Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 80


__ADS_3

"Istri saya kenapa, Dok?" tanya Aslan setelah Dokter memeriksa kondisi Fara.


"Ikut ke ruangan saya sebentar." kata Dokter itu.


Aslan segera mengikuti Dokter itu ke ruangannya dan duduk berhadapan.


"Istri Anda mengalami mastitis. Penyumbatan ASI karena peradangan dan kemungkinan ada bakteri yang masuk. Sudah saya beri antibiotik dan pereda nyeri. Jangan lupa di kompres air hangat secara berkala dan dipijat pelan. Jika benjolannya sudah melunak, silakan dicoba untuk dipompa lagi." jelas Dokter itu.


"Tapi tadi saat dipompa yang keluar justru darah, apa itu bahaya?" tanya Aslan. Dia sangat khawatir dengan hal itu karena dia melihat sendiri darah segar mengalir ke tabung pompa.


"Itu karena saluran ASI nya tersumbat dan banyak luka di sekitar pu ting jadi darah segar yang keluar saat dipompa. Dikasih salep yang sudah saya berikan barusan, per 4 jam sekali biar lukanya cepat mengering."


Aslan menganggukkan kepalanya. "Besok saya akan membawa surat dari kepolisian untuk melakukan visum pada istri saya."


"Iya, kami akan melakukan visum sesuai prosedur. Kalau boleh tahu istri bapak kenapa?"


Aslan menghela napas panjang. "Ini semua ulah pelaku penyimpangan seksual. Entahlah, saya sendiri juga tidak paham, dia suka sesama jenis tapi istri saya juga jadi korban."


"Para pelaku penyimpangan itu lebih berbahaya dari pada orang normal. Mereka akan terus menciptakan hal-hal baru yang menantang hidupnya. Baguslah, kalau kedok mereka sudah terbongkar. Besok saya datangkan psikiater juga untuk istri bapak agar rasa trauma itu cepat menghilang." jelas dokter itu yang langsung mendapat anggukan dari Aslan.


"Baik dok, terima kasih." setelah itu Aslan keluar dari ruangan Dokter dan berjalan menuju ruang rawat Fara.


Dia kini duduk di dekat brangkar Fara sambil menatap Fara yang sedang tertidur dengan nyenyak.


Aslan melakukan perintah Dokter secara berkala semalaman. Dia mengompres dada Fara dan mengoles salep pada lukanya. Meski rasa kantuk berulang kali menyerang tapi dia halau. Dia ingin, ketika Fara terbangun esok pagi, Fara sudah tidak merasakan kesakitan lagi.


Pagi hari itu saat Fara mulai membuka matanya, dia melihat Aslan yang sedang tertidur sambil menangkup wajahnya di tepi brangkar.


Dadanya sudah tak sesakit kemarin. Rasa meriang juga sudah hilang. Tangannya kini terulur mengusap rambut Aslan yang berantakan.


Merasa ada pergerakan seketika Aslan terbangun. "Hei, sayang udah bangun?" Aslan mengusap wajahnya yang terlihat lelah.


"Mas Aslan kalau tidur di sofa aja jangan di sini."


Aslan justru tersenyum dan mengusap pipi Fara. "Udah enakan?"


Fara menganggukkan kepalanya.


"Kalau udah gak keras dan udah sakit kata dokter harus dipompa agar tidak terjadi penyumbatan lagi."

__ADS_1


Fara menganggukkan kepalanya. "Makasih Mas Aslan sudah menjaga aku semalaman."


"Udah menjadi tugas aku sebagai seorang suami."


Perlahan Fara duduk dan menurunkan kakinya.


"Mau kemana?" tanya Aslan.


"Mau ke kamar mandi Mas."


"Ya udah sini aku bantu." Aslan merengkuh pinggang Fara dengan satu tangan yang menggeret tiang infus.


"Mas aku kangen Arya, bentar lagi video call ya. Kapan boleh pulang?" tanya Fara sambil masuk ke dalam kamar mandi.


"Nanti setelah visum dan Dokter juga merekomendasikan Dokter Psikolog buat kamu agar kamu gak mengalami trauma berkepanjangan."


Kali ini Fara hanya menganggukkan kepalanya.


...***...


Setelah selesai melakukan visum dan berkonsultasi dengan Dokter Psikolog, Fara diperbolehkan pulang ke rumah. Dia sudah sangat kangen dengan Arya. Perasaannya kini juga sudah mulai membaik.


