
Malam itu kian larut, udara dingin sangat terasa karena diluar rumah hujan turun cukup deras. Fara kini duduk di ruang tengah sambil memegang ponselnya. Dia sedang membahas acara prom night di grup chat kelasnya. Tiba-tiba semuanya sudah keluar dari topik saat membahas soal makanan yang menemani mereka di malam yang dingin itu.
Saat Fara melihat foto martabak dari temannya, tiba-tiba saja Fara ingin memakannya juga. Dia menutup grup chat nya lalu membuka aplikasi ijo berniat untuk memesan martabak secara online.
Akhirnya dia menemukan penjual martabak langganannya. Dia memilih varian daging spesial. Tapi saat menunggu kofirmasi driver, orderannya tak juga ada yang menerima.
"Mana sih kok gak ada yang terima orderan, apa karena hujan ya." kemudian Fara mencobanya lagi. "Tuh kan, gak ada yang terima lagi." gerutu Fara karena rasanya dia sudah tidak sabar untuk memakannya.
"Kenapa, Far?" tanya Aslan yang mendengar Fara sedari tadi mendumel sendiri. Dia kini berdiri di belakang sofa yang Fara duduki. "Pengen martabak?" tanya Aslan yang memang bisa melihat Fara sedang memesan martabak tapi belum juga diterima oleh driver.
Seketika Fara meletakkan ponselnya. "Iya tadinya, tapi driver nya gak ada yang konfirmasi. Hmm, ya udah gak jadi."
"Ya udah, aku beliin ya. Tunggu sebentar."
"Nggak usah. Diluar hujan." cegah Fara tapi Aslan sudah berlalu untuk mengambil jaketnya.
"Gak papa. Aku belikan, daripada nanti kamu gak bisa tidur. Mau yang varian daging sapi spesial?" tanya Aslan memastikan lagi.
Fara menganggukkan kepalanya.
"Ya udah, tunggu sebentar ya." Aslan mengusap sesaat puncak kepala Fara lalu dia keluar dari rumah.
Fara tersenyum kecil. Dia kini menunggu Aslan sambil memainkan kembali ponselnya. Ikut bergabung lagi dengan obrolan grup chat, ternyata obrolan makanan sudah berganti dengan outfit. "Dresscode warna putih. Aku kan gak punya. Aku sampai lupa belum nyiapin dress nya. Acaranya besok malam lagi. Apa ajak Ayla aja buat beli. Hmm, atau Pak Aslan?"
Fara memutar bola matanya sambil berpikir. "Lihat besok ajalah."
Beberapa saat kemudian Aslan datang. Dia membawa dua kardus martabak lalu dia letakkan di atas meja. "Bentar aku mau ganti baju dulu."
Fara mendongak dan menatap jaket serta celana Aslan yang basah, lalu Fara mengikutinya. "Kok basah, tadi gak bawa mobil?" tanya Fara yang kini berdiri di dekat pintu.
"Nggak. Barusan aku bawa motor biar lebih cepat. Udah pakai jas hujan tapi masih saja basah. Soalnya hujannya tambah deras." kata Aslan sambil membuka lemari untuk mengambil pakaiannya.
Tiba-tiba saja suasana hati Fara berubah. Ada rasa kasihan yang bercampur rasa kesal dan khawatir. "Lain kali kalau hujan bawa mobil. Kalau memang masih deras ya udah jangan jalan dulu. Besok-besok gak usah dibeliin deh kalau aku pengen apa-apa."
__ADS_1
Fara menghentakkan kakinya lalu dia kembali duduk di sofa ruang tengah.
"Loh, Fara kok malah ngambek." Aslan menghela napas panjang lalu cepat-cepat dia berganti pakaian dan menyusul Fara. Dia kini duduk di samping Fara. "Far, jangan marah. Iya, aku minta maaf."
Fara kini menatap Aslan. "Kenapa Pak Aslan yang minta maaf. Aku yang sudah merepotkan, maaf."
