Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 58


__ADS_3

Pagi hari itu Fara duduk di ruang tamu sambil melihat sebuah kalender kecil. Hari begitu cepat berlalu. Hari itu adalah hari perkiraan lahir tapi Fara masih belum merasakan tanda-tanda apapun.


"Mas, hari ini antar aku periksa aja ya. Udah HPL tapi belum ada tanda-tanda." kata Fara dengan khawatir.


Aslan yang sedang membawa segelas susu untuk Fara kini duduk di sampingnya.


"Iya, sebentar lagi kita ke sana. Aku sudah kosongkan jadwal untuk beberapa hari ini. Untuk menanti kelahiran anak kita."


Fata meletakkam kembali kalender itu di atas meja lalu meminum susu yang telah dibuatkan Aslan sampai habis.


"Sayang, masih betah yah di perut Mama," kata Aslan sambil mengusap perut Fara. "Cepat kasih tanda ya, kita udah gak sabar ingin ketemu."


Si calon bayi mungil itu justru semakin bergerak aktif.


"Ih, masih aktif dan betah di dalam." kata Fara yang merasakan gerakan itu.


"Kamu siap-siap dulu, kita berangkat periksa sekarang saja, mumpung masih pagi biar gak antri lama." Aslan meraih tangan Fara dan membantunya berdiri.


Mereka berdua masuk ke dalam kamar lalu segera bersiap untuk ke Dokter Kandungan.


"Buku periksanya gak lupa kan?" tanya Aslan sambil berjalan menuju mobilnya.


"Sudah Mas."


Kemudian mereka berdua masuk ke dalam mobil. Beberapa saat kemudian, Aslan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Tak banyak perbincangan di antara mereka. Fara hanya mengusap perutnya berulang sambil melihat jalanan pagi hari itu yang ramai dengan kendaraan.


Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah sakit. Mereka hanya menunggu sebentar lalu masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


Seorang Dokter yang selalu memeriksa kondisi Fara dari mulai dia awal hamil kini tersenyum menyambut kedatangan mereka.


"Belum ada tanda-tanda?" tanyanya.


"Belum, Dok."


"Kita langsung lakukan USG saja ya."


Dengan dibantu Aslan, Fara naik ke atas brangkar USG. Setelah gel dioles di perut Fara, dokter mengarahkan alat USG itu.


"Posisi janinnya sudah masuk panggul, sudah bagus." jelas Dokter itu. "Tinggal menunggu tanda-tanda saja. Air ketubannya masih cukup bagus juga. Kita tunggu maksimal 7 hari, jika memang masih belum ada tanda-tanda kita akan segera lakukan induksi atau pilih opsi terakhir dengan cara sesar."

__ADS_1


Setelah selesai, Aslan membantu Fara duduk lalu turun dari brangkar. Mereka kini kembali duduk di depan dokter untuk berkonsultasi.


"Apa tidak ada cara alami untuk me rang sang kontraksi?" tanya Aslan.


Dokter itu tersenyum kecil. "Sudah melakukan olahraga setiap pagi?"


Fara menganggukkan kepalanya. "Sudah Dok, saya rutin melakukan olahraga setiap pagi."


"Kalau begitu lakukan olahraga malam secara rutin juga ya."


Mereka berdua tidak mengerti dengan maksud Dokter itu. "Olahraga malam?"


Dokter itu semakin tersenyum. "Iya olahraga malam. Sejak kandungan berapa bulan kalian tidak melakukan aktifitas suami istri?"


Mendengar hal itu, barulah Fara dan Aslan mengerti tapi mereka hanya tersenyum kecil. Tidak mungkin mereka mengatakan yang sebenarnya bahwa mereka hanya melakukannya sekali dan setelah jadi tidak pernah melakukannya lagi.


"Justru berhubungan suami istri sangat bagus di trimester akhir. Apalagi saat usia kandungan sudah memasuki 9 bulan karena kandungan sper ma yang dihasilkan bisa memancing kontraksi secara alami. Tapi tetap harus dilakukan dengan hati-hati agar ketuban tidak sampai pecah." jelas Dokter kandungan itu.


Fara hanya menundukkan pandangannya dengan pipi meronanya.


