
"Mas, nanti setelah pulang kuliah aku mau jenguk Ayla di rumahnya sama Lili. Nanti biar diantar Pak Yanto ya." kata Fara saat mengendarai mobil menuju kampus pagi hari itu.
"Iya, jangan lama-lama." pesan Aslan. Karena dia tahu sendiri ketika istrinya sedang berkumpul dengan sahabat-sahabatnya dia pasti lupa waktu.
"Aku udah bawa pompa ASI jadi bisa lama. Semalaman udah dikerjain Mas Aslan, aku capek butuh healing."
Aslan terkekeh. Entahlah, bisa-bisanya semalam semangatnya begitu membara. Dia tidak memberi jeda pada Fara untuk beristirahat, dia langsung main tiga ronde sekaligus.
"Joker banget ketawanya." kata Fara sambil mencubit lengan Aslan.
"Lagi bayangin semalam." kata Aslan dengan senyum sumringahnya. "Nanti malam mau lagi."
"Dih, KDRT."
"Kenikmatan dalam rumah tangga ya." Aslan menghentikan mobilnya di dekat gerbang kampus Fara lalu satu tangannya terulur mencubit hidung Fara. "Semalam kamu juga menikmati hukumannya sampai banjir ranjangnya."
Fara menepis tangan Aslan. "Masih pagi jangan omes, aku mau kuliah dulu biar pintar." Fara mencium punggung tangan Aslan lalu turun dari mobil. Dia kini masuk ke dalam kampus.
Dari berita yang dia dengar, ada beberapa mahasiswa yang terluka karena demo kemarin termasuk Ayla. Dia kini menghampiri Lili yang sedang berdiri di pinggir lapangan sambil melihat ponselnya.
"Lo lihat apa?" tanya Fara yang kini berdiri di samping Lili. Dia merasa kepo karena Lili begitu serius menatap layar ponselnya.
"Lo lihat deh, video Ayla yang sedang ditolong cowok kampus sebelah viral di tiktok." Lili menunjukkan ponselnya pada Fara.
Fara ikut melihat video itu. Terlihat Ayla yang sedang menutup hidung dan mulutnya lalu ada seseorang yang dengan sigap merngkuh pundaknya dan menutupi kepala mereka dengan jas almamater. Dia membimbing langkah Ayla berlari keluar dari tebalnya asap gas air mata.
"So sweet banget. Terus komentar Ayla gimana?" tanya Fara. Pasti Ayla sangat excited ketika melihat video itu.
"Gue juga gak tahu. Dari kemarin masih gak bisa dihubungi soalnya hp Ayla jatuh dan rusak." kaya Lili. Kemarin dia memang sempat menemani Ayla ke klinik meski cuma sebentar.
"Yah, pasti kalau dia tahu video ini, dia heboh banget. Nanti kita samperin ke rumahnya. Gak usah bawa oleh-oleh. Kita aja yang makan di sana."
Mereka berdua tertawa lalu berjalan menuju kelas masing-masing.
...***...
Setelah kelas selesai, Fara dan Lili segera meluncur menuju rumah Ayla. Mereka sudah tidak sabar melihat ekspresi Ayla seperti apa saat melihat video itu.
Tak butuh waktu lama dia sudah sampai di depan rumah Ayla. Mereka segera turun dari mobil dan masuk ke teras rumah Ayla. Memencet bel sekali dan beberapa saat kemudian Bundanya Ayla sudah membuka pintu itu.
__ADS_1
"Kalian berdua. Ayo masuk, Ayla lagi ditiduran di kamarnya. Matanya masih perih jadi dia hari ini tidak kuliah." Bunda Rili mengantar mereka ke kamar Ayla. "Kalian gak kenapa-napa kan dari demo kemarin?" tanyanya lagi.
"Kebetulan saya pulang lebih dulu tante." kata Fara.
"Saya juga kemarin ada di belakang." kata Lili.
"Ayla udah tante larang buat ikut malah jadi tim orasi. Bandel sekali dia. Kalau udah kayak gini kan yang rugi diri sendiri."
"Iya tante." Fara dan Lili hanya tersenyun kaku.
"Ya udah kalian hibur Ayla dulu, sedari tadi dia BT karena hpnya masih di service sama Ayahnya."
Mereka berdua menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamar Ayla.
