
Sampai di rumah, Fara mandi berulang kali tapi tetap saja dia menganggap tubuhnya kotor. Bahkan dia tidak mau menyusui Arya.
"Sayang, stok ASI Arya tinggal sedikit gak papa kamu kasih aja. Kamu kan sudah mandi." Aslan duduk di sebelah Fara yang sedang bersandar di headboard. Dia sangat mengerti Fara masih sangat trauma dengan kejadian tadi siang. Bahkan sampai malam hari itu Fara masih saja berulang kali menangis.
Fara masih menggelengkan kepalanya lalu dia mendekap Arya. "Maafin Mama ya sayang, Mama gak bisa jaga diri. Arya minum susu di botol saja ya, punya Mama kotor." Fara menciumi pipi Arya sambil menangis.
"Sayang, udah jangan sedih. Kalau memang mau kamu gini ya udah nanti biar aku belikan susu formula. Gak papa." Aslan menghapus air mata Fara yang masih saja menetes di pipinya. "Biar Arya aku gendong, dia waktunya bobok." Aslan meraih tubuh Arya lalu menimangnya.
Sedangkan Fara kini meringkuk di atas tempat tidur sambil memeluk gulingnya. Dia masih sangat trauma saat mengingat kejadian itu.
Aslan hanya menghela napas panjang. Dia menyimpan dendam pada orang yang telah membuat Fara seperti ini. Mesipun Vero dan lainnya sudah dihajar habis-habisan oleh anak buahnya bahkan mungkin sekarang dia juga sedang dihajar di kantor polisi, tapi dia merasa belum puas. Motif dari kasus itu terungkap sebagai kasus penyimpangan seksual tapi Aslan tidak yakin dengan hal itu. Semua seperti terencana.
Siapa otak dibalik semua ini?
Vero tak mau mengakuinya. Dia hanya mengungkap teman-temannya yang ikut terseret dalam kasus penyimpangan.
Setelah Arya tertidur, Aslan menurunkannya d dalam box. Setelah itu dia beralih ke ranjang dan saatnya menenangkan istri tersayangnya.
"Sayang, udah jangan nangis." Aslan memeluk tubuh Fara dan mendekapnya erat.
"Mas Aslan memang gak jijik sama aku? Kalau seandainya Mas Aslan gak datang pasti aku udah..." Fara menghentikan perkataannya. Kemungkinan terburuk memang bisa saja terjadi.
"Sssttt, udah sayang. Jangan ingat-ingat lagi. Yang penting kamu sekarang selamat."
"Tapi Mas, aku masih gak rela."
"Iya, aku ngerti. Udah ya, sekarang kamu istirahat. Jangan nangis lagi. Mereka semua udah dapat hukuman yang setimpal."
Akhirnya Fara berhenti menangis, hanya isak tangis saja yang sesekali masih terdengar.
Aslan mengusap rambut Fara lalu mencium keningnya. "Met tidur sayang."
Tapi Fara justru bergeliat dan merintih kesakitan. "Mas sakit..."
"Apa yang sakit sayang?" Mendengar Fara mengeluh sakit, Aslan menjadi panik. Dia merebahkan tubuh Fara dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya.
Wajah Fara terlihat pucat bahkan keringat dingin kini membasahi pelipisnya.
"Ini Mas sakit banget." kata Fara sambil melepas pengait branya karena dadanya semakin kencang dan terasa sakit.
__ADS_1
"Di pompa aja ya. Ini keras banget, makanya sakit." kata Aslan sambil memijat pelan sekitaran dada Fara.
Fara hanya terdiam, bayangan-bayangan mengerikan itu kembali terngiang. Dia enggan melihat jejak kebang satan mereka.
"Sayang, nanti tambah sakit kalau ASI nya gak dikeluarkan." Aslan berdiri dan mengambil alat pompa ASI milik Fara, lalu dia duduk di samping Fara dan membantu Fara untuk bangun. Perlahan Aslan membuka kancing Fara meski beberapa kali ditahan oleh Fara.
"Sayang, kenapa? Aku bantu. Gak papa." Aslan harus ekstra sabar menghadapi Fara kali ini. Dia tidak mau semakin menambah luka hati Fara.
