Rumus Cinta Pak Guru

Rumus Cinta Pak Guru
BAB 117


__ADS_3

"Tumben Mas Aslan malam-malam keluar. Mau beli apa? Biasanya juga nyuruh Pak Yanto."


Setelah Alesha tertidur, Fara memindahkannya ke dalam box kemudian dia merebahkan dirinya di atas ranjang. Baru saja akan memejamkan matanya, Aslan masuk ke dalam kamar sambil membawa satu kantong plastik dari salah satu minimarket ternama.


"Mas beli apa malam-malam?" tanya Fara sambil menatap Aslan.


Bukannya menjawab, Aslan justru tersenyum penuh arti dan meletakkan satu kantong plastik itu di atas nakas lalu dia beralih ke kamar mandi.


Fara yang penasaran dengan isi dari kantong plastik berwarna putih itu, dia kini duduk dan mengambilnya. Ada beberapa sari roti dan minuman susu tapi ada tiga kotak kecil yang membuatnya tersenyum. "Ih, Mas Aslan gercep banget. Pura-pura tidur ah." Fara meletakkan kembali bungkusan itu di atas nakas lalu dia menarik selimut dan memejamkan matanya.


Beberapa saat kemudian Aslan keluar dari kamar mandi. Dia melihat Fara yang sedang tidur dengan bergelung selimut. "Kok udah tidur?" Aslan merangkak ke atas tempat tidur lalu menggoyang bahu Fara pelan. "Sayang, kok udah tidur?"


Fara masih saja berpura-pura tidur sambil menahan senyumnya.


"Ya udah, met tidur ya." ucapnya lirih sambil mencium pipi Fara. Kemudian dia menghempaskan dirinya di sebelah Fara. Dia tatap nyalang langit-langit kamarnya lalu berusaha memejamkan matanya meski rasa kantuk itu sama sekali tidak singgah didirinya.


Tapi baru saja dia memejamkan matanya, bibirnya menyentuh sesuatu yang kenyal dan basah. Dia sempat menahan napas saat Fara tiba-tiba menyerangnya.


Fara melepas ciumannya sambil tersenyum.


"Kirain udah tidur?" Aslan membuka matanya dan menatap Fara yang kini berada di dekatnya.


Fara menggeleng kecil. "Belum. Aku cuma mau godain Mas Aslan aja. Apa tuh yang rasa strawberry, jeruk, coklat?"


Aslan semakin tertawa sambil memencet hidung Fara. "Kamu mau coba yang mana?"


"Ih, rasanya sama aja. Itu kan cuma baunya aja."


"Mau ke kamar atas gak?" tanya Aslan karena dia ingin menghabiskan malam spesial dengan Fara.


Fara mengernyitkan dahinya. Dia nampak berpikir. "Tapi Lesha Mas?"


"Iya sih, dia pasti nangis kalau bangun gak ada kamu. Tapi kamu jangan teriak-teriak ya, soalnya Lesha lebih sensitif dari pada Arya dulu."


"Ih," satu cubitan mendarat di pinggang Aslan. "Mas Aslan pelan-pelan biar akunya gak teriak keras-keras."


"Kalau udah enak gak bisa direm." kekeh Aslan.


Mereka masih saja saling menatap. Sedetik kemudian Aslan bangun dan mengambil bando penutup telinga milik Alesha yang berbentuk boneka itu. Dia pakaikan di kepala Alesha dan menutup kedua telinganya. "Maaf ya sayang. Sebentar saja ya."

__ADS_1


Fara hanya tersenyum melihat tingkah Aslan.


"Udah beres." Aslan kini mengungkung tubuh Fara. Mereka saling bertatapan lekat lagi. Sedetik kemudian wajah itu kian mendekat. Ciuman yang awalnya lembut semakin lama semakin menuntut dan dalam. Suara decapan sudah terdengar memenuhi kamar mereka yang luas.


Satu tangan Aslan perlahan menyusuri pinggang Fara lalu masuk ke dalam dan menyingkap baju Fara hingga lolos dari kepalanya. Dia pandangi tubuh yang sekarang lebih berisi dan semakin sexy itu.


"Kenapa? Aku gendut ya?" tanya Fara. Karena berat badannya belum kembali normal seperti dulu.


"Nggak. Kamu makin sexy."


"Ih, bohong."


