
Aslan sampai di rumah Mamanya saat awan hitam sudah bersatu di atas langit. Dia berjalan masuk ke dalam rumahnya sambil berlari.
"Ma, Fara beneran gak ke sini?" tanya Aslan memastikan keberadaan Fara.
"Nggak Aslan. Fara sama sekali gak ke sini. Barusan Mama hubungi nomornya juga tidak aktif. Sebenarnya ada apa? Masalah kamu belum selesai?" tanya Bu Lani sambil memangku Arya yang sedang minum susu dari botolnya.
Aslan kini terduduk dengan lemas lalu menganggukkan kepalanya. "Tasya mengungkap masa lalu aku yang menyedihkan. Fara pasti marah sama aku karena aku gak pernah cerita sama sekali pada Fara bagaimana hubunganku dengan Tasya dulu." Aslan mengusap wajahnya. Dia sangat menyesal dengan apa yang telah dia lakukan dulu.
"Astaga Aslan. Makanya dulu Mama sering marah sama kamu. Sekarang kamu baru menuai hasil buruknya. Kasihan Fara. Dia baru keguguran masih harus istirahat total. Kamu sudah hubungi kakak-kakaknya?"
Aslan menganggukkan kepalanya. "Kak Faris masih ada diluar negeri, kalau Kak Ferdi ada diluar kota dan sedang dalam perjalanan pulang. Mereka tidak tahu sama sekali tetang Fara."
"Ya Allah, Fara kemana? Udah mendung banget bentar lagi hujan. Coba kamu ingat-ingat lagi, Fara biasanya kemana pas lagi ada masalah."
Aslan terdiam. Dia berusaha berpikir meski sekarang kepalanya terasa sangat pusing.
Tiba-tiba suara petir menggelegar di langit. Hujan turun dengan derasnya. Saat itu juga Arya tiba-tiba menangis dengan keras.
"Mammaa.. Maammmaaa..."
Aslan segera berdiri lalu mendekap Arya. Kini perasaannya juga menjadi tidak enak.
"Sayang, jangan nangis. Bentar lagi Ayah pasti nemuin Mama."
Tiba-tiba saja dia teringat jika Fara sedang sedih pasti yang dibutuhkannya adalah kedua orang tuanya.
"Sepertinya Fara ke makam orang tuanya. Biar aku cari dia ke sana sekarang." Aslan menurunkan Arya yang masih saja menangis. "Arya, jangan nangis lagi ya sayang..." Aslan mencium kedua pipi Arya yang memerah karena tangisnya yang terisak.
"Ya udah, kamu juga hati-hati. Perasaan Mama tiba-tiba juga gak enak dengerin Arya yang nangis sambil cari Mamanya."
"Iya," Aslan segera berjalan cepat menuju mobilnya. Dia tidak peduli lagi hujan yang kian turun dengan derasnya. Dia terobos jalanan yang mulai tergenang air dengan laju mobil yang sangat kencang.
Perasaan Aslan semakin tidak tenang. Dia mempunyai firasat tidak enak tentang Fara kali ini.
Aslan menghentikan mobilnya di depan makam yang sangat sepi.
"Apa Fara memang masih ada di sana?" meski logikanya menolak, mana mungkin hujan deras Fara masih berada di pemakaman tapi hati Aslan yakin bahwa Fara masih ada di tempat itu.
Aslan turun dari mobil sambil membawa payung dan berlari masuk ke dalam pemakaman. Dia mencari makam kedua mertuanya.
__ADS_1
Saat menemukannya, dia sangat terkejut melihat kondisi Fara. Kepala Fara berada di atas batu nisan dengan darah yang mengembung bercampur air hujan. "Fara!!" seketika Aslan melepas payungnya dan meraih tubuh Fara yang sudah terasa sangat dingin.
"Fara, bangun! Fara!" Aslan mengangkat tubuh Fara dan membawanya berlari menuju mobilnya.
Dia segera memasukkan tubuh Fara di jok depan dan memasang sit bealt di tubuh Fara. Setelah Aslan masuk ke dalam mobil, dia mengambil blazernya yang sempat dia lepas dan dia tutupkan di tubuh Fara. Kemudian dia ambil tisu untuk mengusap wajah pucat Fara yang kotor terkena tanah dan darah.