"Aku malu, banyak jejak dari mereka, bahkan pu ting aku luka Mas."
Mendengar kalimat Fara, membuat Aslan semakin dendam dengan mereka. "Gak papa sayang. Sini aku bantu biar gak tambah sakit."
Akhirnya Fara membiarkan Aslan membuka dadanya.
Hati Aslan terasa dicabik, bi adap sekali mereka tega melakukan ini pada Fara. Kedua dada Fara terlihat bengkak dan memerah dengan kedua pu ting yang terluka. "Sayang, bisa tahan gak? Dipompa dulu ASI nya baru nanti diobati lukanya."
Fara hanya menganggukkan kepalanya.
Aslan membantu Fara memompa ASI nya tapi bukan ASI yang keluar melainkan darah.
"Mas sakit..." Fara semakin meringis kesakitan.
"Astaga," Aslan melepas alat pompa itu. Lalu dia meraih tubuh Fara yang bergetar menahan rasa sakit dan memeluknya. "Breng sek!" umpat Aslan. "Mereka tega sekali buat kamu kayak gini. Rasanya pengen aku habisin aja nyawa mereka!"
"Kita ke rumah sakit saja ya?"
Fara menggeleng pelan, "Aku malu."
"Gak papa, sekalian kita minta visum."
Fara hanya terdiam sambil menundukkan pandangannya.
Aslan harus pelan-pelan mengajak Fara karena kondisinya masih kacau.
"Ya sudah, aku kompres biar sakitnya mereda." Aslan turun dari ranjang lalu mengambil sebaskom air hangat dan juga handuk kecil. Dia kini kembali duduk di tepi ranjang dan mulai mengompres dada Fara yang semakin membengkak dan memerah.
Fara masih merintih kesakitan, meski kini dia mulai memejamkan matanya.
Aslan menyentuh kening Fara yang mulai demam. "Far?" panggil Aslan. Dia menyudahi kompresannya dan merapikan kembali baju Fara. "Sayang?"
__ADS_1
"Hem..." hanya itu respon dari Fara.
"Ayo, kita ke rumah sakit sekarang. Aku gak mau kamu sampai kenapa-napa." Aslan mengambil ponselnya lalu menghubungi mamanya agar membantunya menjaga Arya. Setelah itu dia mengambil jaket dan kardigan Fara. Dia segera mengangkat tubuh Fara dan membawanya keluar dari kamar.
"Mbak Ratih tolong jaga Arya, sebentar lagi Mama juga ke sini." perintah Aslan sambil berjalan keluar dari rumah.
"Baik Tuan."
Kemudian Aslan memanggil Yanto untuk mengemudi. Setelah membawa Fara masuk ke dalam mobil, mobil itu segera melaju menuju rumah sakit.
Aslan terus memeluk tubuh Fara yang semakin bergetar kedinginan.
"Mas sakit." rintih Fara.
"Iya sayang, kita sekarang ke rumah sakit." Aslan semakin mendekap Fara dan menciumi puncak kepala Fara.
Setelah ini, aku akan benar-benar menjaga kamu. Maafkan aku yang terlambat menolong kamu.
"Sakit..." rintih Fara lagi.
Andai saja rasa sakit itu bisa berpindah ke tubuh Aslan, biar dia saja yang merasakannya. Sudah berulang kali Fara masuk rumah sakit sejak bersamanya.
"Maafkan aku. Aku yang gak becus jaga kamu. Maafkan aku..."
Fara menggeleng pelan meski masih memejamkan matanya. "Bukan salah Mas Aslan. Aku yang gak bisa jaga diri."
"Nggak sayang. Sudah menjadi kewajiban aku untuk menjaga kamu." Aslan merangkum kedua pipi Fara. Hawa panas di tubuh Fara semakin terasa. Fara kini menatap Aslan dengan mata sayunya. "Aku gak akan biarkan siapapun menyakiti kamu..."
💞💞💞
.
Like dan komen ya...
.
Jangan lupa mampir ke karya author yang baru rilis ya..
Masih ingat sama Rendra Permana kakaknya Alea. Ini dia kisahnya... ☺
__ADS_1
Jadikan favorit ya...