
Fara, Ayla, dan Lili hanya terdiam mendengar cerita dari Aslan tentang Vero yang tiba-tiba menembakkan pistol ke dirinya sendiri.
"Ngeri banget sih." kata Ayla. "Kayaknya dia memang kena gangguan jiwa." Ayla tak menyangka kasus ini bisa sampai separah ini.
"Iya. Para pengikutnya juga harus digembleng. Takut kalau-kalau otaknya juga di cuci." kata Lili. Dari kejadian ini dia jadi ikut was-was juga.
"Iya, dimanapun kalian berada, kalian juga harus hati-hati. Karena zaman sekarang banyak kasus yang aneh-aneh." kata Aslan mengingatkan mantan muridnya itu.
"Ya udah kita mau pulang saja. Duh, dedek Arya malah ngantuk di gendong aunty." Lili mencium pipi Arya yang hampir tertidur di pangkuannya.
"Iya, memang waktunya Arya bobok. Dia pintar banget, sama siapa aja mau." kata Fara. Dia sangat bersyukur karena Arya memang jarang sekali rewel.
"Asal besarnya gak playboy aja." kata Ayla sambil tertawa.
"Ih, amit-amit ya. Gak ada keturunan playboy di sini." Fara meraih tubuh Arya dan menimangnya agar tidurnya semakin lelap.
"Ya udah, kalian biar diantar Pak Yanto sampai rumah." kata Aslan.
"Makasih Pak Guru. Kami pulang dulu ya. Far, nanti kalau kampus udah aman dari wartawan, gue kasih tahu." Ayla berdiri dan berpamitan pada Aslan dan juga Fara.
"Oke, makasih ya udah jenguk."
Kedua sahabat Fara berjalan keluar yang diantar Fara sampai depan pintu.
Sedangkan Aslan kini berdiri dan masuk ke dalam kamar bergegas untuk mandi.
Fara dan kedua sahabatnya masih saja berbincang sesaat di depan pintu.
"Besok-besok Nia ajak juga dong ke sini." kata Fara. Karena Nia memang sudah jarang sekali ikut berkumpul dengan mereka.
"Calon perawat, maklum sibuk banget. Iya kalau gue ambil jurusan santuy dan perut kenyang." Ayla menertawakan dirinya sendiri. Dia sekarang sudah merasa nyaman dengan kuliahnya. Pilihan Ayahnya memang terbaik.
"Ya udah kita pulang dulu ya..." mereka berdua masuk ke dalam mobil setelah melambaikan tangannya pada Fara.
Setelah itu Fara masuk ke dalam kamarnya. Arya sudah terlelap dalam gendongannya.
Dia cium kecil pipi Arya lalu dia turunkan ke dalam box nya. Dia masih berdiri sambil menatap Arya yang sudah tertidur dengan nyenyak.
Beberapa saat kemudian Aslan sudah keluar dari kamar mandi. Dia menutup pintu kanarnya lalu memeluk tubuh Fara dari belakang.
"Mas.."
__ADS_1
"Apa sayang?" Aslan mencium pipi Fara lalu semakin turun ke leher dan mengendusnya.
"Mas, memang kenapa Vero bunuh diri? Pertanyaanku tadi belum di jawab." tanya Fara.
Aslan menghentikan endusannya lalu memutar tubuh Fara agar menatapnya. "Kamu jangan mikirin soal ini. Semua sudah aman. Mungkin dia merasa hidupnya sudah hancur makanya dia bunuh diri."
"Hmm, tapi Mas."
"Sssttt," Aslan mencium bibir itu agar berhenti berbicara. "Yang jelas, aku akan selalu jaga kamu, dan kamu juga harus lebih hati-hati karena diluar sana masih banyak orang yang berkedok baik tapi ternyata ada maksud buruk sama kita."
Fara menganggukkan kepalanya. "Mas Aslan juga jaga diri baik-baik."
"Pasti sayang dan tugas kita berdua adalah menjaga Arya."
Fara tersenyum sambil mengangguk kecil lalu dia peluk erat tubuh Aslan.
Mendapat pelukan erat dari Fara, Aslan manarik tubuh Fara dan menjatuhkannya di atas ranjang.
"Mas mau ngapain?" tanya Fara.
