Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 88


__ADS_3

"Pak, mulai besok saya sudah tidak mengajar di sini lagi." Aslan berjalan di lorong sekolah sambil berbicara dengan salah satu guru di sekolahnya. Setelah mendapat guru ganti, Aslan sudah memutuskan tidak mengajar lagi karena ingin fokus dengam perusahaannya.


"Iya Pak. Saya lihat akhir-akhir ini Pak Aslan memang sangat sibuk. Tapi selama hampir tiga tahun Pak Aslan mengajar di tempat ini, Pak Aslan sudah membawa banyak kemajuan pada murid di sekolah ini dan sudah tiga kali juga sekolah kita mendapat nilai matematika tertinggi saat ujian akhir."


Aslan hanya tersenyum. "Itu juga karena usaha mereka. Semua murid pada dasarnya mampu. Hanya kita saja yang tinggal mengasah kepintaran mereka."


"Ya sudah, semoga Pak Aslan semakin sukses dan selalu berbahagia bersama keluarga."


"Amin, Pak terima kasih." Aslan kini berjalan menuju tempat parkir dan segera masuk ke dalam mobilnya. Beberapa saat kemudian mobil Aslan mulai melaju keluar dari area sekolah.


Baru beberapa meter keluar dari gerbang sekolah, tiba-tiba dia melihat ada seorang siswinya yang jatuh pingsan. Aslan segera menghentikan mobilnya kemudian dia keluar dari mobil dan menolong gadis itu.


"Kamu kenapa?" Dia menepuk pipinya. Dia memang salah satu siswi di sekolahnya tapi dia tidak pernah mengajar di kelasnya.


Gadis itu tak juga sadarkan diri, akhirnya Aslan mengangkat tubuhnya dan memasukkannya ke dalam mobil di kursi belakang. Dia segera membawanya menuju klinik terdekat.


Sesampainya di depan klinik, Aslan segera membawanya masuk ke ruang pemeriksaan. Seorang Dokter segera memeriksa keadaannya sedangkan Aslan kini menunggunya diluar.


Dia terpaksa menunggu sampai gadis itu sadar baru dia akan menghubungi keluarganya atau mengantarnya pulang.


Beberapa saat kemudian Dokter yang memeriksa kondisi gadis itu keluar dari ruangan.


"Anda siapanya pasien?" tanya Dokter itu.


"Saya guru di sekolahnya tadi saya menemukan dia pingsan di pinggir jalan." jelas Aslan.


"Dia sedang hamil muda, tensi darahnya sangat rendah itu yang menyebabkan dia tidak sadarkan diri. Sekarang dia sudah sadar, silakan Bapak menghubungi keluarganya."


Aslan menganggukkan kepalanya. Dia membereskan biaya pengobatan terlebih dahulu lalu menemui gadis itu.


Terlihat gadis yang masih kelas XI itu hanya menundukkan pandangannya sambil menangis.


"Dimana rumah kamu? Aku antar, atau kamu mau menghubungi orang tua kamu untuk menjemput." tanya Aslan. Dia sama sekali tidak mengungkit kondisinya yang sebenarnya.


Dia hanya menggelengkan kepalanya.


Aslan membaca name tag nya yang bernama Weni. "Saya hanya berniat menolong kamu tanpa ingin ikut campur dengan masalah pribadi kamu. Kalau kamu mau pulang, aku antar. Tapi kalau memang kamu masih mau di sini saya mau pergi, soalnya saya ada pekerjaan dan buru-buru." Aslan melihat jam tangannya karena sebentar lagi dia juga akan ada meeting.

__ADS_1


"Bapak yang namanya Pak Aslan, guru matematika anak kelas XII?" tanyanya tiba-tiba.


"Iya. Ya sudah, biaya sudah saya bayar. Saya buru-buru." Aslan akan melangkahkan kakinya pergi tapi Weni memanggilnya.


"Pak Aslan, antar saya pulang ke rumah."


"Oke." Aslan melangkahkan kakinya keluar dari klinik yang kini diikuti oleh Weni.


Setelah Weni duduk di kursi belakang, Aslan segera menjalankan mobilnya. Dia mengikuti petunjuk arah dari Weni menuju rumahnya.


