
Setelah beberapa hari berlalu, keadaan sudah mulai aman dan terkendali. Sudah tidak ada media yang ingin meliput berita Fara. Kini Fara bisa kuliah dengan tenang.
Seperti pagi hari itu dia berangkat ke kampus di antar oleh Aslan.
"Sayang, hati-hati ya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku." pesan Aslan setelah dia menghentikan mobilnya di dekat gerbang kampus Fara.
Fara menganggukkan kepalanya. "Iya Mas." kemudian dia mencium punggung tangan Aslan yang dibalas dengan dua kecupan di pipi Fara.
Setelah itu dia turun dari mobil Aslan dan berjalan masuk ke dalam kampus. Baru selangkah melewati gerbang dia sudah disambut oleh Ayla dan Lili.
"Akhirnya lo masuk juga." kata Ayla sambil menggandeng tangan Fara.
"Iya, biar gue cepat lulus. Kalau lama-lama gak masuk gue jadi ketinggalan banyak materi. Btw emang udah aman kan?" tanya Fara memastikan lagi.
"Aman. Dijamin gak ada yang ungkit tentang kasus lo." mereka kembali mengobrol sambil berjalan menuju kelas.
Pandangan mata Fara kini tertuju pada beberapa mahasiswa yang sibuk membuat spanduk dan slogan di lapangan. "Mereka mau demo?" tanya Fara. Dia jelas ketinggalan berita itu.
Mereka bertiga kini berjalan ke lapangan.
"Iya, kita besok mau demo di depan gedung DPR agar harga BBM diturunkan. Pokoknya gue ikut dan mau berorasi." kata Ayla dengan semangat. "Gue buatin juga slogannya biar besok tinggal bawa dong."
"Far, besok lo ikut yuk?" ajak Lili. "Pasti seru banget. Biar ada pengalaman demo waktu kuliah."
"Gue?" Fara tersenyum ragu. "Gue pasti gak boleh sama Mas Aslan." Sudah dipastikan suami posesifnya itu tidak akan mengizinkannya.
"Coba aja bilang. Gak usah berorasi di depan cukup bawa slogan aja di belakang." kata Ayla yang semakin mengompori Fara agar ikut.
"Pasti gak boleh deh sama Mas Aslan." Fara mengerutkan dahinya. Sebenarnya dia sangat ingin ikut, kapan lagi dia punya pengalaman ikut demo. "Tapi biar gue coba bilang deh, siapa tahu diizinin."
"Kasih jatah double entar malam biar dikasih izin." kekeh Ayla. Kemudian mereka kembali ke lorong kampus.
"E buset, yang ada gue malah pegal semua dan gak jadi ikut demo." Tidak tahu saja kalau singa sedang mengamuk di atas ranjang, pagi-pagi badannya pasti pegal semua karena dihajar semalaman.
Kedua sahabat Fara hanya tertawa. "Ya udah, kalau lo gak bisa ikut nanti gue kirim videonya aja. Moga aja besok gue ketemu sama cowok yang lagi gue cari. Dengar-dengar kampus sebelah juga banyak yang ikut makanya gue mau berorasi di depan biar gue bisa sekalian cari dia."
__ADS_1
"Ya ampun, masih aja mikirin dia. Dia udah lupa kali sama lo."
Begitulah Ayla, optimisnya selalu tinggi. "Gue gak peduli. Nanti biar gue bikin kenangan baru sama dia biar dia ingat terus sama gue."
Fara hanya tertawa. "Ya udahlah aku mau ke kelas dulu. Sampai jumpa nanti pas istirahat." Fara melambaikan tangannya lalu dia berjalan menuju kelasnya.
...***...
Malam hari itu setelah menidurkan Arya, Fara duduk di sebelah Aslan yang sedang sibuk dengan laptopnya di ruang kerja. Sebelumnya dia sudah membuat secangkir coklat hangat dan diletakkan di dekat Aslan. Dia harus bisa mengambil hati Aslan malam ini agar dia mendapat izin untuk ikut demo besok.
"Tumben sibuk Mas?" tanya Fara.