Aslan hanya tersenyum penuh arti lalu mendekatkan bibirnya di leher Fara.
"Mas..." Fara semakin mendongakkan kepalanya memberi ruang pada Aslan untuk semakin menyesapi lehernya. Suara de sah itu tak bisa dia tahan saat tangan Aslan kian merambat ke bawah dan memberi sensasi pada Fara. "Ah, Mas tangannya."
"Mas Aslan kan baru mandi."
"Gak papa. Nanti sebelum maghrib mandi lagi." Aslan menyingkap baju Fara hingga lolos melewati kepalanya.
"Hmm, jangan pegang ini dulu ya Mas takut sakit." Fara menahan tangan Aslan saat akan membuka dadanya.
"It's oke." tangan itu berpindah menyusuri peut datar Fara lalu semakin ke bawah dan menurunkan celana pendek Fara. Dia mainkan milik Fara yang telah basah itu dengan gerak melingkar lalu keluar masuk secara perlahan tapi pasti dan berhasil membuat Fara bergerak tak karuan.
Fara selali dibuat mabuk kepayang dengan sentuhan Aslan. "Mas, sekarang aja."
Aslan tersenyum kecil melihat gairah Fara yang semakin hari semakin mudah terpancing. Dia kini melepas seluruh pakaiannya lalu dia membalik tubuh Fara dan mengangkat pinggulnya.
"Mas mau apa?" tanya Fara karena Aslan kini berlutut di belakangnya sambil memegang pinggulnya.
"Coba sensasi baru. Jangan teriak-teriak ya nanti Arya bangun." Aslan mulai memposisikan dirinya dan saat bidikannya tepat, dia menghentakkan miliknya lewat belakang. Terasa sangat sempit dan menggigit.
"Aww, Mas." Fara yang baru pertama kali merasakan gaya itu tentu saja dia terkejut saat Aslan tiba-tiba menghujamnya.
__ADS_1
"Ough, sayang, ini lebih nikmat." Aslan menggerakkan pinggulnya sambil memegang pinggang Fara. Semakin lama semakin cepat.
Fara semakin menggigit bibir bawahnya karena takut suaranya akan mengeras seiring hujaman Aslan yang menggebu. Awalnya memang sedikit sakit tapi lama kelamaan rasa sakit itu berubah menjadi rasa nikmat yang teramat sangat.
"Mas aku udah gak tahan." Fara mendongakkan kepalanya. Badannya bergetar hebat saat dia sudah mencapai puncaknya.
"Ahh, enak banget sayang. Aku juga gak bisa lama-lama." Aslan semakin menambah kecepatannya hingga membuat tubuh Fara terguncang. "Sayang, aku sampai..." Aslan menumpahkan seluruh hasratnya dengan erangan tertahan.
Seketika tubuhnya terasa ringan. Dia seolah melupakan semua masalahnya. Kini dia melepas dirinya lalu menghempaskan dirinya di atas ranjang sambil meraih tubuh Fara. Badan yang lengket karena keringat itu kini saling bersentuhan.
"Aku sayang kamu." Aslan mencium pipi Fara dan mengeratkan pelukannya.
"Aku juga sayang Mas Aslan." Fara kini menenggelamkan wajahnya di dada Aslan.
"Besok-besok aku mau beli sofa ka ma sutra."
"Buat apa?"
"Biar bisa pakai macam-macam gaya. Buat kamu nyaman juga."
Fara tersenyum kecil smbil mencubiti dada bidang Aslan. "Ih, omes terus."
Aslan terkekeh. "Biar hidup gak tegang terus sayang."
"Ya justru tegang dong Mas. Nih, punya Mas Aslan." Fara menyentuh ekor singa yang sudah tertidur, mendapat sentuhan dari Fara seketika ekor singa itu terbangun lagi. "Ya ampun tegang lagi kan."
"Lagi yuk sayang..."
"Ih, capek."
"Ayo, kali ini kamu tinggal rasakan saja."
Fara selalu kalah dengan bujuk rayu Aslan. Mereka mengulanginya sekali lagi lebih panas dan membara.
.
💞💞💞
.
like dan komen ya.. 😂
__ADS_1
.
Nanti cerita Ayla ada novelnya sendiri yak. ☺ gak tahu kapan rilisnya..