Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 36


__ADS_3

Hari itu juga kedua orang tua Aslan dan Ayah Fara datang ke rumah sakit.


Bu Lani langsung memeluk bahagia menantunya itu. "Fara, selamat sayang. Mama senang banget dengar kehamilan kamu ini. Gak nyangka Mama akan dapat cucu secepat ini." Tak hanya itu, Bu Lani menciumi kedua pipi Fara.


Fara hanya mengangguk kaku tanpa senyum.


"Kamu pucat sekali?" tanya Pak Ridwan yang kini duduk di sebelah putrinya yang sedang terbaring. "Sudah makan?"


Fara menggelengkan kepalanya. "Gak enak makan, Yah."


"Sayang, Mama tahu hamil muda itu rasanya memang gak enak. Tapi kamu harus tetap makan." Bu Lani membantu Fara duduk lalu meraih makanan yang ada di atas nakas dan menyuapinya tapi bibir Fara masih saja tertutup rapat. Dia justru melirik Aslan. Hanya dari tatapan mata Fara, Bu Lani sangat paham keinginan Fara. "Mau disuapi Aslan."


Tanpa menunggu jawaban dari Fara, Bu Lani menarik Aslan agar menggantikan posisinya untuk menyuapi Fara.


"Dulu waktu Mama hamil Aslan, Mama juga maunya disuapin Papa terus. Manjanya gak ketulungan, sampai tidur harus dekat-dekat terus." cerita Bu Lani sambil tersenyum. Mungkin saja calon cucunya itu meniru Aslan.


Aslan kini mulai menyuapi Fara. Meskipun tadi sempat ditolak Fara tapi tak mengapa, kali ini Fara tidak mungkin menolak suapannya karena ada kedua orang tuanya dan Ayah Fara.


Fara menerima suapan demi suapan dari Aslan dengan lahap. Bahkan saat makan Fara tak merasa mual. Beda saat dia makan sendiri tadi pagi. Semua makanan yang dia makan langsung dia muntahkan lagi.


"Tuh kan, pasti manjanya sama calon Ayah. Aslan pokoknya kamu harus benar-benar manjain Fara. Jaga dia, turuti semua keinginannya. Kalau ngidam yang aneh-aneh cari sampai ketemu." pesan bu Lani.


"Iya, Ma. Itu pasti." kata Aslan yang sudah tak peduli dengan tatapan tajam Fara yang berulang itu.


Para orang tua kini justru asyik mengobrol perihal cucunya nanti. Baru juga satu bulan mereka sudah begitu antusias.


Rasanya Fara semakin dongkol karena kehamilan ini sangat tidak dia inginkan. Tapi meski demikian, semua makanan kini telah habis tak tersisa.


"Nanti aku gak mau disuapi lagi," kata Fara dengan pelan setelah meneguk habis minumannya. Gengsinya mulai lagi.


Aslan tak mengiyakan perkataan Fara. Dia tahu sebenarnya Fara sedari tadi sangat ingin dia suapi tapi dia tahan. "Kamu sekarang istirahat biar lebih enakan."


Fara kini merebahkan dirinya lalu beberapa saat kemudian dia mulai tertidur.

__ADS_1


Aslan sedikit lega karena akhirnya Fara mau makan dan sekarang bisa tertidur dengan nyenyak. Setelah itu dia bergabung dengan obrolan orang tua.


"Hebat, sudah berhasil buatkan kita cucu." Pak Robi merangkul Aslan sambil menepuk bahunya.


Aslan hanya tersenyum. Tidak tahu saja jika semua ini hasil dari pemaksaannya.


"Papa rasa kamu sudah bisa mulai kembali ke kantor. Setelah ini kamu tidak perlu lagi jadi guru." kata Pak Robi karena Aslan kini sudah banyak berubah.


Aslan justru menggelengkan kepalanya. Banyak pelajaran yang dia dapatkan saat menjadi guru. Dia dituntut untuk lebih bersabar dan bertanggung jawab, dan inilah hasilnya. "Aku mau tetap mengajar, Pa. Nanti aku pegang beberapa kelas saja biar aku juga bisa ke kantor."


