
"Siapa yang menyuruh kamu menjebak aku?" tanya Aslan sekali lagi dengan keras.
"Sebenarnya..." Weni menghentikan perkataannya sesaat. Kali ini dia akan benar-benar mengungkap semuanya. "Sebenarnya saya hanya disuruh sama Pak Viki. Saya memang dekat dengan Pak Viki selama dua bulan terakhir ini. Saya yang salah, yang sudah mau termakan bujuk rayunya dan ternyata dia tidak mau bertanggung jawab. Dia justru menyuruh saya untuk menjebak Pak Aslan. Dia juga sudah membayar kedua orang tua saya. Orang tua saya memaksa saya untuk mengikuti drama ini. Sebenarnya saya gak mau melakukan ini." Weni mengusap air matanya yang masih saja mengalir. "Saya memang salah. Saya siap menerima hukuman yang setimpal. "
Aslan mengingat-ingat nama itu. "Viki?" Dia sama sekali di tahu guru magang yang bernama Viki.
"Mas Aslan kenal?" tanya Fara.
Aslan hanya menggelengkan kepalanya. "Aku gak begitu hafal dengan guru-guru magang di sana. Memang banyak guru muda di sekolah. Aku saja tidak kenal sama dia, bagaimana mungkin dia ingin menjebak aku. Dia pasti juga anak buah seseorang yang juga menyuruh Vero dulu." Aslan kini mulai memikirkan sebuah cara. Dia tidak mau dalang di balik ini semua lolos seperti sebelumnya. "Kamu ke rumah aku juga disuruh sama Viki?"
"Iya, saya disuruh menjebak Pak Aslan agar Pak Aslan dan Kak Fara bertengkar tapi saya tidak bisa." Weni kembali menghapus air mata yang masih saja mengalir di pipinya. "Orang tua saya justru lebih mementingkan uang dari pada saya. Mereka justru mendukung saya berbuat jahat daripada melindungi saya. Terutama Ayah saya."
Fara semakin merasa kasihan dengan Weni. "Weni, jangan sedih lagi. Kita akan bantu kamu menyelesaikan masalah kamu."
"Weni, kamu tetap berpura-pura menjalankan semua perintah Viki. Kali ini aku gak mau gegabah lagi. Aku harus benar-benar tahu siapa dalang dibalik semua ini." kata Aslan. Dia harus lebih hati-hati agar otak dibalik kasus itu tidak melarikan diri lagi.
Weni hanya mengangguk pelan.
"Mas, Pak Yanto masih ada di sini kan?" tanya Fara.
Aslan menganggukkan kepalanya. "Iya tadi ke kantin rumah sakit."
"Suruh antar Weni pulang saja biar dia istirahat di rumah. Besok kalau aku udah sembuh aku temani periksa." kata Fara.
Aslan segera menghubungi sopirnya, setelah itu dia juga menghubungi Mamanya memberi kabar tentang Fara.
Kemudian Aslan berdiri di ambang pintu dan menghubungi anak buahnya. Dia memerintahkan untuk mencari tahu tentang Viki. Pasti Viki hanyalah suruhan untuk menjebaknya lagi seperti kasus sebelumnya.
"Amati semua gerak-geriknya. Jika ada sesuatu yang mencurigakan segera hubungi aku." Aslan mematikan panggilannya saat Pa Yanto sudah datang.
"Pak Yanto antar Weni pulang ke rumah dan istirahat saja di rumah. Nanti kalau ada perlu, aku telpon."
"Iya Tuan."
__ADS_1
Setelah Weni keluar dari ruangan itu, Aslan naik ke atas brangkar dan merebahkan dirinya di sebelah Fara.
"Mas, panggil suster kalau masih gak enak badan." kata Fara sambil menjurai rambut Aslan yang basah karena keringat dingin.
Aslan justru semakin memeluk Fara. "Obat aku ada di kamu."
Fara hanya tersenyum kecil. "Gombal banget. Gak ada orang sembuh dari sakit karena cinta, pasti juga butuh obat dan juga Dokter."