Aslan menghentikan gerak tangannya di atas laptop lalu menatap Fara. "Biasa akhir bulan. Bebarengan dengan anak-anak persiapan ujian, jadi aku buat soal-soal latihan dulu." Aslan mengambil secangkir coklat hangat itu dan meminumnya.
"Kalau mau buat soal latihan bilang sama aku. Aku bisa bantuin." kata Fara sebagai seorang istri yang baik.
Aslan meletakkan kembali cangkir yang telah kosong lalu merengkuh pinggang Fara. "Lupa kalau istri aku pintar." lalu dia mencium kening Fara. "Tumben nyusulin aku ke sini. Biasanya kamu langsung rebahan sambil main hp."
Fara terdiam sejenak sambil memainkan ujung jarinya. "Hmm, Mas aku besok mau ikut demo. Boleh ya?"
"Mas, nanti aku gak ikut orasi kok. Aku jadi pasukan di belakang." kata Fara sambil memasang wajah memelasnya. "Boleh ya? Biar aku ada pengalaman ikut demo selama jadi mahasiswa."
Aslan meraih tubuh Fara dan memangkunya. "Tetap gak boleh." kata Aslan lagi melarangnya.
"Ih, Mas. Teman aku pada ikut semua loh. Termasuk Ayla dan Lili. Bahkan Ayla iku berorasi di depan." Fara memainkan jemari Aslan yang kini berada di perutnya. "Boleh ya?" tanyanya lagi.
"Gak boleh." Aslan tetap tidak akan memberi izin pada Fara untuk ikut demo. "Bahaya. Nanti kalau mereka pada rusuh. Pakai bakar-bakar segala. Belum lagi kalau polisi sampai semprot gas air mata. Aku gak mau kamu kenapa-napa."
"Ih, tahu gitu aku tadi gak usah minta izin dulu." Fara melepas tangan Aslan lalu turun dari pangkuannya dan berjalan cepat menuju kamar.
"Sayang..." Aslan segera mematikan laptopnya lalu menyusul Fara.
Fara sudah merebahkan dirinya di atas ranjang sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Sayang, udah jangan cari masalah. Pokoknya aku tetap gak izinin kamu." Aslan menghempaskan dirinya di sebelah Fara.
__ADS_1
Fara membalikkan badannya dan meraba dada Aslan dengan jemarinya. "Aku kasih double deh malam ini." Fara masih belum menyerah, dia berusaha merayu Aslan. Karena dia memang sangat penasaran dengan suasana demo. Selama ini dia hanya bisa menonton demo lewat layar tv, kapan lagi dia bisa terjun secara langsung. Satu tahun sekalipun belum tentu ada. Mumpung ada demo serentak gara-gara BBM naik dia harus ikut tampil.
"Gak boleh. Aku gak mau kamu kenapa-napa. Ada Arya yang butuh kamu." kata Aslan menegaskan sekali lagi.
"Ini bukan perang, aku gak bakal kenapa-napa."
"Kamu ngeyel banget sih." Aslan memencet hidung Fara. "Demo itu gak enak. Panas, desak-desakan juga. Nanti kamu kecapekan."
"Emang Mas Aslan pernah?"
"Ya gak pernah."
"Itu berarti sok tahu."
Aslan menjewer pipi Fara. "Kalau dibilangin sama suami gak boleh ya gak boleh, harus nurut."
"Ih," seketika Fara menjauh dan memunggungi Aslan.
"Loh sayang, gak jadi double service nya." Aslan menyentuh bahu Fara agar Fara berbalik menatapnya.
"Gak jadi. Mas Aslan gak ngizinin."
"Kok gitu? Sini."
"Nggak mau! Sekalian libur aja sebulan kalau bisa setahun!"
"Sayang, sini..." Aslan masih berusaha memutar tubuh Fara.
"Gak mau!"
Aslan menghela napas panjang. Ya sudahlah, yang jelas dia tetap tidak akan mengizinkan Fara mengikuti kegiatan yang membahayakan dirinya.
💞💞💞
.
__ADS_1
Libur dulu setahun.. 😂