
Bukan lengan Fara yang terasa sakit tapi justru perut bagian bawahnya yang terasa sangat sakit.
"Sakit banget." Fara duduk sambil memegang perutnya dan meringis kesakitan.
"Kak Fara! Toloong!!" Weni berteriak meminta tolong.
Mendengar teriakan Weni, beberapa orang segera datang dan mengangkat tubuh Fara menuju IGD.
"Kak Fara kenapa pendarahan?" tanya Weni saat melihat darah merembes di celana Fara.
Fara sangat terkejut. Ada apa dengan dirinya? Apakah dia sedang datang bulan? Tapi biasanya tidak banyak seperti ini.
"Tolong Anda tunggu diluar." Suster menyuruh Weni menunggu diluar saat Fara sedang ditangani oleh Dokter.
Weni kini duduk di kursi tunggu. Dia bingung apa yang harus dia lakukan. "Pak Aslan, iya aku harus kasih tahu Pak Aslan." Dia berdiri dan segera berjalan cepat menuju resepsionis rumah sakit untuk menanyakan dimana ruangan Aslan dirawat. Setelah mengetahui tempatnya. Dia segera menuju lantai dua dan berjalan jenjang menuju ruangan VIP.
"Dahlia nomor 2." Weni segera membuka pintu itu. Karena terlalu panik dia sampai lupa mengetuk pintu.
"Fara kebetulan kamu udah datang, Mama baru aja pulang." Perkataan Aslan terhenti saat melihat ternyata Weni yang datang. "Ngapain kamu ke sini? Fara dimana?"
Weni mengatur napasnya yang tersenggal lalu dia mulai berbicara dengan Aslan. Dia sudah tidak peduli lagi jika setelah ini dia pasti akan disalahkan lagi.
"Kak Fara kecelakaan. Dia sekarang ada di IGD." kata Weni dengan terbata.
"Kecelakaan bagaimana?" seketika Aslan bangun. Mendengar kabar ini tentu Aslan sangat khawatir.
"Tadi jatuh terserempet motor dan..."
Belum selesai Weni berbicara, Aslan mencabut paksa jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya lalu turun dari brangkar. "Sekarang ada di IGD?" tanya Aslan dengan panik.
"I-iya."
Aslan keluar dari ruangannya dan berjalan menuju lift.
__ADS_1
"Pak Aslan mau kemana?" tanya suster yang menjaga di ruangan itu.
"Mau menemui istri saya di IGD." jawab Aslan sambil berlalu.
"Tapi Pak, Anda masih harus istirahat."
Aslan sudah tak menggubris perkataan suster itu. Dia segera masuk ke dalam lift yang diikuti oleh Weni, setelah sampai di lantai 1, Aslan segera menuju IGD. Tapi ternyata Dokter masih belum selesai menanganinya.
Aslan menghela napas panjang dan duduk di kursi tunggu. "Kamu sengaja mau mencelakai Fara?" tanya Aslan pada Weni yang hanya berdiri sambil menundukkan pandangannya.
Weni segera menggelengkan kepalanya. "Tidak Pak. Saya tidak ada niat sama sekali untuk mencelakai Kak Fara. Tadi Kak Fara memang yang menolong saya jadi Kak Fara jatuh di tengah jalan." jelas Weni sambil menangis terisak. "Iya, ini memang salah saya tapi saya benar-benar gak ada niat untuk membuat Kak Fara celaka."
Aslan membuang napasnya kasar. Dia ingin marah dengan semua keadaan ini. "Sudah dua kali kamu ditolong dan justru membuat orang lain celaka. Apa sebenarnya mau kamu?"
"Maaf Pak, saya..."
Belum selesai Weni berkata, pintu sudah terbuka dan Dokter yang menangani Fara keluar. "Dengan keluarga pasien atas nama Fara?"
Seketika Aslan berdiri dan berjalan mendekat. "Iya, saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Aslan pada Dokter itu.
