
Akhirnya napas Fara berangsur normal dan detak jantung juga sudah kembali stabil. Aslan bisa sedikit bernapas lega. Dia tidak bisa membayangkan jika hidupnya tanpa Fara.
"Pak, silakan tunggu diluar. Tunggu sampai kami panggil baru boleh masuk." kata suster mengusir Aslan lagi.
Kali ini Aslan kembali keluar dan duduk dengan lemas di kursi tunggu. Dia usap wajahnya yang dipenuhi air mata.
Beberapa saat kemudian Ferdi datang dengan tergesa. "Bagaimana keadaan Fara?"
"Masih ditangani, Kak." jawab Aslan disela isak tangisnya yang tersisa.
Ferdi segera berjalan cepat menuju PMI untuk mendonorkan darahnya.
Aslan berulang kali menyusut air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir. Kemudian dia menghubungi Mamanya untuk memberi kabar keadaan Fara.
"Ma, Fara masuk rumah sakit..."
Hanya itu yang bisa Aslan katakan. Dia hanya terdiam mendengar kalimat Mamanya yang panjang lebar di ujung sana. Setelah mematikan panggilannya dia kini berdiri dan berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil baju ganti yang ada di mobilnya.
Setelah itu dia menuju musholla karena adzan maghrib telah berkumandang.
Kini dia bersujud sambil menangis di atas sajadah memohon kesembuhan Fara dan memohon ampun atas segala dosa-dosanya.
...***...
"Jika terlambat sedikit saja nyawa istri Anda sudah dalam bahaya.
Istri Anda mengalami hipotermia yang parah dan kekurangan darah. Selain karena luka di kepalanya, hb yang sangat rendah juga disebabkan karena pasca keguguran.
Sekarang masih dalam keadaan kritis. Semoga saja bisa cepat sadar, karena aliran darah menuju ke otak sempat terhenti beberapa saat."
Aslan mengingat semua penjelasan dari Dokter yang begitu menyayat hatinya. Dia kini duduk di dekat brangkar Fara sambil menatap Fara yang terbaring lemah tak berdaya dengan berbagai alat yang terpasang di tubuhnya.
Kali ini dia benar-benar merasakan sebuah penyesalan terdalam dalam hidupnya. Dosa besar yang dia perbuat di masa lalu, kini dia tuai hasilnya.
Air mata Aslan masih saja mengalir di pipinya. Dia ingin sekali mengantikan posisi Fara saat ini. Rasa sakitnya dan juga rasa luka hatinya.
"Sayang, maafkan aku. Harusnya aku yang merasakan ini semua bukan kamu. Aku mohon cepat sadar, Arya cariin kamu." Aslan menggenggam tangan Fara dan menciuminya. "Aku mohon kamu berjuang demi Arya."
Semalam telah berlalu tapi kondisi Fara sama sekali tidak ada perkembangan. Dia tetap tidak ada respon. Bahkan sampai di hari kedua, Aslan sengaja membawa Arya ke rumah sakit berharap saat Fara mendengar suara Arya, dia akan segera sadar.
"Sayang, doakan Mama cepat sembuh ya. Biar kita bisa sama-sama lagi." kata Aslan sambil menggendong Arya di dekat Fara.
"Mammaa... Mammaa..." Arya memanggil-manggil Mamanya dengan tangan yang menyentuh pelan pipi Fara. "Mammaa."
__ADS_1
Air mata Aslan kembali menetes. Harusnya keadaannya tak seperti ini. Dia masih tidak bisa memaafkan dirinya sendiri dengan kejadian ini.
Arya mulai kesal karena melihat Mamanya tak juga bangun. Dia kini merengek minta turun di atas Fara.
"Sayang, Mama lagi sakit. Tidak bisa gendong Arya. Doakan Mama cepat sembuh ya."
Berharap Fara bisa merespon dengan hadirnya Arya, tapi Fara masih saja memejamkan matanya tanpa merespon sama sekali.
"Sayang, cup, cup, ayo kita keluar."
Aslan akhirnya membawa Arya keluar ruangan karena dia semakin menangis dengan kencang.
"Aslan." Bu Lani memeluk Aslan sambil mengusap punggungnya. "Kamu yang sabar ya."