Beberapa saat kemudian, Aslan menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana yang cukup kecil. Terlihat kedua orang tua Weni sedang berdiri di depan rumahnya.


"Silakan kamu turun soalnya aku buru-buru." suruh Aslan karena Weni tak juga membuka pintu mobilnya.


Weni mengangukkan kepalanya. "Terima kasih, Pak." kemudian Weni keluar dari mobil Aslan.


Aslan melihat ke arah belakang karena akan memutar mobilnya, belum juga mobilnya berjalan, Ayah Weni menggedor kaca mobilnya dengan keras.


"Keluar kamu! Jangan jadi laki-laki pengecut!" teriak Ayah Weni dari luar mobil sambil terus menggedor.


Aslan menghela napas panjang. Ada apa lagi ini? Dia hanya menolong Weni mengapa dia digedor dan diteriaki.


"Ada apa?" tanya Aslan.


"Ada apa, ada apa? Kamu kan yang menghamili anak saya." tuduh Ayah Weni.


Aslan mengerutkan dahinya. Kenapa niat baiknya justru disalah artikan seperti ini? "Bukan, saya hanya menolong anak Bapak karena tadi dia pingsan di pinggir jalan. Keadaan dia gak ada sangkut pautnya sama saya. Maaf, saya permisi!"


Aslan akan melangkahkan kakinya pergi tapi ditahan oleh Pak Waryo.


"Kamu guru di sekolah Weni kan?" Pak Waryo masih saja mengeraskan suaranya di depan Aslan.


Aslan menghela napas panjang. Dia berjalan ke teras rumah Weni karena beberapa tetangga sudah mulai memperhatikannya.


"Iya, saya guru di sekolah Weni. Tapi saya tidak pernah mengajar Weni dan saya sebelumnya juga tidak pernah mengenal Weni." jelas Aslan.


"Omong kosong! Sebelumnya Weni dekat dengan salah satu guru di sekolahnya."

__ADS_1


"Tanya sendiri sama putri bapak kalau saya tidak mengenal Weni sebelumnya."


Weni sedari tadi hanya menundukkan pandangannya.


"Weni apa benar dia yang menghaili kamu?" tanya Pak Waryo pada putrinya.


Weni mengangguk pelan. "Iya Ayah."


Aslan melebarkan matanya, bisa-bisanya Weni menuduhnya telah menghamilinya. "Apa kamu bilang! Aku cuma menolong kamu, tapi kamu malah menuduh aku menghamili kamu! Astaga, kamu masih sekolah, tapi tingkah laku kamu sudah seperti ini."


Pak Waryo langsung mneyergap krah kemeja Aslan. "Kamu jangan memutar balikkan fakta. Kami akan tuntut kamu kalau kamu tidak mau bertanggung jawab!"


Aslan menepis tangan Pak Waryo. "Silakan! Kalian gak punya bukti apa-apa. Kalau kalian sampai lapor polisi justru kalian yang akan ditangkap karena pencemaran nama baik."


Aslan tak menggubrs lagi mereka. Dia melangkahkan kakinya jenjang menuju mobil lalu masuk ke dalam mobil. Tak peduli lagi kecaman dari keluarga Weni yang terus terlontar.


Dia kini mulai melajukan mobilnya. "Ada-ada aja masalah. Udah untung ditolongin tapi aku malah kena getahnya." Aslan menghela napas panjang agar amarahnya menguar. "Aku jadi telat meeting."


Aslan semakin menambah laju mobilnya menuju kantor. Untunglah jalan yang dia lalui tidak macet hingga dia bisa sampai di kantornya tepat waktu.


Setelah sampai di kantornya, dia segera menuju ruang meeting dengan tergesa. Sampai sore hari dia baru selesai meeting. Saat dia berjalan menuju ruangannya, ponselnya beberapa kali bergetar di sakunya. Dia segera mengambil ponselnya dan membaca nama yang tertera di layar ponselnya.


Dia tersenyum sambil mengangkat panggilan itu.


"Iya, hallo sayang..."


"Mas bentar lagi pulang kan?"


"Iya sayang sebentar lagi aku pulang."


Senyuman itu seketika lenyap saat mendengar suara Fara di ujung sana.


💞💞💞


.


Orang ngeselin datang lagi.. 😂

__ADS_1


.


Like dan komen ya...


__ADS_2