
Setelah lulus S2, Fara mengikuti tes rekrutmen dosen di salah satu kampus negri. Kali ini dia berharap bisa lolos dari tes itu dan segera menjadi seorang Dosen impiannya.
Sudah ada semangat dari Aslan dan juga kedua anaknya. Dia melalui semua tes itu dengan mudah.
"Sayang, kamu pasti lolos. Jangan tegang gini. Nilai IP kamu bagus. Pasti hasil tes kamu juga bagus." Aslan duduk di sebelah Fara yang sedang serius menatap layar laptopnya menunggu hasil pengumuman.
"Semoga saja Mas. Soalnya yang ingin jadi Dosen di kampus itu banyak banget. Gak cuma dari kota ini saja tapi juga dari luar kota." Fara menopang dagunya.
Aslan kini memeluk pinggang Fara. Dia selalu memberi keyakinan pada Fara bahwa dia pasti bisa.
Beberapa saat kemudian pengumuman yang ditunggu-tunggu Fara akhirnya rilis. Dengan membaca basmalah Fara mencari namanya. Tidak perlu susah-susah mencari karena namanya berada di urutan nomor tiga.
"Mas, alhamdulillah aku keterima jadi Dosen tetap." Seketika Fara memeluk Aslan dengan erat. Seseorang yang selalu setia menemani perjuangannya. Seseorang yang selalu ada di saat suka dan duka, ya, dialah orang pertama yang menjadi curahan kebahagiaannya.
"Iya sayang, alhamdulillah." Aslan mencium kedua pipi Fara. "Selamat Bu Dosen."
Kemudian Fara menghapus air mata harunya yang menetes di pipinya. "Makasih Mas Aslan selalu memberi dukungan buat aku. Makasih atas segalanya."
"Iya sayang. Ini semua karena usaha dan semangat kamu. Kamu hebat." Aslan kembali mengeratkan pelukan Fara.
"Mama..." panggil Arya dan Alesha secara bersamaan. Arya yang sudah berusia 8 tahun itu semakin pintar, sedangkan Alesha yang usianya sudah hampir tiga tahun juga sudah sangat cerewet.
"Mama, kenapa nangis?" Alesha mengambil tisu dan menghapus air mata Fara.
"Mama bahagia sayang." Kemudian Fara memangku Alesha sedangkan Arya kini duduk di sebelah Aslan. "Mulai minggu depan Mama sudah jadi Dosen."
"Dosen itu apa Ma?" tanya Arya.
"Dosen itu ya seperti guru di sekolah, tapi Mama mengajar di kampus."
"Mama hebat." kata Arya lagi dengan mata berbinarnya.
"Ini semua karena Arya dan Alesha yang selalu memberi semangat Mama." Fara mencium kening Arya lalu Alesha.
Setelah resmi menjadi Dosen, Fara tak lagi mengajar di sekolah SMA nya karena sering kali jadwalnya berbenturan dengan jadwal mengajar di kampus. Tapi dia masih mau mengajari muridnya yang ingin les di rumahnya. Tentu saja gratis tanpa dipungut biaya apapun. Setiap hari ada saja muridnya yang datang ke rumah untuk les Matematika dengannya.
Karena Fara tidak mau menerima upah mengajari mereka, murid-muridnya seringkali membawa sesuatu saat ke rumah Fara. Entah itu kue, buah, terkadang juga mainan untuk Alesha.
__ADS_1
Nama Fara kian terkenal di kanca pendidikan. Begitulah cita-citanya selama ini. Dia ingin mengamalkan ilmu yang dia punya untuk anak-anak bangsa, dan sekarang sudah terwujud.
Memiliki seorang suami yang selalu mensuport semua keinginannya adalah sebuah keberuntungan yang hakiki. Dia mendukungnya secara materi maupun non materi.
"Lesha, mainannya banyak sekali. Dari kakak siapa itu?"
"Dari kak Devan Ma. Lucu ya Ma bonekanya." Alesha memeluk boneka beruang dari Devan salah satu murid les SMP nya yang kini berhasil lulus dengan nilai Matematika terbaik.
"Iya, lucu. Sudah bilang makasih sama Kak Devan?"