Aslan justru tersenyum. Sudah banyak sikap Fara yang berubah, dia yang sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya. "Gak papa. Ini sudah menjadi kewajibanku memenuhi segala keinginan kamu. Nih, sekarang kamu makan mumpung masih hangat."
Aslan membuka kardus martabak itu. Aroma kelezatannya langsung tercium di hidung Fara. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk memakannya. Dia mendekat dan mengambil satu potong martabak itu tapi urung dia masukkan ke dalam mulutnya. Ternyata dia masih belum bisa makan sendiri.
"Sini, aku suapi." Aslan mengambil alih martabak itu dan mulai menyuapinya.
Fara memakannya dengan lahap, bahkan hanya dalam waktu beberapa detik saja Fara sudah menghabiskan setengah porsi.
"Pak Aslan makan juga." kata Fara dengan mulut yang penuh.
"Iya, nanti aja. Habiskan kalau kamu masih mau."
Baru saja disuapi Fara, detak jantung Aslan meningkat drastis. Benarkah ini Fara? Atau Fara melakukan ini karena keinginan calon anaknya?
"Enak banget kan, ini martabak langganan aku. Biasanya sih aku beli online."
"Iya enak banget." Tentu rasanya semakin enak karena makan secara langsung dari tangan Fara.
Fara masih terus menyuapi Aslan. "Pak Aslan jangan dahuluin aku terus. Tuh, Pak Aslan jadi kurus juga sekarang. Udah gak gagah lagi kayak singa."
Senyum masih tercetak di ujung bibir Aslan. Apakah semua do'a-do'anya telah terkabul? Hati Aslan masih saja berdebar dan berbunga-bunga. "Far, aku udah kenyang. Sini, kamu makan lagi."
Fara menggelengkan kepalanya. "Perut aku udah penuh. Martabaknya porsi besar dan aku udah habis setengah. Yang satu kardus kasih Bi Sri saja biar dimakan sama Pak Darto juga."
"Ya udah. Aku buatin susu, mau?"
Fara menganggukkan kepalanya. "Yang rasa strawberry ya."
__ADS_1
"Iya." Aslan berdiri sambil membawa sisa martabak itu ke dapur.
Fara kini baru merasakan enaknya dimanja suami seperti ini.
Eh, kok aku malah keterusan manja sama Pak Aslan? Mode marah aku sekarang juga udah hilang.
Fara memikirkan perasaannya. Apa dia memang sudah bisa menerima kehadiran Aslan dalam hidupnya?
Beberapa saat kemudian Aslan datang dengan membawa segelas susu hangat rasa strawberry sesuai keinginan Fara. "Setelah minum susu langsung tidur ya."
Fara menganggukkan kepalanya lalu dia meneguk susu itu sampai habis. Setelah itu dia berdiri. Dia akan melangkah menuju kamarnya tapi langkah kakinya justru berhenti di depan kamar Aslan.
"Mau tidur di kamar aku, gak papa." kata Aslan. Dia memang selalu peka dengan tingkah Fara.
Fara akhirnya masuk ke dalam kamar Aslan lalu merebahkan dirinya di ranjang Aslan.
Beberapa saat kemudian, Aslan masuk ke dalam kamar dan merebahkan dirinya di samping Fara. Dia memberi ruang kosong di antara mereka.
"Cepat tidur sudah malam."
Fara menganggukkan kepalanya. Dia kini memejamkan matanya. Tapi dia tak juga bisa tertidur. Kenapa rasanya dia ingin semakin dekat dengan Aslan. Benar-benar si calon bayi ingin sekali terus dimanja Ayahnya.
Tanpa membuka mata, Fara menggeser dirinya. Dia meraih lengan Aslan dan memeluknya baru akhirnya dia bisa tertidur.
Aslan hanya tersenyum kecil melihatnya, semakin hari Fara semakin tidak bisa jauh darinya. Dia berharap ini bukan karena mengidam semata tapi juga keinginan Fara.
Kemudian Aslan menarik selimut hingga menutupi tubuh Fara, lalu dia mengusap rambut Fara dan semakin memberi kenyamanan untuk Fara.
Andai kita bisa seperti ini selamanya...
.
.
__ADS_1