
"Mama, Ayah, akhirnya Fara sudah menyelesaikan S1 Fara." Fara meletakkan sebuket bunga di atas makam Mama dan Ayahnya.
Setelah wisuda hari itu, Fara mengajak Aslan dan Arya ke makam kedua orang tuanya terlebih dahulu sebelum pulang.
Dulu dia sangat ingin wisuda dengan dihadiri oleh kedua orang tuanya tapi takdir berkata lain. Kedua orang tuanya telah tiada, bahkan sebelum dia kuliah. Meski demikian, sekarang dia mempunyai dua lelaki yang menemaninya wisuda. Dua lelaki yang sangat dia sayangi dan cintai.
Aslan adalah seorang suami yang menemaninya di saat suka dan duka. Meski diawal pernikahan bukan berdasarkan cinta bahkan dia sempat menolak Aslan mati-matian dan juga membencinya tapi justru Aslan lah penerang hidupnya, Aslan yang memberi kebahagiaan di hidupnya, dan dari Aslan lah dia merasakan kasih sayang seorang suami yang tiada duanya. Selalu memanjakan dan menjadikannya seorang ratu di rumahnya.
Sekarang di sampingnya juga ada Arya yang semakin besar. Dia sudah berumur 4 tahun. Semakin pintar dan semakin mandiri. Meski dulu di awal kehamilannya dia sempat menolak Arya hadir dalam rahimnya, tapi sejak mendengar detak jantungnya untuk pertama kalinya, Fara langsung menyayanginya dan mencintai dengan segenap jiwanya. Bahkan rasanya sekarang dia tidak bisa hidup tanpa Arya, belahan jiwanya yang sebenarnya.
Satu rengkuhan tangan kokoh di sepanjang bahu dengan tangan yang mengusap lengannya selalu berhasil menguatkan dirinya yang rapuh. Usapan jemari yang sering kali menghapus air matanya itu akan selalu dia rasakan dari Aslan. "Jangan nangis," kata Aslan sambil tersenyum.
"Aku terharu. Meskipun Ayah dan Mama tidak bisa hadir di wisuda aku tapi aku sangat bahagia ditemani Mas Aslan dan juga Arya."
"Mama, udah besar gak boleh nangis," kata Arya dengan polosnya.
Fara tersenyum mendengar kalimat Arya. Dia selalu menasihati Arya dengan kalimat itu tapi sekarang justru Arya yang menasihatinya.
"Ini tangisan bahagia sayang." Fara memeluk Arya. "Arya sudah berdo'a untuk Nenek dan Kakek belum?"
"Sudah, Ma." jawab Arya.
"Ayo, sekarang kita pulang. Arya belum tidur siang." Fara berdiri lalu menuntun Arya berjalan melewati jalan setapak di antara pemakaman.
Aslan yang berjalan di belakang mereka tersenyum menatap kedua punggung yang berjalan beriringan itu.
Dia jatuh cinta pada Fara pada pandangan pertama, saat Fara berdiri di tengah lapangan dan justru menerima pernyataan cinta dari Arsyad. Ada sebuah getaran hati yang tidak bisa dia pungkiri. Dan takdir berpihak padanya, saat kedua orang tuanya menjodohkannya. Dia semakin yakin dengan semua perasaannya, meski diawal pernikahannya semua tidak mudah. Begitu sulit mendapatkan hati Fara, bahkan dia pernah hampir menyerah mempertahankan Fara. Tapi kehadiran Arya di dalam hidup mereka, secara perlahan membuat rasa cinta itu tumbuh di hati Fara. Dia sangat bersyukur, dia sudah sampai di tahap ini bersama Fara.
"Ayah, ayo lama banget jalannya." teriak Arya saat sampai di dekat mobil dan berjarak tiga meter dengan Aslan.
__ADS_1
Aslan tersenyum lalu melangkah jenjang. "Arya sama Mama yang jalannya terlalu cepat."
"Ayah yang lama." Arya semakin pintar saja berdebat. Dia tidak mau dikalahkan. Wajah boleh sama dengan Aslan tapi sifatnya begitu mirip dengan Fara.