"Sudah dong, Ma." Alesha yang sudah berumur 4 tahun itu sekarang sudah bersekolah di taman bermain. Dia juga pintar seperti kakaknya.
"Wih, Lesha dapat mainan baru lagi." kata Aslan yang baru pulang dari kantornya.
Alesha langsung berdiri dan mencium tangan Ayahnya. "Iya Ayah, di kasih Kak Devan."
Fara hanya tersenyum melihat Alesha yang kini bercerita pada Ayahnya.
"Kak Arya dimana? Belum pulang mengaji?" tanya Aslan.
"Belum Ayah. Kak Arya pulang setelah maghrib. Ayah, Lesha mau mengaji juga ya."
"Yee, makasih Ayah. Lesha sudah janjian sama teman-teman Lesha." Alesha terus bercerita dengan suaranya yang kecil imut dan lucu itu.
"Ya sudah, Ayah mau mandi dulu. Dilanjut saja mainnya."
Seperti biasanya, Fara selalu mengekori Aslan saat pulang kerja. Mereka kini masuk ke dalam kamar.
"Sayang, besok kamu sibuk gak?" tanya Aslan sambil melepas jas nya lalu sepatunya.
"Oiya, besok kan tanggal merah ya. Pantesan anak-anak tadi pamit gak les. Gak ada acara sih Mas. Kampus juga libur. Aku sampai lupa loh padahal kan long weekend." Fara mengambil jas dan sepatu Aslan lalu meletakkan kembali di tempatnya.
"Ya sudah, besok kita liburan ya sama anak-anak. Refreshing sebentar. Kasihan Mamanya anak-anak ini sekarang sibuk." Aslan berdiri lalu memeluk tubuh Fara.
"Jalan-jalan kemana Mas?"
"Ke puncak yuk. Ngadem di villa. Nanti kita ajak Mama sama Papa juga. Kita bakar-bakar di sana, pasti senang bisa quality time bareng." Kemudian Aslan tersenyum penuh arti. "Mama sama Papa juga bisa jaga anak-anak. Aku mau honeymoon tipis-tipis sama kamu."
__ADS_1
"Ih, modusnya Mas Aslan. Padahal di rumah kan hampir tiap hari."
"Beda dong. Hawanya di sana lebih dingin, lebih mantap buat cari kehangatan."
Seketika pipi Fara memerah.
Aslan menyentuh dagu Fara agar Fara mendongak dan menatapnya. "Makasih sudah setia menemaniku selama 10 tahun."
Fara tersenyum sambil menatap kedua netra Aslan yang sangat meneduhkan hatinya.
"10 tahun bukan waktu yang singkat. Banyak perjuangan hingga kita sampai di titik ini sekarang." lanjut Aslan. Dia mengecup singkat bibir Fara.
"Justru aku yang berterima kasih sama Mas Aslan. Mas Aslan telah merubah hidup aku. Mas Aslan sudah sangat sabar menghadapi aku. Dari aku yang dulu sangat emosional hingga jadi aku yang sangat penyabar." Fara tersenyum saat mengingat dirinya di 10 tahun yang lalu. Dia menolak Aslan mati-matian. Sampai kabur dari rumah. Bahkan di awal menikah, dia sama sekali tidak menginginkan Aslan di hidupnya.
Aslan mencium lagi bibir Fara. Kali ini bukan ciuman singkat tapi ciuman yang lembut dan memabukkan.
"I love you everlasting."
"I love you too..."
Kemudian Aslan melepas pelukannya lalu menggandeng tangan Fara dan menariknya ke kamar mandi. "Kamu belum mandi kan? Yuk temani aku mandi."
"Ih, modus."
"Yang dimodusin juga suka kan?"
Fara hanya tersenyum malu-malu. Dia meligkarkan kedua tangannya di leher Aslan. "Kamulah canduku..."
Mereka saling bertatapan lekat. Sedetik kemudian wajah itu kembali mendekat. Mereka bermain di bawah guyuran air shower yang hangat. Mengungkapkan sebuah rasa cinta yang teramat besar dari bahasa tubuh mereka.
💞💞💞
.
😽😼
Aku terharu... Sudah membawa cerita mereka sampai sejauh ini..
__ADS_1
kapan authornya bisa sukses.. 😸