Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 46


__ADS_3

"Fara, kamu kenapa?" melihat Fara keluar dari aula sambil menutup mulutnya, Aslan segera merengkuh pinggangnya dan mengantarnya ke toilet.


Di dalam toilet, Fara akhirnya memuntahkan isi perutnya.


Aslan dengan lembut memijat punggung Fara dengan satu tangan yang menahan rambut Fara. Sedari tadi Aslan memang menunggu Fara di dekat pintu keluar aula sambil sesekali melihat Fara yang berada di dalam.


Setelah selesai, Fara berkumur lalu membersihkan bibirnya tengan tisu.


"Udah jangan nangis." Aslan menyusut air mata Fara dengan tisu agar riasan Fara tidak berantakan.


"Kita pulang saja." kata Fara dengan suara seraknya.


"Serius? Acaranya belum selesai. Foto bersama juga belum." kata Aslan. Karena saat ini justru puncak acaranya, nanti Fara akan menyesal jika melewatkannya begitu saja.


Fara hanya menundukkan kepalanya. Dia sebenarnya ingin mengikuti acara sampai selesai tapi perutnya sangat tidak nyaman.


Aslan merengkuh bahu Fara dan memeluknya. Dia usap punggung Fara dan memberinya ketenangan. "Maafkan aku." hanya itu yang bisa Aslan katakan. Dia juga tidak bisa merasakan apa yang Fara rasakan saat ini.


Menghirup aroma tubuh Aslan seketika rasa mual itu hilang. Semanja itu calon anak yang ada di perutnya. Dia benar-benar tidak bisa jauh dari Aslan dan melarang keras dekat dengan lelaki lain. "Pak Aslan aku pinjam balzer nya." kata Fara sambil melepas pelukan Aslan.


"Kamu kedinginan?" tanya Aslan.


Fara menggelengkan kepalanya. "Biar gak mual aja, pengen cium wangi Pak Aslan terus."


Aslan tersenyum kecil lalu melepas blazernya dan memakaikannya di tubuh Fara. "Kamu lanjut ya. Aku tunggu di dekat pintu aula. Kalau kamu mau makan bilang sama aku."


Fara menganggukkan kepalanya lalu mereka keluar dari toilet.


...***...


Arsyad mengikuti Fara sampai keluar aula, tapi langkahnya terhenti ketika melihat Fara sudah berjalan dengan Aslan dengan satu rengkuhan dipinggang Fara.


"Iya, sekarang yang kamu butuhkan adalah Pak Aslan, bukan aku."


Arsyad kembali masuk ke dalam aula lalu duduk di pojokan bersama teman lain yang tidak ikut berdansa.


"Gak jadi dansa?" tanya Dani.

__ADS_1


Arsyad hanya menggelengkan kepalanya.


"Sebenarnya kita penasaran, lo putus sama Fara karena apa? Benar dia sama Pak Aslan?" tanya Dani.


Arsyad menganggukkan kepalanya. "Ya udahlah. Gue cuma bia berdo'a semoga dia bahagia."


Kini Fara masuk ke dalam aula dan langsung dihampiri oleh ketiga temannya.


"Lo kenapa tiba-tiba lari keluar?" tanya Lili sambil menggandeng tangan Fara dan mengajaknya duduk.


"Biasa anak gue rewel cariin bapaknya. Nih, sampai gue pinjam blazernya. Gini amat sama bapaknya."


Perkataan Fara membuat ketiga temannya tertawa dengan keras. "Makanya di sini aja deh. Gak usah dansa. Nih, ada makanan. Mau?" tawar Ayla tapi langsung ditepis oleh Lili.


"Wah, cari perkara nih. Nanti dedek rewel lagi cariin bapaknya."


"Oiya lupa, sorry, sorry. Gue habisin aja deh jatah lo." Ayla kini mendekatkan dirinya mencium aroma blazer yang dipakai Fara. "Hmmm, iya wanginya beda bikin gue jatuh cinta. Jelas aja lo mual dekat bang Arsyad."


Seketika Arsyad menjitak kepala Ayla. Adik sepupunya memang tidak ada filternya saat bicara. Kemudian dia kini menatap Fara. "Kamu gak papa kan?" tanya Arsyad.


Fara menggelengkan kepalanya. "Gak papa. Maaf ya, kita gak jadi dansa."


