
Aslan menggelengkan kepalanya. "Aku akan melakukan foreplay yang tepat, memberi kamu kenyamanan dan akan membuat kamu melayang." Aslan mencium pipi Fara lagi lalu mendekatkan bibirnya di telinga Fara. "Dan tentu akan membuat kamu men de sah nikmat."
Mendengar suara Aslan membuatnya merinding di sekujur tubuhnya. Dia seperti tersihir dan kali ini dia akan pasrah dengan semua sentuhan Aslan.
Aslan menatap kedua mata Fara. Wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak itu sekarang bersikap kalem. Tidak pernah membentaknya seperti dulu dan cenderung penurut.
"Now?" tanya Aslan lagi.
Fara tak menjawabnya, dia telah terhanyut oleh tatapan Aslan yang begitu dalam. Sedetik kemudian bibir itu kembali mendekat dan bertaut. Saling berbalas, menyesap, dan berbelit hingga suara decapan itu memenuhi seluruh kamar yang luas.
Meskipun hamil, pesona Fara tetap terpancar, justru semakin seksi dimata Aslan. Kedua tangan Aslan yang telah berhasil membuka daster Fara, kini bertengger di kedua buah sintal yang masih tertutup lalu me re mas nya pelan.
Bibir mereka masih terpaut, bahkan Aslan sudah mengubah posisi ciumannya dari miring ke kanan sampai miring ke kiri. Napas mereka semakin terasa berat, tapi ciuman itu masih terus berlanjut.
Sedangkan tangan Aslan kini sudah berhasil membuka penutup buah sintal itu. Tangannya bergerak aktif memijat, lalu menelusuri membentuk bulatan dan kemudian berhenti di puncaknya. Me mi lin pelan pu ting Fara yang telah mengeras yang membuat Fara seketika melepas ciumannya. Dia men de sah pelan saat rasa yang asing itu mulai menjalar ke sekujur tubuhnya.
Aslan menarik bantal hamil Fara agar Fara membaringkan tubuhnya. Perlahan dia membaringkan tubuh Fara dan memposisikan tubuh Fara dengan nyaman.
Fara menatap sayu Aslan yang sedang membuka kemejanya. Dia masih menginginkan sentuhan Aslan lebih dari itu.
"Sayang, ini tambah besar loh." Meski Aslan memang hanya beberapa kali melihatnya tapi kali ini dada Fara memang semakin terlihat menantang. "Sepertinya udah siap me nyu sui dedek Arya nih. Cobain dulu sama Ayahnya." Aslan mendekat dan menyapu puncak yang telah menegang itu dengan bibirnya.
"Ah, Mas." Fara merasakan geli di sekujur tubuhnya. Suara nikmat tidak bisa dia tahan. Dia semakin menekan kepala Aslan agar terus melakukannya.
Tiba-tiba Aslan menghentikan hisapannya. Dia mendongak menatap Fara. "ASI nya udah keluar."
"Jangan dihisap itu punya dedek Arya."
Aslan hanya tersenyum, lalu dia kembali menundukkan pandangannya. Tapi kali ini dia tidak menghisapnya hanya menyapunya dengan lidah.
"Mas geli." Fara semakin membusungkan dadanya.
__ADS_1
Tentu saja suara de sa han Fara semakin membuat Aslan bersemangat. Satu tangannya kini melepas celana segitia Fara. Lalu dia buai inti Fara yang telah basah itu. Dia mainkan dengan satu jarinya, keluar masuk berirama, dan satu jarinya menggesek kli to ris yang sudah menegang itu.
Fara semakin meracau. Dia baru pertama kalinya merasakan sensasi ini. Rasanya geli tapi membuatnya ketagihan dan ingin terus disentuh Aslan lebih dari itu.
Ciuman Aslan perlahan naik ke atas, menyusuri sesaat leher seputih susu itu lalu ke atas lagi dan berhenti di dekat bibir Fara yang berulang kali berdesis nikmat karena tangan Aslan masih terus beroperasi di bawah sana.
"Sayang, enak gak?" tanya Aslan yang terdengar begitu erotis di telinga Fara.
Fara hanya mengangguk pelan. Dia merasa melayang di udara dan belum berpijah di bumi lagi.