"Beneran." Aslan mendekatkan dirinya lagi dan menyusuri leher putih Fara dengan bibirnya. Menyesapnya dengan sesekali menggigitnya kecil.


Fara semakin mendongak dan melenguh tertahan. Apalagi saat tangan Aslan kini berhasil melepas pengait dan melempar penutup buah sintal itu ke sembarang tempat.


"Mas.." gairah sudah membakar tubuh Fara saat bibir Aslan semakin ke bawah dan berhenti di kedua buah sintal itu. Menyesapnya secara bergantian dengan sekali-kali memainkannya dengan lidah. Satu tangannya sudah beroperasi di bawah sana. Semakin memberi sensasi pada Fara dan membuatnya basah.


"Ah, Mas." Fara semakin menekan kepala Aslan yang bermain di dadanya.


Ciuman itu semakin turun ke bawah menyusuri perut Fara yang sudah kembali datar seperti semula lalu turun ke bawah lagi. Kini kedua tangan Aslan melepas celana Fara.


"Mas, jangan gitu, aku jadi gak tahan."


Aslan tak menggubris perkataan Fara. Dia justru semakin menjadi. Dia hisap lalu sesekali dia mainkan dengan lidahnya.


Fara semakin meracau tak karuan. Tapi di saat Fara akan mencapai puncaknya Aslan menghentikan aksinya. Dia tersenyum miring menatap wajah kecewa Fara.


"Mass..."


"Aku gak mau kamu lemas dulu."


Aslan melepas semua pakaiannya lalu dia ambil salah bungkusan kecil lalu merobeknya dengan giginya. Setelah dia pasang pengaman itu, dia kembali mengungkung tubuh Fara. Dia ciumi leher Fara lalu cuping telinganya.


Fara hanya men de sah merasakan sensasi yang Aslan berikan.


Kini Aslan memposisikan dirinya lalu mulai mengguncang tubuh Fara.


"Setelah enam bulan akhirnya..." Bukan dengan lembut tapi Aslan menghujam Fara dengan cepat hingga membuat tubuh Fara ikut terguncang.

__ADS_1


"Ah, Mas pelan-pelan."


"Enak sayang. Emang kamu gak enak? Hem?"


"Banget Mas. Aku takut gak bisa kontrol suara aku."


"Gak papa. Kamu teriak aja." Aslan menegakkan dirinya. Dia menahan kedua kaki Fara ke atas. "Sayang, besok konsultasi ke Dokter ya biar gak usah pakai pengaman."


Fara tak menimpali perkataan Aslan. Dia sudah dibuatnya mabuk kepayang dan melayang di udara. Gerakan Aslan benar-benar tidak terkontrol hingga membuatnya meletup di udara berkali-kali. Keringat sudah membasahi tubuh mereka berdua. Suara tepukan kulit semakin keras.


Fara selalu suka melihat wajah Aslan yang memerah dipenuhi gairah. Terlihat semakin tampan dan menggairahkan.


"Sayang, durasi bentar atau lama?" tanya Aslan di sela-sela de sah nya.


"Ini kan sudah lama. Aku sudah keluar dua kali." jawab Fara dengan napasnya yang tersenggal.


Aslan kini membalik tubuh Fara hingga dia tengkurap di atas ranjang lalu dia kembali memasuki Fara dari belakang dan menindih punggung Fara.


"Ah, sayang ini terlaku nikmat." Aslan mendekatkan wajahnya di dekat telinga Fara lalu me lu mat cuping telinga Fara. Dia semakin menambah gerakannya saat akan mencapai puncak.


Dengan era ngan yang keras, Aslan menuntaskan hasratnya. Kemudian dia melepaskan dirinya dan membuka karet pengaman lalu membuangnya.


Fara kini memutar tubuhnya. Dia mengatur napasnya yang tersenggal.


Tapi kini dia mendongak saat mendengar Aslan membuka sesuatu.


Aslan tersenyum kecil. "Saatnya nyobain rasa yang lain."


"Mas Aslan baru juga tarik napas."


"Nanggung ada tiga rasa berarti triple service." goda Aslan sambil tertawa kecil lalu dia kembali memberi stimulasi pada Fara dan adegan panas itu kembali terulang untuk yang kedua kalinya.


💞💞💞


.


.


😂😂 like dan komen ya...

__ADS_1


__ADS_2