganggukkan kepalanya. Meski tetap membiarkan jas almamater itu di atas meja.
"Ya sudah, aku izinkan kamu dulu. Kalau memang mau pulang dulu tidak apa-apa atau mau menunggu di kelas juga tidak apa-apa."
Kemudian Vero keluar dari kelas sambil tersenyum kecil. "Seorang ibu yang sempurna." gumam Vero.
Sayang sekali gumaman Vero bisa ditangkap telinga Ayla yang akan masuk ke dalam kelas Fara. Seketika Ayla mengernyitkan dahinya.
Orang belok memang agak-agak ya. Ngeri. Jangan-jangan Fara jadi sasaran lagi. Mau tobat dan suka lawan jenis harusnya gak ke ibu muda juga kali.
__ADS_1
Ayla segera masuk ke dalam kelas dan duduk di dekatnya. "Gue cari di aula tapi ternyata lo ada di kelas. Lo kenapa? Sakit?"
"ASI gue rembes, nih baju gue basah. Gue kurang persiapan. Gue mau pulang dulu, dada gue udah sakit bnget."
"Makanya lain kali buat pesiapan dulu, bawa pompa sama baju ganti juga. Itu almamaternya Kak Vero? Dia tahu gak kalau lo udah punya suami dan anak?" tanya Ayla.
"Iya, tahu." jawab Ayla.
"Benar dugaan gue. Orang itu aneh banget. Lo hati-hati deh sama Kak Vero. Masak tadi gue gak sengaja dengar dia bilang, seorang ibu yang sempurna, pasti itu lo. Jangan dipakai almamaternya. Nih, pakai cardigan gue aja." Ayla melepas cardigannya dan diberikan pada Fara. "Nanti biar gue balikin almamaternya."
Fara menganggukkan kepalanya. "Makasih banget ya. Tapi gue masih gak ngerti, masak Kak Vero kayak gitu. Gue kira cuma pelakor aja yang berani dekati orang beristri, ternyata ada juga modelan kayak Kak Vero."
"Tuh orang memang agak gak beres. Mungkin bagi dia menaklukkan hati lo itu adalah tantangan. Jangan kepancing sama kebaikannya."
Fara menganggukkan kepalanya. "Ya udah gue pulang dulu ya. Mas Aslan udah ada di depan." kata Fara setelah melihat ponselnya sesaat.
"Ya udah yuk, gue antar sampai depan." mereka berdua berdiri dan berjalan menuju gerbang kampus.
Ada sepasang mata yang terus mengintai kepergian mereka.
Sampai di depan gerbang, Fara segera masuk ke dalam mobil Aslan.
Ayla membalikkan badannya dan kembali masuk ke dalam kampus. Baru saja dia melangkahkan kakinya, tangannya ditarik paksa oleh seseorang dan membawanya ke sebuh gang kecil di sebelah kampus.
"Lo apa-apaan! Lepasin gue!" Ayla berusaha memberontak.
"Gue peringatkan sama lo! Jangan campuri urusan gue! Kalau gak, lo akan tahu akibatnya."
"Lepasin!" Ayla berusaha melepas cekalan tangannya tapi dia justru mencekik dan mendorong tubuh Ayla ke tembok hingga kepalanya terbentur.
"Peringatan pertama buat lo!"
💞💞💞
.
Like dan komen ya...
__ADS_1
.
Kemarin gak up, author lagi ada acara. Ada yang nungguin gak nih? Belum terkenal pasti gak ada yg nungguin ya.. 😂