
"Sayang, kita pulang sekarang. Aku barusan sudah bilang ke Dokter agar kita diperbolehkan pulang hari ini." kata Aslan sambil terus menatap layar ponselnya.
"Lalu apa rencananya Mas?" tanya Fara. "Aku gak mau Arya masuk dalam masalah ini."
"Tenang saja, Arya aman di rumah Mama."
Untunglah, Weni mengungkap rencana Ayahnya dan Viki pada Aslan tentang rencana penculikan itu, jadi Aslan bisa menyusun sebuah rencana. Kali ini dia pastikan tidak akan gagal lagi. Anak buahnya sudah menemukan titik terang. Beberapa foto yang dikirim anak buahnya menunjukkan seseorang yang dia kenal beberapa kali menemui Viki dan sepertinya dia juga yang terlibat dalam insiden Vero yang telah berlalu itu.
"Lihat saja, kali ini aku akan jebloskan dia ke penjara." umpat Aslan kesal. Kesalahannya sudah berulang kali dan tidak akan bisa dia maafkan.
Fara kini menatap Aslan. "Ada masalah apa di masa lalu sampai dia tidak rela melepas Mas Aslan?" tanya Fara, karena tidak akan asap jika tidak ada api.
Aslan menatap Fara sesaat lalu dia menghela napas panjang. "Tidak ada masalah apa-apa. Sudah, jangan memikirkan ini lagi. Semua masalah akan segera berakhir."
Beberapa saat kemudian, dua orang suster masuk ke ruangan mereka dan membantu mereka melepas infus yang terpasang di pergelangan tangan mereka.
"Tetap harus istirahat ya di rumah. Dokter sudah meresepkan beberapa obat dan vitamin untuk diminum di rumah." pesan suster itu.
"Iya sus. Terima kasih."
Mereka berdua segera bersiap untuk pulang ke rumah yang hanya dijemput oleh Pak Yanto karena kedua orang tua Aslan menjaga ketat putranya di rumah.
"Sayang, gak ada yang ketinggalan kan?" tanya Aslan. Dia juga mengecek barangnya sendiri.
Fara mengecek kembali barang-barangnya yang berada di dalam tas, lalu menggelengkan kepalanya. Kemudian mereka berjalan keluar dari ruangan menuju lift dengan satu rengkuhan tangan di pinggang Fara.
"Sampai di rumah kamu langsung istirahat. Untuk sementara biarkan Arya di rumah Mama dulu. Kalau keadaan sudah aman baru nanti kita jemput." kata Aslan. Dia pasti akan menjamin keselamatan putranya.
Fara menganggukkan kepalanya. "Tapi Mas Aslan juga hati-hati. Mas Aslan kan baru sembuh."
"Iya, aku hanya mengawasi, biar anak buah aku yang turun tangan."
...***...
Weni kini masuk ke dalam rumah Viki sesuai perjanjian sebelumnya. Dia sedang menggendong seorang anak yang dia tutupi dengan jaket.
"Weni, bagus kamu nurut sama Ayah." kata Pak Waryo.
Weni menatap benci Ayahnya. Apakah sosok yang jahat itu bisa disebut seorang Ayah?
__ADS_1
"Mana anaknya? Kita bisa dapat uang banyak dari Pak Aslan dan juga dari dia." kata Viki yang kini berjalan mendekat.
"Kamu jahat sekali! Kamu cuma mau memanfaatkan aku untuk mendapatkan uang!" teriak Weni di depan wajah Viki.
Viki hanya tersenyum miring sambil meraih anak yang digendong Weni. Viki curiga saat anak yang dia gendong tidak bergerak sama sekali. Dia membuka jaket itu, "Sial! Kamu mau menipu aku!" Viki membuang boneka itu.
Dengan langkah cepat, Weni berusaha kabur dari tempat itu.
"Jangan lari kamu!" Viki kini mengejar Weni, hingga mereka semua keluar dari rumah.
Weni berusaha lari dari kejaran mereka, tapi nahas kakinya tersandung hingga membuatnya terjatuh.
"Berani kamu menipu aku!" Viki menarik tubuh Weni lalu menamparnya.
"Ayah, tolong aku."
"Anak kurang ajar! Kan Ayah sudah bilang rencana kita."