Sepanjang perjalanan dia terus bersandar di bahu Aslan. Bersyukurnya dia memiliki suami seperti Aslan yang ada untuknya dalam kondisi apapun.


"Iya, amin."


"Polisi dan pihak kampus menyusut tuntas masalah ini. Sebanyak 50 orang yang terjerat kasus penyimpangan. Semoga kasus penyimpangan gak ada lagi di kampus itu. Tapi apa kamu masih mau kuliah di kampus itu atau mau pindah saja?"


Fara terdiam beberapa saat. "Aku sudah terlanjur kuliah di kampus itu, aku gak mungkin tiba-tiba pindah. Ya semoga saja setelah ini, keadaan kampus jauh lebih aman."


"Ya sudah. Kalau itu memang keputusan kamu. Tapi untuk beberapa hari kamu jangan ke kampus dulu karena reporter dan wartawan sekarang sedang menyerbu kampus. Aku gak mau kamu diganggu oleh mereka dengan berita-berita yang berlebihan."


Fara hanya menganggukkan kepalanya. "Tapi temani ya di rumah." Mode manja Fara seketika muncul.


"Hem? Serius?" Aslan membisikkan sesuatu di telinga Fara agar sopirnya tidak dengar. "Nanti ekor singanya minta jatah terus loh."


"Ih." Fara mencubit pinggang Aslan dengan pipi meronanya.


Beberapa saat kemudian mobil Aslan berhenti di depan rumahnya. Baru saja Aslan berbicara soal reporter dan wartawan, sekarang di depan rumahnya sudah penuh dengan mereka.

__ADS_1


"Aduh Mas. Kenapa banyak wartawan di depan rumah?"


"Kamu pakai masker aja." Aslan memakaikan masker yang menutupi hidung dan bibir Fara.


Kemudian dia membuka pintu dan menggandeng tangan Fara menerobos kerumunan itu.


"Pak, bisa kami mengajukan beberapa pertanyaan."


"Mbak benar yang namanya Fara yang menjadi korban penyimpangan itu? Apa ada luka fisik yang ditimbulkan?"


"Pak, bagaimana perasaan bapak saat tahu istri Anda dilecehkan?"


"Apa Bapak bisa menerima keadaan istri Bapak?"


Fara semakin mengeratkan tangannya. Matanya sudah berkaca-kaca mendengar semua pertanyaan wartawan itu.


Aslan tak akan tinggal diam. Dia mengeraskan rahangnya dan membentak mereka semua.


"Diam kalian! Kita tidak akan menjawab semua pertanyaan kalian! Kalian coba pikirkan bagaimana psikis korban yang masih trauma dengan peristiwa ini. Jika diantara kalian masih ada yang membuat berita tentang istri saya, saya akan tuntut kalian semua!"


Aslan menarik tubuh Fara agar segera masuk ke dalam gerbang. "Pak Yanto tutup gerbangnya. Jangan sampai ada yang masuk!"


"Baik Tuan!"


"Astaga, mereka semakin memperkeruh suasana aja."


Mood Fara yang tadinya membaik kini buruk lagi. Air mata yang sudah surut kini membasahi pipinya lagi.


"Sayang, jangan nangis." setelah masuk ke dalam kamar, Aslan langsung memeluk tubuh Fara. Dia mengusap punggung Fara agar lebih tenang. "Aku akan hapus semua berita tentang kamu di internet. Aku pastikan tidak akan ada lagi yang mengungkit kasus ini."


"Makasih." kata Fara sambil melepas maskernya.


Aslan meregangkan pelukannya dan menangkup kedua pipi Fara. "Jangan bilang makasih. Aku melakukan ini karena aku mencintai kamu." Lalu Aslan mencium singkat bibir Fara. "Dan aku juga sayang sama kamu." Kemudian Aslan mencium bibir itu lebih lama. Memagutnya dengan lembut tapi sebuah ketukan pintu membuyarkan mereka.


"Aslan, Arya nyariin nih." kata Bu Lani dari depan pintu dan terdengar suara tangisan Arya.


Fara mencubit dada Aslan agar melepas pelukannya. "Aku mau peluk Arya dulu."


💞💞💞

__ADS_1


.


Like dan komen ya...


__ADS_2