"Ayla, gimana keadaan lo?" Fara dan Lili mendekat lalu memeluk Ayla sesaat.
"Udah mendingan. Tapi mata gue masih merah nih, pedih juga." kata Ayla.
"Gue salut sih sama keberanian lo berorasi di depan."
Ayla justru tersenyum. "Dan gue udah berhasil nemuin pangeran gue.."
"Video apaan?" tanya Ayla tak mengerti karena dari kemarin dia sama sekali tidak memegang ponsel.
Lili menunjukkan sebuah video tik tok yang tengah viral.
"Gue gak ngeh kalau cowok ini yang nolong. Soalnya mata gue pedih banget. Napas gue sesak. Cowok ini yang ngasih oksigen ke gue juga pas di klinik. Dan lo tahu, dia juga yang pernah nolong gue dulu. Aaa, kalau jodoh emang gak kemana." Ayla histeris sendiri. Ternyata inilah hikmah dibalik sebuah musibah.
"Lo yakin dia orangnya?" tanya Lili. "Tapi gue gak lihat waktu di klinik."
"Dia nolong gue waktu lo udah pulang. Soalnya dada gue makin sesak. Dan gue yakin! Wajahnya sama. Ganteng kan? Baik lagi. Berperikemanusiaan banget." Ayla tersenyum sambil mengingat wajah pria itu. "Tapi sayang gue gak sempat tanya namanya, soalnya dia sibuk banget tapi dari yang gue lihat kayaknya dia anak kedokteran. Sigap banget nolongin orang."
Lili menscrooll beberapa komentar. "Nih, namanya. Eh, tapi kok mereka nyebutin ada dua nama."
"Gue akan cari ke kampus sebelah kalau mata gue udah sembuh. Gue yakin dia pasti jodoh gue."
"Jangan yakin dulu, siapa tahu dia udah nikah atau udah punya pacar. Gak baik jadi pelakor."
Ayla mengamati lagi video dirinya. "Dari gesture tubuhnya sih dia belum nikah dan gak punya pasangan, kalau emang dia udah punya pasangan gak mungkin dia peluk gue kayak gitu."
__ADS_1
"Ya siapa tahu dia playboy."
"Kalau memang dia playboy, gue akan buat dia tobat."
Fara dan Lili tertawa mendengar tingkat kepercayaan diri Ayla. "Ya udahlah terserah lo. Kita doain yang terbaik buat lo."
"Btw, katanya lo kemarin diajak balik sama Pak Aslan ya?" tanya Ayla. "Gimana? Dapat hukuman apa lo?" tanya Ayla lagi. Karena berita sahabatnya yang disusul suaminya itu juga sempat ramai.
"Kalau soal hukuman jangan ditanya lagi, hukuman pasti enak dong." kata Lili.
Fara justru merebahkan dirinya di atas ranjang Fara yang empuk. "Enak, enak, yang ada capek gue digempur semalaman. Gak ada ampun."
Ayla dan Lili seketika tertawa dengan keras. "Halah, gitu-gitu lo ketagihan. Dasar!"
"Iya sih." Tak bisa Fara pungkiri, dia juga sudah sangat kecanduan dengan ekor singa itu. Sehari tanpa merasakannya sepertinya ada yang kurang.
"Ayo, kalian makan dulu. Makanan udah siap nih!" panggil Bunda Rili yang berdiri di ambang pintu.
Seketika mereka bertiga keluar dari kamar.
"Kebetulan banget pas gue lapar." kata Lili dengan semangat
"Maaf ya tante, mungkin makanannya nanti kita habiskan."
"Iya, gak papa. Kalau mau biar tante pesankan dari kafe juga soalnya bentar lagi Ayahnya Ayla juga udah pulang."
Kedua sahabat Ayla hanya tersenyum sumbang. Sebenarnya mereka mau-mau malu. "Gak usah tante. Jadi gak enak."
"Pake gak enak segala. Udah kapan lagi kan kalian ke rumah gue." kata Ayla sambil duduk di meja makan.
Mereka kembali mengobrol di meja makan. Begitulah setiap kali ke rumah Ayla, mereka selalu makan sampai kenyang bahkan terkadang pulang juga masih bawa makanan.
💞💞💞
.
Like dan komen ya...
Kira-kira siapa sih yg nolongin Ayla berkali-kali... 😂 Nanti aku buatin novel sendiri..
__ADS_1