Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 81


__ADS_3

Aslan kini duduk di sebuah ruangan tertutup tanpa jendela dan gelap. Hanya ada lampu gantung sebagai penerangan. Di kedua sisi Aslan ada dua orang anak buahnya yang berbadan gempal.


Di hadapan Aslan ada Vero dengan wajah yang sudah babak belur. Kali ini dia akan di interogasi Aslan habis-habisan.


Aslan menatap tajam Vero. Meski sinar lampu itu temaram tapi tatapan maut Aslan terlihat sangat menakutkan.


"Siapa yang menyuruh kamu!" suara Aslan menggema di seluruh ruangan itu.


Vero hanya menggeleng. "Ini ide aku dan teman-teman." jawabnya sambil menundukkan pandangannya.


Bruak!!


Aslan memukul meja itu dengan keras. "Kamu gak pernah kenal sama Fara sebelumnya bagaimana kamu bisa dengan sengaja tabrak dia di saat pertama kali bertemu dan memasukkan alat penyadap itu. Gak mungkin sebelumnya kamu udah tahu kalau Fara itu seorang ibu muda."


"Pertama kali melihat Fara aku memang langsung suka." kata Vero lagi memberi keterangan.


Aslan memukul meja lagi lalu dia berdiri dan menyergap Vero. "Kamu mengaku kalau kamu penyuka sesama jenis lalu terobsesi dengan ibu muda. Sekarang kamu bilang sudah suka dengan Fara sejak pertama bertemu."


Satu pukulan mendarat keras di perut Vero. "Katakan! Siapa otak dibalik semua ini?"


Vero hanya terdiam sambil meringis kesakitan karena Aslan menghajarnya berulang kali.


"Kalau kamu gak mau jujur, aku akan habisi nyawa kamu!" Aslan melempar tubuh Vero yang sudah tidak berdaya itu ke lantai. Pintu dibuka oleh tiga orang polisi.


"Bagaimana?" tanya salah satu polisi itu.


"Tetap dia tidak mau mengaku." kata Aslan. Emosinya sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.


"Kami telah mendalami kasus ini. Benar seperti yang Anda katakan. Jika Vero sebelumnya tidak mengenal istri bapak, dia juga tidak akan tahu kalau istri bapak seorang ibu muda. Ada otak dibalik permainan mereka. Saya sudah menginterogasi semua teman mereka dan jawabannya sama, mereka merujuk ke Vero."


Aslan mengeraskan rahang bawahnya. Dia kini mulai menerka, siapa dalang dibalik kasus ini. Apa rival bisnisnya? Sepertinya dia harus mulai berhati-hati.


Vero yang terjatuh di lantai kini mendongak, mencari celah untuk melakukan pemberontakan. Dengan cepat dia mengambil pistol yang menggantung di celana polisi, lalu menembakkannya ke arah Aslan.

__ADS_1


"Awas, Pak!" untunglah dengan cepat anak buah Aslan mendorong tubuh Aslan hingga peluru itu hanya mengenai tembok.


Saat polisi dan Aslan akan merambas pistol itu kembali tapi hal yang tak terduga justru terjadi. Vero menembakkan pistol itu ke kepalanya sendiri, seketika dia terjatuh dan meninggal di tempat.


Aslan mengusap wajahnya tak menyangka, hilang sudah juru kunci dalam masalah ini.


Darah dari kepala Vero mengalir deras di lantai. Dia lebih memilih mati daripada buka mulut.


Sebelum pulang ke rumah, Aslan membuang terlebih dahulu sepatu dan jasnya yang terkena percikan darah. Untuk sementara masalahnya masih menggantung dan belum terpecahkan. Setelah ini, dia harus benar-benar menjaga Fara. Bisa saja musuh dalam selimut itu mencari celah untuk melukai Fara atau dirinya.


...***...


"Fara, gimana keadaan lo? Kita khawatir banget sama lo. Tega banget mereka culik kamu. Emang gak waras tuh orang. Udah naksir cowok, masih juga terobsesi sama istri orang." kata Ayla yang datang menjenguk Fara bersama Lili di hari menjelang sore itu.


