
"Cantik." Aslan memeluk Fara dari belakang saat Fara sedang memandangi dirinya di depan cermin.
Fara yang memakai gaun berwarna putih dengan riasan make up di wajahnya memang begitu terlihat cantik. Dia seperti menjadi seorang pengantin di hari itu. Acara resepsi dan perayaan kelahiran Arya digelar sangat mewah di rumah orang tua Aslan.
Banyak tamu penting yang datang dari rekan kerja Papanya Aslan.
Fara kini menggandeng lengan Aslan dengan gugup.
"Jangan gugup gini, nanti cuma bersalaman dengan tamu yang datang sambil senyum. Udah, gitu aja." kata Aslan yang kini merengkuh pinggang Fara.
"Arya sama Mama kan, Mas?" tanya Fara, karena sudah hampir satu jam sejak dia di make up Arya tak bersamanya.
"Iya, nanti kalau waktunya minum kita ambil."
Mereka berdua berjalan menuju ruang tamu rumah Aslan yang sangat luas dan berdiri di samping orang tua Aslan. Beberapa tamu sudah datang dan memberi selamat pada mereka.
Arya masih anteng di gendongan Bu Lani, sedangkan Fara kini hanya bisa memasang senyum dan bersalaman pada tamu-tamu yang datang meski sama sekali tidak dia kenal.
Pak Robi dan Aslan kini justru asyik mengobrol dengan salah satu rekan bisnis Pak Robi. Daripada merasa menjadi patung pajangan, lebih baik Fara mengambil Arya, alih-alih ingin mengambil Arya, Bu Lani justru mengajaknya bergabung dengan ibu-bu sosialita.
"Ini loh, mantu dan cucu saya jeng." kata Bu Lani memperkenalkan Fara.
"Cantik banget, masih muda. Cucunya juga ganteng."
Fara kembali bersalaman dengan mereka dan memperkenalkan dirinya.
"Jadi mereka ini kamu jodohkan jeng sama anak sahabat kamu itu?"
"Iya, perjodohan ini sukses. Ternyata mereka cocok." kata Bu Lani sambil duduk dan masih setia memangku Arya.
"Udah lulus kuliah?" tanya salah satu dari ibu-ibu itu.
"Masih kuliah." jawab Bu Lani mendahului Fara.
Beginilah yang Fara tidak suka dari sebuah pesta, ketika ibu-ibu sudah berkumpul pasti ada saja bahan perbandingan yang membuat dirinya kembali insecure. Dia memang masih umur belasan, berbicara dengan kaum ibu-ibu jelas bukan tandingannya. Rasanya dia ingin pergi saja dari tempat itu.
Untunglah seorang malaikat penolong menyelamatkannya. Aslan datang dan mengajaknya pergi dari tempat itu. Tentu, dengan senang hati Fara menurutinya.
__ADS_1
"Maaf, tadi aku tinggal sebentar. Aku tahu kamu gak nyaman ngobrol dengan ibu-ibu." kata Aslan, tangannya kini terpaut dengan tangan Fara.
Baru saja mereka akan duduk berdua, Pak Robi memanggil Aslan.
"Aslan, ini Pak Ilyas yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita." kata Pak Robi.
Setelah Aslan mendekat, ternyata Pak Ilyas dan Aslan sudah saling mengenal. "Aslan apa kabar?" tanyanya
Kali ini, Aslan mempunyai firasat buruk. Bagaimana mungkin semua ini terjadi secara kebetulan seperti ini. "Baik." jawabnya singkat.
"Sudah kenal dengan putra saya?"
"Iya, dulu putra bapak sempat dekat dengan putri saya. Kebetulan putri saya juga ikut. Tasya..." Pak Ilyas memanggil putrinya.
Raut wajah Fara semakin muram. Lagi-lagi dia bertemu dengan mantan Aslan. Mengapa dia seperti hantu saja yang bergentayangan dimana-mana.
Aslan semakin mengeratkan rengkuhannya di pinggang Fara. Aslan sudah siaga satu, sebentar lagi pasti Fara akan marah lagi dengannya. Semoga saja tidak ada obrolan yang semakin memicu emosi Fara.
"Baru tahu kalau Tasya putri Bapak." Pak Robi tersenyum saat Tasya bersalaman dengannya.
"Jodoh memang tidak ada yang tahu, Aslan sekarang sudah punya istri dan anak." kata Pak Robi lagi.
"Iya, dulu memang kita yang tidak sabar menunggu keseriusan Aslan, hingga akhirnya Tasya menikah dengan laki-laki pilihan Mamanya tapi ternyata mereka tidak cocok dan bercerai."
Mendengar hal itu, Fara semakin was-was. Jadi status Tasya saat ini sudah janda.
"Rencananha yang memegang proyek ini adalah Tasya, agar dia belajar masalah bisnis juga."
Rasanya Fara sudah tidak sanggup mendengarnya. Bekerja sama dengan Tasya, jelaslah Aslan akan semakin sering bertemu dengan dia.
Fara melepas tangan Aslan, dia berjalan menjauh tapi kedua bapak yang sedang mengobrol itu justru menyuruh Tasya untuk mengikutinya.
"Aslan, mengobrol dulu sama kita biar Tasya dengan istri kamu."
Aslan menghela napas panjang apalagi saat mendapatkan tatapan mematikan dari Fara.
"Hai, kita ketemu lagi." kata Tasya. "Selamat ya, sudah menjadi nyonya Aslan selamat juga atas kelahiran bayi lucunya."
__ADS_1
"Iya makasih." jawab Fara dengan kaku. Dia sangat tidak suka dengan orang yang hanya baik di depan saja.
"Santai aja. Aku dan Aslan hanya masa lalu."
Sudah kesal, Fara semakin dibuat kesal saja. Andai ini bukan di rumah mertuanya, dia sudah menendang Tasya keluar dari rumah.
"Oiya, kamu lulusan apa? Kelihatannya kamu masih muda banget."
"Baru lulus SMA." kata Fara. Biar si ular betina itu merasa puas sekalian.
"Hah? Baru lulus SMA udah menikah dan punya anak. Emang kamu gak punya cita-cita atau impian? Aku aja dulu lulusan Amerika sama Aslan juga."
Fara mengepalkan tangannya. Dia ingin sekali memukul wanita ular itu. "Iya gak papa. Cita-cita aku kan memang mau menikah dengan Mas Aslan." kata Fara.
"Ooo, cita-cita yang mulia, sekalian berbakti pada orang tua ya. Semoga langgeng deh."
Fara sudah sangat muak, dia tidak tahan lagi. Dia menghentakkan kakinya dan pergi dari ruang tamu.
Tasya menyunggingkan sebelah bibirnya. Masih bocah sekali.
Fara akan melangkah menuju kamar Aslan tapi tangannya di tahan oleh Aslan. "Kamu kenapa? Tasya ganggu kamu?"
Wajah Fara cemberut dengan bibir manyun dan pipi menggembung. "Kembali sana, nikmati acaranya sama janda kembang."
Fara membuka pintu tapi saat Fara akan membanting pintu itu Aslan berhasil menahannya.
"Sayang. Kok marah..." Aslan masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat.
"Sana, lanjutin acaranya. Aku udah gak mood."
Aslan mendekat dan memeluk Fara dari belakang. "Cemburu ya?"
💞💞💞
.
Like dan komen ya...
__ADS_1