Aslan tersenyum kecil lalu menempelkan kepalanya di bahu Fara dengan hidung yang mengendus lehernya. "Aku ingin keluarga kecil kita hidup tentram dan harmonis, gak ada cobaan yang dibuat orang lain dengan sengaja seperti ini tapi ada aja masalah yang mengusik kita. Padahal aku gak pernah mengusik hidup orang lain."
"Semua orang juga pengennya gitu Mas. Tapi ya beginilah hidup. Kita harus bisa melalui ini semua dan saling percaya."
"Kamu sekarang udah jadi wanita yang tangguh yah. Aku makin cinta sama kamu."
"Semua ini juga karena Mas Aslan."
Aslan mendongak lalu mencium kecil pipi Fara. "Cepat pulih ya, biar cepat buat adiknya Arya lagi." Aslan tertawa melihat bibir Fara yang mencebik mendengar keinginannya.
"Mas Aslan nih, pulihin dulu kondisinya."
Beberapa saat kemudian ada dua suster yang masuk seketika Aslan melepas pelukannya dan duduk di samping Fara.
"Pak Aslan, Anda masih harus dirawat. Masih harus istirahat selama sehari." kata suster itu yang sedari tadi mencari pasiennya yang kabur dari kamar.
"Iya sus. Biar saya dirawat satu ruangan dengan istri saya." kata Aslan. "Karena saya juga harus menjaga istri saya."
"Iya, tapi tidak satu brangkar. Nanti kita pindah di ruangan VIP yang ada dua brangkar."
"Sus, kalau bisa satu brangkar aja, biar tidurnya tidak terpisah."
Kedua suster itu hanya tersenyum mendengar permintaan Aslan. "Tidak bisa ya Pak Aslan, ini bukan hotel. Sehari saja Anda dan istri harus benar-benar istirahat total."
"Mas Aslan nurut aja. Turun. Malu-maluin aja." Fara mendorong pinggang Aslan agar turun dari brangkarnya.
__ADS_1
Aslan akhirnya turun dari brangkar Fara. "Ya sudahlah yang penting kita satu ruangan."
...***...
"Weni, Ayah tunggu di dekat rumah. Kamu keluar sekarang. Ada sesuatu yang mau Ayah katakan." kata Ayahnya Weni lewat panggilan teleponnya.
Weni sebenarnya ragu menuruti keinginan ayahnya kali ini. Tapi sesuai perintah Aslan bahwa dia harus tetap berpura-pura melakukan sandiwara itu.
Weni akhirnya keluar dari rumah Aslan dan menemui ayahnya di samping rumah. "Bagaimana perkembangan masalah ini?"
Weni menggelengkan kepalanya. "Pak Aslan dan istrinya masuk rumah sakit. Besok pagi baru boleh pulang."
"Kenapa mereka?"
"Pak Aslan sakit sedangkan istrinya mengalami keguguran."
Pak Waryo tersenyum miring. "Bagus, mereka tidak ada di rumah. Kalau begitu kamu culik putranya."
Weni melebarkan matanya. "Gak mau. Ayah, anak kecil itu gak salah apa-apa. Berhenti melakukan tindak kriminal hanya karena uang."
Pak Waryo menjambak rambut putrinya. "Kamu aku besarkan selama ini hanya menyusahkan orang tua. Kalau kita berhasil menculik putranya, kita tidak hanya dapat uang dari Viki tapi juga dapat uang tebusan dari keluarga Aslan."
"Ayah, sudah berhenti lakuin ini semua! Sebelum Ayah benar-benar dipenjara."
Pak Waryo mendorong putrinya hingga punggungnya tertabrak tembok. "Lakukan atau Ayah akan siksa ibu kamu." ancam Pak Waryo setelah itu dia pergi dari tempat itu.
Weni masuk kembali masuk ke halaman rumah Aslan. Dia kini duduk di teras rumahnya. "Aku gak mungkin lakuin ini tapi ibu bagaimana?"
Kemudian dia berdiri dan masuk ke dalam rumah. Dia kini duduk di ruang tengah sambil mengamati Arya yang sedang bermain dengan pengasuhnya. Dia sedang mencari sebuah cara.
💞💞💞
.
__ADS_1
Like dan komen