"Udah, gak usah pada mellow, mending sekarang kita foto-foto buat kenang-kenangan." kata Nia sambil mengeluafkan ponselnya.


Fara dan teman-temannya kini berfoto bersama, dengan berbagai gaya dan ekspresi. Foto sebanyak-banyaknya sampai memori mereka penuh. Lupakan sejenak permasalahan yang ada yang terpenting mereka menikmati momen terakhir malam itu dengan sebaik-baiknya.


Acara selesai tepat pukul 10 malam. Perut Fara terasa sangat lapar. Dia kini masuk ke dalam mobil bersama Aslan.


"Kamu tadi kenapa gak makan dulu? Aku udah siapin di kantor." kata Aslan yang melihat Fara beberapa kali mengusap perutnya. Dia tahu, pasti Fara sekarang sudah kelaparan.


"Iya, lagi asyik foto sama teman-teman jadi malas buat keluar aula."


"Nih, kamu makan dulu." Aslan mengambil sekotak nasi yang memang sengaja dia bawa untuk Fara. "Pasti kamu tadi gak makan apa-apa kan di dalam."


Fara menganggukkan kepalanya lalu menerim suapan dari Aslan. Akhirnya perut yang sedari tadi terasa lapar itu kini terisi. Dia makan dengan lahap hingga satu kotak nasi habis dengan cepat.


"Kurang, ada makanan lagi gak?" tanya Fara, karena perutnya memang masih terasa lapar.

__ADS_1


Aslan mengambil kue yang juga dia bawa. "Nih, ada kue. Dihabiskan ya. Biar nanti sampai rumah tinggal tidur aja."


"Pak Aslan udah makan?" tanya Fara.


Aslan menganggukkan kepalanya. "Udah."


Aslan terus menyuapi Fara. Dia sangat senang sekali melihat nafsu makan Fara yang kian meningkat. Semoga saja besok saat melakukan USG sudah ada perkembangan pada calon buah hatinya. Karena sekarang badan Fara juga sudah terlihat lebih gemuk.


"Minum dulu." Setelah selesai makan, Aslan membantu Fara minum, setelah itu dia menutup kembali botol minumannya dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Beberapa saat kemudian mobil Aslan mulai melaju meninggalkan area sekolah.


Fara tersenyum menatap sekolahnya yang berlantai tiga itu. Meski masih perlu beberapa kali ke sekolah untuk mengurus ijazah tapi rasanya malam itu adalah saat terakhir dia berada di sekolah.


Thanks, udah menjadi tempat yang penuh kenangan selama tiga tahun.


Setelah mobil sampai di jalan umum, Fara mulai menguap panjang.


"Kamu tidur aja kalau ngantuk." kata Aslan sambil sesekali melirik Fara yang sudah sangat mengantuk.


Fara mengangguk pelan, lalu dia bersandar dan mulai memejamkan matanya.


Tangan Aslan beberapa kali mengusap puncak kepala Fara. Semakin hari rasanya dia semakin tidak ingin kehilangan Fara. Tapi saat perasaan itu muncul dia teringat kembali kata-katanya dulu, jika dia akan melepas Fara setelah anaknya lahir.


Semoga, suatu saat nanti kamu benar-benar bisa mencintai aku...


Beberapa saat kemudian Aslan menghentikan mobilnya di depan rumahnya. Fara masih saja tertidur dengan nyanyak hingga membuatnya tidak tega untuk membangunkannya.


Dia keluar dari mobil, lalu membuka pelan pintu di sebelah Fara. Dia raih tubuh Fara dan menggendongnya masuk ke dalam rumah. Dia berjalan perlahan menuju kamarnya agar Fara tidak sampai terbangun, lalu dia turunkan tubuh itu di atas ranjang.


"Met tidur sayang. Mimpi indah." Satu kecupan hangat mendarat di kening Fara.


Fara sama sekali tidak terbangun dengan perlakuan Aslan. Malam itu dia terlalu bahagia dan juga lelah, hingga membuatnya tidur dengan nyenyak.


💞💞💞


.


Ayo, semangat Pak Aslan buat Fara jatuh cinta. Author bantu lewat do'a.. Jangan lupa do'a in author balik biar cepat pemes.. 😂

__ADS_1


.


__ADS_2