Mendengar pernyataan Dokter, Aslan sangat terkejut. Bagaimana bisa Fara mengalami keguguran sedangkan dirinya dan Fara sama sekali tidak mengetahui kehamilan itu. "Keguguran, Dok? Tapi saya dan istri saya sama sekali tidak tahu tentang kehamilan ini."
"Usia kandungannya memang masih sangat muda. Baru 5 minggu, mungkin belum ada tanda-tanda yang dirasakan. Seluruh jaringan di dalam rahim telah luruh dan bersih, tidak perlu lagi melakukan kuret. Tapi tetap harus istirahat total selama dua hari."
Aslan mengepalkan tangannya. Dia benar-benar marah dan ingin segera memgakhiri semua sandiwara yang diciptakan Weni dan keluarganya. "Bisa bertemu dengan istri saya sekarang?" tanya Aslan.
"Iya, silakan langsung ke ruang rawat di kelas 1 nomor 5." jawab suster yang baru saja memindah Fara ke ruang rawat.
Aslan segera berjalan dengan cepat menuju ruang rawat. Dia ingin melihat kondisi Fara terlebih dahulu baru dia akan menyelesaikan semua drama ini. Tak peduli keringat dingin yang sekarang mengalir di pelipisnya. Bahkan langkah kakinya terasa sangat lemas.
Aslan sampai di ruang rawat Fara dan melangkah masuk ke dalam ruangan itu. "Sayang..." Aslan langsung memeluk tubuh Fara yang terbaring di atas brangkar. "Kamu gak papa kan?"
"Aku... Aku gak papa. Maaf aku gak tahu kalau ada calon anak kita dalam perut aku." kata Fara. Dia menyesal karena telah gagal menjaganya.
__ADS_1
Aslan melepas pelukannya lalu mengusap pipi Fara. "Iya. Ini juga bukan salah kamu. Sudah takdirnya seperti ini. Nanti kita bisa buat lagi." goda Aslan agar Fara tidak larut dalam kesedihan.
Fara hanya tersenyum kecil. "Baru juga telat kb beberapa minggu lalu langsung jadi. Tapi sebelum aku mengetahuinya dia sudah pergi."
"Belum rezeki kita."
"Mas Aslan kok ke sini. Mas Aslan harusnya istirahat. Lihat nih, sampai keluar keringat dingin. Lalu bekas infusnya." Fara melihat pergelangan tangan Aslan yang berdarah. "Mas tarik paksa jarum infusnya? Astaga Mas, kesehatan Mas Aslan itu juga penting."
Aslan menggelengkan kepalanya. "Kamu jauh lebih penting daripada apapun."
"Weni dimana Mas? Dia tidak apa-apa kan?"
Mendengar nama Weni, emosi Aslan kembali tersulut. "Aku akan lapor polisi biar dia ditangkap. Habis sudah kesabaran aku. Sebelum dia semakin mengancam keselamatan keluarga kita."
"Tapi Mas..."
Perkataan Fara terpotong saat melihat Weni masuk ke dalam ruangannya. "Maaf. Saya memang salah. Saya memang pantas dipenjara. Harusnya saya saja yang terjatuh dan keguguran karena saya juga tidak pernah menginginkan kehamilan ini. Maafkan saya." Air mata weni terus mengalir membasahi pipinya. Inilah akibat yang harus dia tanggung. Dia selalu dipermainkan oleh drama kehidupan, biarkan saja drama itu berakhir, meski harus berakhir sebagai tahanan.
Aslan menatap tajam Weni. "Oke, aku tanya sekali lagi."
Fara mengambil ponselnya dan merekam Weni sebagai barang bukti agar dia tidak berani berbuat macam-macam lagi.
"Siapa yang menghamili kamu?" tanya Aslan dengan keras.
"Dia, dia guru magang di sekolah." jawab Weni dengan isak tangisnya.
"Siapa yang menyuruh kamu menjebak aku?"
"Sebenarnya...."
💞💞💞
.
__ADS_1
Lanjut besok aja.. 😂