
Hari-hari pun berlalu begitu cepat. Semaki hari perhatian Aslan semakin bertambah besar pada Fara. Apalagi kini dia sudah bisa merasakan gerakan kecil dari dalam perut Fara yang sudah terlihat membuncit.
"Udah lima bulan aja. Udah bisa ngerasain gerakannya. Lucunya. Gemas banget. Sehat-sehat ya sayang." Aslan tak hentinya mengusap perut Fara sambil mengajaknya berbicara. Hal yang selalu dia lakukan setiap harinya saat berada di dekat Fara.
Sedangkan Fara kini sedang memandangi sebuah topi bayi hasil dari rajutannya sendiri. "Lucu ya topinya. Besok mau aku buatin sweater. Tapi baby boy atau girl ya. Ini aku pilih warna netral semua sih."
Aslan kini mendongak menatap Fara. Saat seperti inilah rumah tangganya terasa utuh bersama Fara. Meski sampai sekarang Aslan belum juga tahu perasaan Fara yang sebenarnya. Tapi baginya yang terpenting, sekarang Fara terlihat sangat bahagia dan selalu bersemangat menjalani hari-harinya. "Boy or girl, sama aja. Sama-sama anak Ayah."
Fara hanya mencibir, tapi sedetik kemudian dia teringat kiriman foto dari Ayla yang sedang makan bakso bakr yang tengah viral itu.
"Mmm, Pak Aslan tahu gak bakso bakar yang lagi ramai itu?" Sebenarnya akhir-akhir ini Fara ingin memanggil Aslan dengan sebutan Mas tapi dia sangat sulit untuk memulai dan membiasakannya.
"Iya tahu, kamu mau itu?" tanya Aslan karena ketika Fara memberinya kode seperti ini sudah pasti Fara sedang mengidam.
Fara menganggukkan kepalanya. "Dari kemarin aku pesan online gagal terus. Beli yuk ke sana."
"Aku belikan saja ya. Kamu tunggu di rumah soalnya di sana ramai banget takutnya kamu gak dapat tempat duduk."
"Hmmm, gak jadi deh. Lain kali aja. Pasti antrinya juga panjang di sana." Fara kini menyandarkan dirinya di dada Aslan. Memang akhir-akhir ini tingkat kemanjaan Fara semakin bertambah. Dia juga sudah biasa tiba-tiba memeluk Aslan.
"Gak papa, mumpung masih sore."
Fara akhirnya menganggukkan kepalanya. Dia menggeser duduknya saat Aslan akan berdiri. "Jangan pedas ya, sambal di pisah saja." pesannya.
"Iya." Aslan mengusap puncak kepala Fara sambil berlalu. Dia ke kamarnya dan mengambil jaket beserta kunci motornya.
"Bawa motor? Pakai mobil aja, nanti kalau tiba-tiba hujan biar gak basah." kata Fara.
"Gak papa pakai motor aja biar cepat."
"Ya udah hati-hati ya."
"Iya." Kemudian Aslan berjalan keluar dari rumah dan segera menaiki motornya. Beberapa saat kemudian motor Aslan segera melaju.
Sedangkan Fara kini menunggu Aslan sambil menonton televisi. Tapi pikirannya masih saja memikirkan Bapak si bayi yang ada dalam perutnya itu.
__ADS_1
Aku kan udah pengen panggil Mas tapi kenapa rasanya sulit gini ya untuk memulai. Apa panggil langsung Ayah saja nanti pas dedek lahir?
Fara menghela napas panjang lalu menyandarkan dirinya di sofa. Dia tatap kosong layar televisi yang menyala itu. Tiba-tiba dia tersenyum mengingat semua perhatian yang Aslan berikan untuknya. Meskipun dia sekarang sudah tidak mual saat makan sendiri, tapi Aslan tetap menyuapinya. Menuruti semua yang dia inginkan. Rasanya Fara benar-benar dimanjakan seperti seorang ratu.
Sudah aku putuskan, nanti setelah anak kita lahir, kita akan tetap bersama.
Keraguan dan kebimbangan yang selama ini dia rasakan kini sudah sirna. Dia telah yakin dengan perasaannya sendiri. Seiring berjalannya waktu dengan perhatian Aslan yang besar, hatinya telah luluh. Cinta itu datang dengan sendirinya.