Kedua orang tuanya kini tersenyum. Mereka berhasil membuat Aslan menjadi seorang calon pemimpin yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Pasti setelah ini dia juga akan sukses memimpin perusahaannya.


...***...


Fara membuka matanya dipagi hari yang cerah itu. Dia masih di rumah sakit. Ditemani Aslan yang kini tertidur sambil duduk di sampingnya. Kini tenggorokannya terasa kering. Perlahan dia duduk dan mengambil botol mineral yang ada di atas nakas. Baru meminumnya seteguk, perutnya terasa diaduk. Dia menggeser tubuhnya dan turun tapi rasa mual itu sudah tidak tertahankan hingga dia muntah di lantai.


"Fara." seketika Aslan terbangun, dia berdiri dan mengusap punggung Fara.


"Iya, sini aku bantu. Nanti biar dibersihkan cleaning service." Aslan menarik tiang penyangga infus sedangkan tangan satunya merengkuh pinggang Fara.


Di kamar mandi Fara masih saja mual-mual.


Aslan menjadi sangat khawatir. Dia juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


"Far, ada minuman hangat di termos kecil yang dibawakan Mama semalam. Kamu minum biar mualnya berkurang."


Kemudian Fara berkumur dan membasuh wajahnya. Dia kini berpegangan Aslan karena badannya sangat lemas dan hampir pingsan.


Aslan memapahnya ke brangkar karena satu tangannya kini juga membawa tiang infus. Dia mebantu Fara naik ke atas brangkar, lalu dia mengambil gelas dan menuang minuman hangat itu. "Diminum, biar perutnya enakan."


Setelah membantu Fara minum, Aslan segera memanggil cleaning service untuk membersihkan lantai.


Fara kembali terbaring dan menarik selimutnya.

__ADS_1


"Far, sebentar lagi kamu makan aku suapi."


Fara menggelengkan kepalanya. "Gak usah disuapi. Gak ada Mama di sini, aku bisa makan sendiri." Fara masih saja menolak perhatian Aslan.


Aslan hanya bisa menghela napas panjang. Semoga setelah ini keadaan Fara bisa semakin membaik.


Setelah sehari dirawat di rumah sakit, Fara diperbolehkan untuk pulang. Tapi tetap saja rasa pusing dan mual itu tidak bisa hilang begitu saja. Sepanjang perjalanan pulang saja Fara terasa sangat mual. Sampai di depan rumah, Fara turun dan memuntahkan kembali isi perutnya yang hanya tinggal air saja.


Aslan mengusap bibir Fara dengan tisu lalu membantunya berjalan menuju kamar. "Kamar kamu sekarang aku pindah ke lantai bawah biar kamu gak perlu naik turun tangga."


Fara tak menimpali perkataan Aslan. Dia kini masuk ke dalam kamar yang masih dituntun oleh Aslan.


"Kalau kamu mau sesuatu bilang sama aku."


Fara merebahkan dirinya dan justru menangis. "Aku gak mau ngerasain ini semua. Pak Aslan tolong kembalikan hidup aku kayak dulu lagi."


Hati mana yang tak tersayat mendengar permintaan tolong Fara itu. Andai saja dia bisa merasakan, biar dia saja yang merasakan penderitaan Fara. "Maafin aku. Aku akan tebus semua kesalahanku pada kamu."


"Dengan cara apa?" Fara semakin menangis. Perutnya terasa mual, kepalanya terasa pusing, badannya terasa lemas belum lagi hatinya yang begitu sensitif dan rasanya ingin menangis terus.


"Sabar ya." Aslan duduk di samping Fara dan memeluknya.


Fara mendorong tubuh itu tapi sangat berat hingga akhirnya dia hanya bisa pasrah.


"Aku juga gak mau kamu seperti ini. Aku sendiri juga gak tahu harus berbuat apa? Ayo, kita berjuang sama-sama. Aku yakin kamu bisa melewati ini semua."


Fara hanya terisak tapi tak bsa dia pungkiri pelukan Aslan begitu sangat nyaman bahkan dia merasa ingin tidur di pelukan Aslan.


💞💞💞


.


Like dan komen ya...

__ADS_1


__ADS_2