
"Hmmm, sayang maaf itu tadi..."
Belum selesai Aslan berkata, Fara sudah memotong pembicaraannya. "Iya, gak papa."
Setelah itu Fara kembali terdiam, sampai makanan datang pun masih tetap diam.
Aslan tahu pasti Fara sedang marah tapi dia tersenyum kecil dalam hatinya, jika Fara merasa cemburu padanya itu tandanya Fara benar-benar sudah mencintainya.
Dia kini menatap Fara yang makan dengan lahap tanpa gangguan Arya yang sedang sibuk sendiri di stroller.
"Makan yang banyak ya," kata Aslan dengan satu tangan mengusap pipi Fara yang ikut bergerak saat mengunyah itu.
Fara hanya menatap kesal Aslan tanpa menimpali perkataannya.
Mendapat tatapan dari Fara, Aslan semakin merasa gemas. Rasanya dia ingin sekali memeluk Fara. Setelah itu tidak ada obrolan lagi. Aslan juga tidak ingin menyelesaikan masalahnya di tempat umum, karena penyelesaian masalah paling ampuh adalah di kamar.
Sampai mereka selesai makan dan kembali ke mobil, Fara masih tetap diam.
"Arya," Aslan memangku Arya yang sedari tadi tidak rewel itu saat berada di dalam mobil yang tengah melaju. "Mama diam aja, Mama marah ya sama Ayah." Aslan mendekatkan pipi Arya dan menciuminya. "Mama cerita gak sama Arya kenapa diam aja?"
Fara hanya memutar bola matanya sambil mencibir.
"Apa? Mama cemburu."
"Ih, siapa yang cemburu. Nggak!" baru kali ini Fara menimpali perkataan Aslan. Dia merasa sangat kesal. Saat mobil berhenti di depan rumah, buru-buru Fara keluar dari mobil dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah.
Aslan hanya tersenyum kecil sambil mengikuti langkah Fara dan menggendong Arya.
Sampai di kamar, Fara duduk di tepi ranjang sambil melepas cardigannya lalu dia meraih tubuh Arya dari suaminya dan mengasihinya agar tertidur.
Aslan tak ingin menganggu Fara lagi. Dia biarkan Fara mengasihi Arya dengan tenang. Nanti saja setelah Arya tertidur baru dia akan bertindak. Dia kini mengambil baju gantinya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai membasuh diri, terlihat Arya sudah tertidur dan sedang diturunkan Fara ke dalam box nya.
Aslan mendekat dan memeluk Fara dari belakang yang membuat Fara terkejut.
"Mas, lepasin." Fara berusaha melepas tangan Aslan yang melingkar di perutnya.
"Nggak." Aslan semakin mengeratkan pelukannya. "Kamu marah sama aku?"
"Nggak, siapa yang marah."
__ADS_1
"Kamu."
"Ih."
"Tadi dia udah aku usir, tapi tetap aja duduk di tempat kamu. Aku juga udah gak peduli sama dia. Aku udah punya kamu. Aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu." Aslan menempelkan dagunya di pundak Fara. "Makasih ya, kamu udah cemburu sama aku."
"Udah dibilangin aku tuh gak cemburu." Fara melepas pelukan Aslan lalu naik ke atas ranjang.
"Terus kenapa marah?" Aslan menyusul Fara naik ke atas ranjang dan duduk di sampingnya. "Wajahnya cemberut dan kesal gini."
Fara menundukkan pandangannya sambil memainkan jemarinya. "Ya aku gak suka aja lihat Mas Aslan dekat sama cewek lain apalagi sama mantan."
Seketika Aslan tersenyum dia raih kembali tubuh itu ke dalam pelukannya. "Itu namanya cemburu. Kamu tenang aja ya sayang, dia hanya masa lalu. Aku sudah melupakannya."
"Tapi dia cantik banget, modis juga. Aku jadi insecure." jari telunjuk Fara kini berpindah ke dada Aslan. Bermain di sana dan membentuk pola abstrak.
"Masih jauh cantik kamu. Karena cantik kamu itu natural." Aslan mencium pipi Fara yang terlihat merona itu. "Aku sayang kamu." lalu menciumnya lagi. "Aku cinta kamu."