Aslan tersenyum lalu mengusap puncak kepala Arya. "Arya di depan saja sama Mama." Aslan membukakan pintu untuk mereka di berdua di jok depan.
Setelah mereka bertiga masuk ke dalam mobil, mobil mereka segera melaju pulang ke rumah.
Di dalam mobil ada saja yang diceritakan Arya.
"Ma, Arya pengen cepat besar, terus kuliah, terus kerja kayak Ayah." kata Aslan sambil memainkan jemari Fara.
"Iya, sekarang Arya belajar yang rajin biar nanti sukses kayak Ayah." kata Fara yang memangku Arya.
"Iya Mama..." Arya terus bercerita tentang masa depan impiannya. Aslan dan Fara sesekali tertawa mendengar celoteh Arya.
Malam itu, Fara merebahkan tubuhnya yang terasa lelah di atas ranjangnya. Setelah wisuda, Fara lanjut ke makam kedua orang tuanya. Setelah itu berlanjut dengan acara kejutan dari sahabat dan kedua kakaknya di rumahnya sampai malam.
Kini Fara menarik selimutnya sambil memeluk gulingnya. Mumpung Aslan masih mengobrol dengan kedua kakaknya di ruang tamu jadi tidak ada yang mengganggu tidurnya. Baru jam 8, Fara sudah tertidur dengan nyenyak.
Kini jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam, Aslan baru masuk ke dalam kamarnya. "Udah pulas banget tidurnya." Aslan mengganti pakaiannya dengan piyama lalu dia merebahkan dirinya di samping Fara. Dia telusuri wajah pulas Fara dengan jemarinya. "Cantik." Lalu satu kecupan hangat mendarat di kening Fara. Dia peluk tubuh itu dan segera menyusul Fara ke alam mimpi.
"Mas Aslan." tiba-tiba Fara terbangun dari tidurnya. Dia kini melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 02.00.
"Kemarin aku tidur jam 8 jadi sekarang udah kebangun." Perlahan Fara menyingkirkan tangan Aslan yang melingkar di perutnya. Kemudian dia turun dari ranjang dan ke kamar mandi untuk buang air. Setelah selesai, dia kembali naik ke atas ranjang. Dia berusaha memejamkan matanya lagi tapi tidak bisa. Beberapa hari ini dia memang sudah terbiasa tidur malam karena tugas kuliahnya yang menumpuk.
Dia kini menatap Aslan yang sedang tertidur dengan nyenyak.
Dia dekatkan wajahnya dan mengecup bibir Aslan.
__ADS_1
"Apa sayang?" Merasakan bibirnya tersentuh jelas membuat Aslan terbangun.
"Kebangun terus gak bisa tidur lagi." kata Fara sambil menatap Aslan.
"Ya udah sini aku temani." Aslan membuka mata merahnya sambil menarik tubuh Fara ke dalam dekapannya. "Kamu mau apa?"
"Gak usah, Mas Aslan tidur aja. Matanya merah banget pasti mengantuk."
Aslan mendekatkan dirinya lalu mencium lembut bibir Fara. Perlakuan Aslan selalu membuat Fara terbuai. Dia balas pagutan itu. Awalnya hanya pelan lama-lama semakin meliar.
"Ayo, program adiknya Arya." kata Aslan dengan wajah yang telah memerah dipenuhi hasrat. Rasa kantuk itu sudah hilang dengan sekejap.
Fara hanya tersenyum kecil lalu dia mendorong tubuh Aslan agar terlentang. Dia naik ke atas tubuh Aslan kemudian membuka kancing piyama Aslan. "Dulu kan waktu buat Arya, Mas Aslan maksa aku. Sekarang gantian aku yang akan maksa Mas Aslan."
Mendengar kalimat itu membuat dada Aslan berdebar tak karuan. "Tentu sayang, aku akan pasrah dengan paksaan kamu."
Fara tersenyum miring, dia melepas piyama Aslan lalu mengikat kedua tangan Aslan di atas kepalanya. "Terima pembalasan dari aku..."
💞💞💞
.
.
😂😂😂
Mau diapain itu singanya.. jangan dikorbanin ya...
like dan komen...
__ADS_1