"Gue udah baikan kok. Ya, gue kemarin emang sempat masuk rumah sakit kena mastitis." cerita Fara, dia kini duduk di samping Ayla sambil memangku putranya.


"Mastitis apaan?" tanya Ayla tidak mengerti.


"Kok bisa?" tanya Lili yang tak mengerti tentang kondisi Fara.


Fara hanya terdiam. Rasanya terlalu menyakitkan jika harus mengingatnya.


Satu jitakan mendarat di kepala Lili, "Udah gak usah bahas lagi. Yang penting sekarang Fara udah sehat. Semoga mereka semua mendapat hukuman yang setimpal. Bersih sudah kampus kita dari hama-hama seperti mereka. Ngeri banget. Mereka nekad-nekad semua." Ayla mengambil segelas air dingin yang terhidang dan meminumnya.


"Dua hari ini banyak banget reporter dan wartawan ke kampus. Udah diusir tapi masih aja datang lagi. Untunglah lo masih di rumah." kata Lili. Karena pihak kampus juga enggan buka suara pada pihak media. Mereka menyerahkan kasus ini pada pihak kepolisian.


"Kemarin juga ada wartawan yang ke rumah ini. Untungnya diusir sama Mas Aslan dan mereka udah gak berani datang lagi." cerita Fara. "Mas Aslan juga sudah hapus semua berita aku di internet."


"Bener tuh. Mereka semakin memanasi suasana aja kalau buat berita. Yang penting sekarang semua sudah aman. Tinggal gue yang belum ketemu lagi sama cowok yang nolong gue kemarin." kata Ayla sambil membayangkan wajah cowok itu. "Gue tanya ke Nia tapi dia tidak tahu. Dia itu ganteng banget dan juga kelihatan baik."


"Hati-hati kalau dekat cowok. Dia cowok tulen gak?" goda Lili sambil tertawa. Dia memang senang melihat Ayla terus-terusan jomblo.


"Oke, nanti kalau gue ketemu sama dia lagi, bakal gue tes."

__ADS_1


"Caranya?" tanya Fara dan Lili secara bersamaan.


Ayla hanya tersenyum penuh arti. "Rahasia...."


"Gue doain lo gak ketemu lagi sama dia soalnya niat lo jelek."


"Lo tega ya. Kalau jodoh pasti gak bakal kemana. Entah lusa atau suatu saat nanti gue pasti akan bertemu lagi dengan dia."


"Halu! Cowok kampus sebelah itu memang keren-keren tapi sulit didekati. Ya mungkin kita gak selevel sama dia." kata Lili yang sengaja membuat Ayla pesimis.


Tapi Ayla tetap yakin, "Lo sengaja kan buat gue pesimis dan sayangnya gue tetap optimis."


"Kita kok jadi ngobrol sendiri sih. Kita kan ke sini mau jenguk dan hibur Fara. Arya ikut aunty Lili yuk." Lili menggendong Arya yang sedari tadi duduk anteng di pangkuan Fara sambil menggigiti teether nya.


"Far, kapan sidang mereka? Moga aja di panjara seumur hidup, terutama si Vero."


Fara menggelengkan kepalanya. "Mas Aslan sekarang lagi di kantor polisi. Masih belum ada kabar."


Beberapa saat kemudian Aslan datang dan berjalan mendekati Fara. "Ada kalian di sini. Ya udah kalian jaga Arya ya, aku mau bicara sama Fara." Aslan mengusap puncak kepala Fara lalu duduk di sampingnya.


"OMG, Pak Guru sekarang makin terang-terangan." cibir Ayla.


"Mas, tadi kayak pakai jas. Terus kenapa sekarang juga pakai sandal?" tanya Fara karena biasanya Aslan pulang tetap rapi.


Aslan menghela napas panjang. "Vero bunuh diri. Dia menembakkan pistol ke kepalanya sendiri."


"Hah!" Fara dan kedua sahabatnya sangat terkejut mendengar berita itu.


💞💞💞


.


Like dan komen ya...

__ADS_1


__ADS_2