"Next session yah?" tanya Aslan. Dia harus memastikan terlebih dahulu kesiapan Fara. Dia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama yang membuat Fara merasa kesakitan.
Fara mengangguk kecil. Karena merasakan gesekan dari tangan Aslan sudah senikmat itu apalagi jika milik Aslan yang memasukinya, pasti rasa nikmatnya berkali lipat.
Aslan menegakkan dirinya, dia segera melepas celananya dan terpampanglah sesuatu yang telah tegak dan mengeras sedari tadi itu.
Fara melebarkan matanya melihat milik Aslan yang berdiri tegak. Baru kali ini dia melihat secara detail milik Aslan. Apalagi kini Aslan semakin mendekatkan dirinya dan menuntun tangan Fara untuk menyentuhnya.
Seketika Aslan tertawa. "Kamu tenang ya. Gak akan sakit. Kan ekornya tumpul, gak tajam." Dia bungkukkan dirinya di dekat Fara lalu membisikkan sebuah do'a yang membuat perasaan Fara tenang.
Rasanya ini seperti baru pertama kali melakukannya, terasa sangat mendebarkan. Kemudian Aslan berlutut di antara kaki Fara.
"Ih, pelan aja Mas." kata Fara padahal Aslan sama sekali belum melakukannya. Baru dia gesekkan saja di dekat pintunya.
"Sayang ini belum masuk. Jangan tegang biar gak sakit."
Fara tersenyum kecil karena dia kini merasakan hanya ada gesekan-gesekan dari luar. Semakin lama terasa semakin nikmat dan saat rasa nikmat itu sudah menjalari dirinya, Aslan menghentakkan miliknya hingga membuat Fara memekik.
"Aww, Mas." Fara menutup matanya sambil menggigit bibir bawahnya.
"Rileks sayang." Aslan tetap berlutut sambil memegang kedua lutut Fara. Dia tidak berani membungkukkan dirinya agar tidak menindih perut Fara. Dia mulai menggerakkan pinggulnya secara perlahan. Setelah 9 bulan, akhirnya dia merasakan kenikmatan ini lagi. Masih terasa sangat sempit dan menggigit. Baru beberapa kali goyangan saja Aslan sudah men de sah nikmat. "Ah, ini enak banget. Kamu rasakan setiap gesekan keluar masuk itu pasti rasanya semakin nikmat."
__ADS_1
Perlahan Fara membuka matanya, dia melihat wajah Aslan yang memerah dengan bibir yang terus berdesis nikmat itu. Benar saja, rasanya memang tidak sakit. Semakin lama, rasa itu semakin bertambah nikmat yang membuat Fara ikut berbalas de sah dengan Aslan.
"Iya, Mas. Ini enak."
Aslan tersenyum kecil, akhirnya dia berhasil memberi rasa nikmat pada Fara. Dia sedikit menambah tempo gerakannya tapi tetap dalam kadar aman. "Setelah ini aku pasti akan semakin ketagihan. Kita puasin ya sampai dedek lahir," kata Aslan. Karena setelah Fara melahirkan pastinya dia akan menahan hasrat lagi.
Fara mengangguk kecil. Suara de sah mereka kian menggema di seluruh kamar. Peluh sudah membanjiri tubuh mereka berdua.
Rasa nikmat semakin menjalari tubuh Fara. Dia menegang beberapa saat ketika dia mencapai pelepasan yang pertama. Setelah itu dia melemas.
Aslan yakin, rasa trauma itu sudah menghilang dan sekarang Fara sudah bisa menikmati permainannya. Kini dia usap perut Fara yang mengencang karena pelepasan Fara barusan. Dia akan segera mencapai puncak klimaksnya. Dengan erangan keras, Aslan menuntaskan hasrat yang selama ini terpendam.
Kemudian sama-sama mengatur napas. Aslan melepas dirinya dan duduk di sebelah Fara.
"Ternyata rasanya bisa buat aku melayang." kata Fara dengan napas yang masih tersenggal.
Seketika Aslan menoleh Fara. "Jadi nyesel kan, kenapa gak lakuin dari dulu."
"Iya." Fara tersenyum kecil.
"Duh, jadi mau lagi."
💞💞💞
.
.
😂😂😂
Like dan komen ya...
__ADS_1