Hati Fara seketika meleleh. Dia kini membalas pelukan Aslan.
"Udah gak marah kan?" Aslan meraih dagu Fara agar Fara menatapnya.
Fara hanya tersenyum kecil. Dia begitu malu mengakui saat dia cemburu seperti itu.
Dia semakin menekan punggung Fara agar semakin mendekat, satu tangan Aslan sudah menyusup ke dalam baju Fara dan mengusap lembut punggung Fara,
Ciuman Aslan kini semakin turun dan menyusuri leher putih Fara hingga membuat Fara melenguh kecil. Aslan semakin menyesap dan menjejaki leher Fara yang semakin terekspos karena Fara kian mendongak. Ciumannya semakin turun ke dada Fara. Dia akan membuka kancing Fara tapi kedua tangannya kini ditahan oleh Fara.
"Sayang, udah pengen." kata Aslan sambil mendongak menatap Fara.
"No, jangan sekarang. Marah aku masih belum hilang 100% dan satu lagi, kita belum konsultasi program berencana ke dokter."
"Gampang sayang, bisa diatur." Aslan kembali mendekatkan wajahnya tapi didorong oleh Fara.
"Gak mau, nanti kalau sekali tembak langsung jadi gimana? Aku gak mau Arya punya adik secepat ini."
"Kalau jadi ya anugerah." Aslan kembali mendekat tapi lagi-lagi Fara menahannya.
"Mas, ih, katanya aku suruh kuliah dulu."
Aslan menarik napas panjang lalu membuangnya. Oke, kali ini dia memang belum ada persiapan dan dia tidak mungkin memaksa Fara seperti dulu. Dia menjauh dari Fara dan menghempaskan dirinya di atas ranjang lalu menatap langit-langit. "Sayang, kapan ke dokter?" tanya Aslan karena sejujurnya dia sudah sangat tidak tahan.
__ADS_1
"Nunggu Arya imunisasi biar sekalian, dua minggu lagi." kata Fara.
"Sayang itu masih lama. Udah pengen."
Fara hanya memutar bola matanya. Dia kasihan juga dengan suaminya itu. Dia kini mendekat dan memeluk Aslan dari samping. "Tahan dulu. Dulu berbulan-bulan aja kuat."
"Dulu dan sekarang beda. Aku kan makin cinta sama kamu."
Fara tertawa kecil. "Iya kah? Pak guru satu ini gombal banget." jemari Fara kini menyusuri dada Aslan lalu ke bawah dan menyusuri perut itu dan semakin ke bawah lalu berhenti di sesuatu yang berdiri tegak dan mengeras itu.
"Sayang, tangannya tumben berani?"
"Oke, aku kasih bonus buat hari ini. Tapi ingat kalau sampai ngobrol berdua sama Tasya, nih ekor singa gak boleh masuk sampai satu tahun."
"Ancaman gak main-main. Oke, siap laksanakan. Ya udah yuk, buka bajunya."
Fara kembali menahan tangan Aslan yang akan membuka kancing bajunya. "Cuma handjob."
"Handjob? Yah, kirain boleh keluar masuk di dalam."
"Ya udah lah. Gak jadi."
"Iya, iya, gak papa. Kapan lagi ngerasain sentuhan tangan kamu. Kan memang belum pernah kamu mainin pakai tangan." Aslan kembali menuntun tangan Fara. Karena selama ini Fara memang belum pernah sama sekali memainkannya. "Atau mau **** ***."
Fara mengernyitkan dahinya. "Apa tuh."
Aslan membisikkan artinya pada Fara yang langsung dibalas satu cubitan di pinggang Aslan.
"Aww, sakit cubitannya." Aslan meringis kesakitan sambil mengusap pinggangnya.
"Biarin. Nakal banget."
"Ya udah. Kalau main pakai tangan tuh sambil dilihat jangan diraba aja." Aslan membuka celananya. Kini terpampanglah gurat otot yang tegak berdiri dan sangat tegang itu.
Fara menautkan alisnya. Kenapa rasanya dia menjadi tergoda seperti ini?
💞💞💞
.
Fara makanya jangan main-main sama ekor singa.. 😂
__ADS_1
.
Like dan komen ya...