"Fara kamu kenapa bisa kayak gini?" suara Aslan semakin bergetar. Dia berusaha mengusap darah yang mengalir dari kepala Fara tapi tetap tidak berhenti.
Kemudian dia cek denyut nadi Fara yang terasa sangat lemah. "Fara kamu harus bertahan!" Aslan segera menghidupkan mobilnya dan melajukannya dengan kencang menuju rumah sakit.
Air mata kini sudah berurai di wajah Aslan. Rasa menyesal itu kian menghimpit dadanya. Semua peristiwa ini terjadi karenanya.
"Fara maafkan aku. Kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu, aku gak akan maafkan diri aku sendiri."
Aslan semakin menambah laju mobilnya. Setelah sampai di rumah sakit, dia segera membawanya ke IGD.
"Dokter cepat tolong istri saya!" teriak Aslan.
Dua perawat dan seorang Dokter segera menghampiri Aslan dengan membawa brangkar dorong. Setelah Aslan menurunkan tubuh Fara di atas brangkar, mereka segera mendorong brangkar itu masuk ke dalam IGD.
"Maaf, bapak tunggu diluar."
"Dokter detak jantung pasien semakin melemah."
"Cepat hentikan pendarahan di kepalanya. Segera pasang infus dan selang oksigennya."
"Baik."
"Suster, ambilkan empat kantong darah di PMI, pasien kehilangan banyak darah."
"Baik."
Dia tidak sanggup mendengar suara Dokter dan Suster yang menangani Fara. Setiap kali terdengar bahwa detak jantung Fara semakin melemah, jantungnya berdenyut nyeri.
Ini semua karena dosa yang aku perbuat, harusnya aku yang menanggung semua karma ini bukan Fara.
Air mata Aslan semakin berurai membasahi pipinya. Hatinya hancur, sehancur-hancurnya.
"Maaf, dengan keluarga pasien."
__ADS_1
Seketika Aslan berdiri. "Iya, saya suaminya."
"Stok darah di PMI hanya tinggal satu kantong, sedangkan pasien membutuhkan empat kantong. Kami sedang berupaya mencari pendonor. Kebetulan golongan darah pasien O negatif jadi tidak bisa menerima golongan dari darah lain."
"Golongan darah saya A, sebentar saya hubungi keluarganya dahulu."
"Baik."
Harapan Aslan satu-satunya ada pada Kak Ferdi. Semoga saja Ferdi sudah sampai di rumah.
Aslan segera menghubunginya, beberapa kali panggilan akhirnya terhubung dengan Ferdi.
"Hallo Kak Ferdi. Fara mengalami kecelakaan dan dia membutuhkan donor darah golongan darah O negatif."
"Kecelakaan? Iya, iya, aku akan segera ke sana kebetulan golongan darah aku sama dengan Fara. Di rumah sakit mana?"
"Syukurlah. Di rumah sakit Medika."
Setelah itu Aslan mematikan panggilannya.
"Dokter, kesadaran pasien semakin menurun!"
Mendengar suara panik dari suster yang sedang menangani Fara di dalam membuat pikiran Aslan tidak tenang.
"Dokter, pasien hampir gagal napas."
"Cepat ambil alat pacu!"
"Fara!" Aslan tak peduli lagi dengan suster yang melarangnya masuk. Dia memaksa untuk masuk. "Faraa," Aslan seperti tidak mempunyai hati saat melihat Fara yang bernafas dengan sesak hingga dadanya ikut naik turun dengan mulut yang ikut terbuka seiring tarikan napas yang sangat berat.
"Sayang, kamu harus bertahan. Aku mohon.."
"Maaf Pak, silakan tunggu diluar lebih dulu." Dua suster menahan tubuh Aslan yang memberontak ingin mendekat. "Dokter sedang mengupayakan keselamatan pasien."
Lutut Aslan semakin melemas saat mendengar suara elektrokardiograf semakin melambat dan Dokter kini berusaha memacu detak jantung Fara.
Fara aku mohon, bertahanlah...
💞💞💞
__ADS_1
😥