"Ma, kenapa Fara yang mendapat balasan dari perbuatanku. Harusnya aku, bukan Fara." Aslan menyandarkan keningnya di bahu Mamanya sambil menangis.
"Jangan bilang seperti itu. Ini semua sudah takdir. Kita berdoa sama-sama untuk kesembuhan Fara. Semoga setelah ini Fara segera sadar."
Aslan menegakkan dirinya sambil mengangguk. "Iya Ma. Amin."
Kemudian Bu Lani meraih tubuh Arya yang sudah mulai terdiam dari tangisnya. "Arya pulang dulu ya sama oma. Kita main lagi ya di rumah."
Arya menganggukkan kepalanya kecil.
"Dada dulu sama Ayah."
Aslan tersenyum kecil lalu mencium kedua pipi Arya. "Yang pintar ya sayang, jangan rewel sama oma."
"Ya sudah. Kamu juga jaga kondisi baik-baik. Jangan sampai telat makan. Kalau butuh sesuatu telepon Mama atau Papa." pesan Bu Lani pada Aslan.
Aslan hanya menganggukkan kepalanya. Setelah Bu Lani dan Arya pergi dari tempat itu, Aslan kembali masuk ke dalam ruangan Fara. Dia kini duduk dan mengajak Fara berbicara, meski masih tidak ada jawaban dari Fara.
"Sayang, udah dua hari kamu gak sadar. Cepat bangun. Kalau kamu mau marah, marahi aku. Kamu boleh bentak aku, kamu boleh pukul aku. Aku mohon buka mata kamu. Ada Arya yang sangat merindukan kamu. Dan juga aku..."
Aslan menggenggam tangan Fara dan menciuminya. Air mata yang tak berhentinya mengalir itu kini menetes di tangan Fara. "Sayang aku mohon, cepat bangun."
...***...
"Dimana aku?" Fara kini berada di sebuah ruang yang tak berbatas. Dia melangkah kesana dan kemari seorang diri. "Aku mau pulang. Arya pasti mencariku."
Fara kembali berjalan berputar-putar tapi tak juga menemukan jalan. Hingga kakinya terasa lelah untuk melangkah. Dia kini terduduk di lantai dan merasa sudah putus asa.
Tapi satu usapan di kepalanya kini membuatnya mendongak. Senyum yang penuh dengan kehangatan yang sangat dirindukan Fara itu kini berada di hadapannya.
__ADS_1
"Mama, Fara kangen..."
Mamanya kini duduk di dekat Fara dan memeluk Fara.
"Mama, Fara sangat merindukan Mama."
"Mama juga sayang."
Fara memejamkan matanya merasakan hangatnya pelukan itu. "Mama, Fara lagi punya banyak masalah."
"Iya, Mama sudah tahu sayang."
"Fara, ingin selalu bersama Mama."
Mamanya melepaskan Fara lalu menangkup kedua pipi Fara. "Ada Arya yang sedang menunggu kamu di rumah. Kamu cepat kembali ya."
"Aku dari tadi mau kembali Ma, tapi aku tidak tahu jalan."
Mamanya tersenyum sambil merapikan poni Fara. "Apa kamu sudah memaafkan suami kamu?"
Fara hanya terdiam. Dia tidak tahu apakah dia bisa memaafkan Aslan ataukah tidak.
"Sayang, semua orang pasti punya masa lalu dan Mama yakin suami kamu sudah benar-benar bertobat. Dia juga sudah melupakan masa lalunya. Allah saja maha pemaaf."
Fara hanya terdiam. Ya, apa yang dikatakan Mamanya itu memang benar. "Fara ingin memaafkan Mas Aslan tapi hati Fara rasanya masih sakit Ma."
"Iya, itu wajar. Kami ikhlaskan semuanya, Insya Allah keluarga kecil kamu pasti akan selalu bahagia."
Fara akhirnya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Boleh Fara peluk Mama lagi?"
"Iya sayang." kemudian mereka saling memeluk erat.
Hangat pelukan yang sangat dirindukan Fara akhirnya bisa dia rasakan.
"Mama, titip salam sayang buat cucu Mama ya."
"Iya, Ma." Fara tersenyum sambil memejamkan matanya.
"Mama..."
Mendengar suara lemah itu seketika Aslan menatap Fara. "Sayang..."
💞💞💞
__ADS_1
.
Like dan komen ya...