Bukannya menolong, tapi Ayahnya justru mendorong Weni hingga jatuh tersungkur. Badannya kini terasa remuk. Perutnya juga terasa sangat sakit. Dia sudah tidak sanggup lagi berdiri.
"Mulai sekarang kamu bukan Ayah aku! Pergi kamu dari hidup aku dan ibu aku." teriak Weni dengan tangis yang terisak di sisa tenaganya.
"Berani sekali kamu. Kalau aku tidak menikahi ibu kamu, kamu dan ibu kamu sekarang pasti sudah jadi gelandangan." Pak Waryo akan memukul Weni lagi tapi kali ini anak buah Aslan segera menyergap mereka berdua.
Mereka berdua berhasil dibekuk dan tidak ada kesempatan lagi untuk melawan.
"Bawa Weni ke rumah sakit dulu!" Aslan memerintahkan anak buahnya untuk membawa Weni ke rumah sakit terlebih dahulu karena sekarang dia pingsan.
Aslan kini berdiri tegak di hadapan mereka berdua. "Siapa yang menyuruh kamu!" tunjuknya pada Viki.
"Tidak ada!" jawab Viki. Dia masih saja tidak mau mengaku yang sebenarnya.
Aslan semakin mengeraskan rahangnya. "Tidak ada? Dibayar berapa kamu sampai mau melindungi dia!"
Viki hanya terdiam.
"Pak, bawa dia ke kantor polisi! Biar saya yang menemukan dalang dibalik semua ini!"
Kedua orang itu segera diborgol dan dibawa ke kantor polisi.
__ADS_1
"Kamu sudah menemukan dimana dia?" tanya Aslan pada anak buahnya lewat panggilan whatsapp nya. "Sial! Ikuti dia terus!"
Aslan segera berlari menuju mobilnya. Dia letakkan ponselnya di depan pengemudi untuk mengikuti share lokasi terkini dari anak buahnya yang mengikuti pelaku itu.
"Ngapain dia ke rumah! Fara..."
...***...
"Nyonya Fara ada yang mencari diluar," kata Bi Sri memanggil Fara yang sedang beristirahat di kamarnya.
"Siapa Bi?" tanya Fara. Karena seingat dia sahabat-sahabatnya sedang KKN dan tidak bisa menjenguknya.
"Katanya teman nyonya." kata Bi Sri lagi.
Fara akhirnya bangun dan keluar dari kamar. "Teman? Dimana Bi?" tanya Fara.
"Menunggu di luar. Tidak mau saya suruh masuk."
Fara kini berjalan menuju teras rumahnya. Betapa terkejutnya dia saat melihat seseorang yang sangat tidak ingin dia temui berdiri di teras rumahnya.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Fara dengan keras. Dia harus berjaga-jaga, takut jika Tasya akan melukainya.
Tasya hanya tersenyum miring. "Hai, apa kabar? Aku dengar kamu habis keguguran, selamat ya."
Fara mengepalkan tangannya, dia begitu kesal dengam Tasya. Bisa-bisanya dia mengucapkan selamat atas kegugurannyam mungkin saja seseorang yang akan menabraknya itu juga suruhan Tasya. "Aku tahu, kamu yang melakukan ini semua. Kamu memang pantas dipenjara."
Tasya hanya tersenyum kecil. "Luka hati aku belum seberapa dibanding dengan penderitaan Aslan dan juga kamu."
"Luka hati? Kamu hanya masa lalu Mas Aslan, bukannya kamu juga yang meninggalkan Mas Aslan!"
Tasya mengangkat sebelah bibirnya, kini dia akan mengungkap semua masa lalunya. "Iya, itu benar. Aku memang menikah terlebih dulu. Karena Aslan tak juga menikahi aku, aku bercerai dari suami aku itu sebenarnya juga karena..." Tasya menghentikan sejenak perkataannya.
"Karena kamu belum bisa move on dari Mas Aslan!"
"Iya, aku memang belum bisa move on tapi bukan itu penyebab utama sebuah perceraian. Semua itu terjadi karena torehan masa lalu Aslan yang akan membekas selamanya."
Mata Fara mulai berkaca. "Maksudnya?"
💞💞💞
__ADS_1
.
Like dan komen ya...