Setelah satu jam berlalu Aslan tak juga pulang.
"Pasti antrinya panjang." Fara menghela napas panjang lalu kembali menyimak acara dalam televisi.
Sampai dua jam Aslan tak juga pulang. Fara menjadi khawatir. Kalau memang tidak memungkinkn untuk menunggu antrian lebih baik ditinggal pulang saja.
Fara kini mengambil ponselnya dan menghubungi Aslan tapi nomor whatsapp Aslan justru tidak aktif. Rasanya dia semakin khawatir.
"Kok gak aktif?" Fara menghubunginya kembali. Kini perasaannya semakin tidak enak.
Beberapa saat kemudian ada telepon masuk ke nomor telepon rumahnya. Fara segera berdiri dan mengangkatnya. "Iya hallo..."
Setelah mengetahui rumah sakit dam ruangan Aslan, Fara menutup teleponnya. Dia segera berjalan masuk ke dalam kamar untuk mengambil cardigannya. Air mata itu sudah tidak bisa terbendung lagi. Dia hanya berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengan Aslan.
"Bi Sri," panggil Fara sambil berjalan menuju dapur mencari pembantunya.
"Non Fara kenapa? Kok nangis?" Melihat majikannya menangis Bi Sri ikut panik.
"Bi, temani aku ke rumah sakit. Mas Aslan kecelakaan." kata Fara dengan suara yang bergetar.
"Kecelakaan? Non, tenang dulu biar saya panggilkan Pak Yanto suruh siapkan mobil." Bi Sri segera keluar lewat pintu belakang.
Sedangkan Fara segera menuju teras rumah dan menunggu mobil siap. Setelah mesin mobil dinyalakan, Fara masuk ke dalam mobil.
"Pak, ke rumah sakit umum ya." kata Fara.
Sopir itu segera mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit yang berada di tengah kota.
__ADS_1
Fara kini sudah tidak sabar untuk melihat keadaan Aslan.
Semoga tidak kenapa-napa. Fara masih saja menangis. Dia tidak pernah merasa sangat khawatir seperti ini sebelumnya. Ternyata memang benar, Aslan sangat berarti di hidupnya.
Setelah mobilnya berhenti di depan rumah sakit, Fara segera turun dari mobil dan berjalan cepat menuju ruangan Aslan setelah sebelumnya bertanya pada suster.
"Non, hati-hati. Jangan cepat-cepat kalau jalan." kata Bi Sri yang berjalan mengikuti majikannya itu.
Fara masih saja berjalan cepat sambil memegangi perutnya yang terasa kaku. Setelah sampai di ruangan Aslan, dia berjalan mendekat dan langsung berhambur ke pelukan Aslan.
"Fara, kok nangis. Aku gak papa cuma lecet aja dan kaki aku terkilir sedikit karena tertindih motor." terang Aslan. Dia terjatuh karena tidak melihat ada jalan yang berlubang.
Tapi Fara tetap saja menangis terisak di dada Aslan.
"Far," Aslan mengusap punggung Fara yang bergetar karena isak tangisnya. "Udah jangan nangis, aku gak papa. Maaf ya, baksonya tadi jatuh di jalan. Besok ya aku beliin lagi."
Fara kini melepas pelukannya. Dia tegakkan dirinya lalu menatap kedua netra Aslan. "Kenapa Mas Aslan yang minta maaf? Harusnya aku yang minta maaf. Selama ini aku selalu ngerepotin Mas Aslan. Selalu minta dimanja tapi aku gak pernah ngertiin Mas Aslan. Aku..."
Aslan kini duduk dan menangkup kedua pipi Fara. "Kamu panggil aku apa barusan?" tanya Aslan dengan mata berbinarnya.
"Mas Aslan."
Untuk pertama kalinya dia mendengar Fara menyebutnya dengan panggilan Mas seperti itu. Dadanya berdebar dan terasa meletup-letup. "Panggil aku apa?" Aslan bertanya lagi karena ingin mendengar sekali lagi Fara memanggil dengan sebutan Mas.
"Ih, Mas Aslan."
Seketika Aslan memeluk Fara dengan erat.
💞💞💞
.
Berhasil juga ya akhirnya. Setelah sekian purnama...
Like dan komen ya...
__ADS_1