"Baik. Terima kasih atas sarannya." kata Aslan dengan kaku. Jujur saja detak jantungnya sudah berdebar tak karuan. Apakah kali ini dia memang harus melakukannya?


"Semoga segera datang gelombang cintanya. Pasti sudah tidak sabar bertemu buah hatinya."


Setelah mereka keluar dari ruangan, tangan Aslan masih setia menggenggam tangan Fara dengan erat. Mereka sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing.


Sampai mereka masuk ke dalam mobil pun tetap sama. Jika tidak ada yang memulai, pasti mereka akan terdiam sampai rumah.


Benar saja, selama perjalanan mereka hanya terdiam. Sampai mobil itu berhenti dan mereka keluar dari mobil.


Aslan merengkuh pinggang Fara saat berjalan ke kamar. Sepertinya mereka harus segera membahas masalah ini.


"Hmmm, Mas."


"Sayang..."


Penggil mereka secara bersamaan setelah duduk di tepi ranjang.


"Kayaknya kita harus lakuin saran dari dokter." kata Aslan pada akhirnya. Tentu ini menjadi kesempatan emas baginya dengan alibi saran dari dokter. Dia kini memeluk Fara dari samping. Rasanya sudah tidak sabar ekor singanya merasakan kenikmatan lagi.


Fara terdiam beberapa saat. Dia ragu melakukannya. Badannya saja sudah sulit bergerak, apa akan terasa enak atau malah sakit?

__ADS_1


"Emang bisa dengan perut besar kayak gini?" tanya Fara.


Iya juga. Aslan kini membayangkan posisi yang pas dan nyaman untuk ibu hamil. Tapi semakin dia bayangan kenapa dia semakin ingin mencoba.


Aslan kini mengambil ponselnya. Dia membuka google lalu mengetik sesuatu.


Fara yang penasaran ikut melihat apa yang dicari Aslan. Dia melebarkan matanya saat membacar pencarian yang telah diketik Aslan.


Posisi aman dan nyaman untuk berhubungan saat hamil tua.


Fara menelan salivanya lalu mengalihkan pandangannya. Jantungnya sudah berdetak tak beraturan. Haruskah kali ini dia benar-benar melakukannya bersama Aslan demi buah hatinya.


Aslan terenyum kecil sambil membaca beberapa artikel yang sudah dia dapat


"Kayaknya kita harus lakukan sekarang. Gak perlu nunggu malam." Aslan meletakkan ponselnya lalu menatap Fara.


Fara semakin deg-deg an. Sekarang? Benarkah itu?


"Hmmm, tapi Mas. Anu, itu..." Fara menjadi bingung apa yang harus dia lakukan. Tangannya kini sudah berkeringat.


Aslan semakin mendekatkan dirinya, lalu mulai membuka kancing Fara satu per satu. "Demi calon buah hati kita. Emang kamu gak mau cepat lihat dedek Arya, gendong dia, peluk dia." Begitulah, Aslan terus mengompori Fara.


Fara mengangguk kecil. "Ya pengen. Udah gak sabar pengen cium pipinya juga." kata Fara, tapi satu tangannya kini menahan tangan Aslan saat akan membuka kancing ketiga.


"Ya udah yuk, tunggu apa lagi? Lakukan sekarang saja." Aslan mendekatkan dirinya lalu mencium dengan lembut bibir Fara.


Fara melepas pagutan Aslan. Perasaannya kini campur aduk menjadi satu. Antara ingin meneruskan dan takut.


"Tapi gak akan sakit kan? Apalagi perut aku besar banget gini."


Aslan menggelengkan kepalanya. "Aku akan melakukan foreplay yang tepat, memberi kamu kenyamanan dan akan membuat kamu melayang." Aslan mencium pipi Fara lagi lalu mendekatkan bibirnya di telinga Fara. "Dan tentu akan membuat kamu men de sah nikmat."


Mendengar suara Aslan membuatnya merinding di sekujur tubuhnya. Dia seperti tersihir dan kali ini dia akan pasrah dengan semua sentuhan Aslan.


💞💞💞


.


.


Jadi apa gak hayoooo...

__ADS_1


.


Like dan komen ya...


__ADS_2