
Menanti kelahiran anak kedua membuat dada Fara berdebar-debar di setiap harinya. Rasanya dia sudah ingin sekali segera menggendong putrinya. Di trimester ketiga, Fara sudah jarang tidur dengan nyenyak di malam hari. Pinggangnya sering terasa pegal dan nyeri.
Semakin perutnya membesar, rasanya semakin tidak nyaman. Meskipun di awal kehamilan dia sangat merasa nyaman karena yang merasakan morning sickness nya adalah Aslan tapi semakin mendekati hari kelahiran justru Fara semakin dibuat tidak nyaman dengan perutnya. Beda sekali saat dia hamil Arya dulu. Dia tidak nyaman di awal kehamilan saja setelah itu dia merasa nyaman bahkan menjelang persalinan saja tidak terasa apa-apa.
Seperti malam itu, lagi-lagi Fara tidak bisa tidur. Perlahan dia duduk dan bersandar di head board sambil mengusap perutnya yang terasa kencang. Sudah beberapa kali Fara merasakan kontraksi palsu seperti ini sejak menginjak usia kehamilan 8 bulan.
"Sayang, gak bisa tidur lagi?" Aslan membuka matanya dan mendongak menatap Fara.
Fara hanya menganggukkan kepalanya.
Aslan kini duduk di samping Fara dan mengusap perut Fara. "Udah mulas?"
Fara menggelengkan kepalanya. "Hampir tiap malam gak nyaman gini Mas. Aku gak bisa tidur. Miring kanan gak enak, miring kiri gak enak."
Aslan beringsut dan mendekatkan wajahnya di perut Fara. "Sayang, kalau mau lahir jangan persulit Mama ya. Kasihan Mama tiap hari gak bisa tidur." Dia menciumi perut Fara. "Kasihkan sakitnya ke Ayah saja ya, kayak dulu waktu pertama Mama hamil. Biar Ayah yang merasakan." Kemudian Aslan membacakan do'a di dekat perut Fara dengan sesekali menciumnya.
Merasa tidak ada pergerakan, Aslan mendongak dan melihat Fara yang telah tertidur sambil duduk.
"Astaga, sayang..." Aslan meraih kepala Fara agar bersandar di pundaknya. Dia biarkan Fara tidur dengan posisi seperti ini yang terpenting dia bisa tidur dengan nyenyak.
Meski sampai pagi tak mengapa Aslan menjadikan dirinya sandaran Fara. Karena apa yang dirasakan Fara sekarang tidak bisa lagi dia rasakan.
Sesekali Aslan mengusap puncak kepala Fara agar tidurnya semakin nyenyak. Terkadang kepalanya terkantuk-kantuk lalu kembali tegak lagi.
Saat matahari akan menunjukkan sinarnya Fara membuka matanya sambil meringis merasakan sakit.
"Aduh..."
Seketika Aslan membuka matanya. "Kenapa sayang?"
Fara menoleh Aslan yang sedang menjadi sandarannya. "Mas, semalam aku tidur kayak gini."
"Iya, gak papa yang penting kamu bisa tidur."
Perlahan Fara menggeser tubuhnya. "Mulas banget perut aku."
Rasa kantuk yang tadinya menyelimuti Aslan seketika hilang. Dia kini menatap Fara. "Mulas gimana? Rasanya kencang gak?"
"Gak tahu Mas. Pokoknya rasanya sakit." Fara kini mengusap perutnya.
__ADS_1
"Kita langsung ke Dokter saja."
"Tunggu dulu Mas. Takutnya hanya kontraksi palsu. Soalnya aku kan sering ngalamin itu." Perlahan Fara menggeser tubuhnya lalu turun dari ranjang.
"Mau ke kamar mandi? Sini aku bantu." Aslan merengkuh pinggang Fara dan membantunya berjalan menuju kamar mandi.
Semakin siang, mulas yang dirasakan Fara semakin terasa. Akhirnya Fara segera berangkat ke rumah sakit bersama Aslan dan Bu Lani. Sedangkan Arya di rumah bersama pengasuhnya.
Sampai di rumah sakit, Fara menunggu pembukaan lengkap di ruang observasi.
"Masih pembukaan tiga. Ditunggu dulu. Silakan jalan-jalan kecil biar cepat bertambah pembukaannya."
Fara menghela napas panjang. Rasanya sudah sangat sakit tapi baru pembukaan tiga. Benar-benar rasanya berbeda dari yang dulu. Ternyata kontraksi itu sesakit ini.
Aslan beberapa kali mengusap keringat yang membasahi pelipis Fara dengan tisu. "Sabar ya sayang."
Fara hanya bisa meringis menahan rasa sakit yang kian mendera. Dia kini berusaha untuk berjalan-jalan kecil meski kakinya sebenarnya sudah sangat berat untuk melangkah dan tentu saja sambil berpegangan Aslan.
"Sayang, duduk saja kalau gak kuat berdiri." Aslan menuntun Fara agar kembali duduk.
Fara menarik napas panjang lalu menghembuskannya lagi. Beberapa saat lagi sakit itu berangsur hilang.
"Sudah, Ma." Fara kembali merasakan sakit lagi. Rasa lapar sudah tidak dia rasakan. Nafsu makan juga sudah hilang.
Aslan memeluk tubuh Fara sambil mengusap perut Fara yang terasa kian kencang. Dia sangat tidak tega melihat keadaan Fara yang seperti ini. Dia ciumi puncak kepala Fara dan terus berdoa untuk kelancaran kelahiran buah hatinya.
"Mas sakit." rintih Fara.
"Iya sayang, sabar ya. Aku yakin kamu bisa."
Hingga siang telah berlalu dan hari sudah sore pembukaan masih saja stuck di pembukaan empat. Rasanya Fara sudah tidak sanggup lagi merasakan sakitnya.
"Kita induksi biar proses pembukaannya cepat."
Setelah Dokter menyuntik induksi, beberapa saat kemudian kontraksi yang dirasakan Fara semakin menjadi. Rasanya jauh lebih sakit daripada sebelumnya.
Fara hanya merebahkan dirinya sambil miring ke kiri dan memeluk lengan Aslan. Dia memejamkan matanya merasakan mulas di perutnya.
"Sayang, kamu masih sanggup?" tanya Aslan. Dia sudah tidak tega melihat Fara yang seperti ini. Dia usap rambut yang lepek karena keringat.
__ADS_1
Fara hanya mengangguk pelan.
"Mama jadi ikut mules. Fara, kalau kamu memang gak sanggup gak papa. Kita ambil opsi lain." Bu Lani juga kasihan melihat kondisi Fara saat ini. Dari pagi sampai malam pembukaan Fara masih juga belum lengkap.
Dokter kembali memeriksa pembukaan Fara. "Hanya menambah satu saja. Bunda masih sanggup?"
Kali ini Aslan yang akan memberi keputusan
Dia tidak mungkin tega membiarkan Fara berlama-lama merasakan sakit. Sudah seharian penuh Fara berjuang tapi masih saja stuck. "Tolong di operasi saja Dokter."
Mendengar hal itu seketika Fara membuka matanya. Dia menarik lengan Aslan lagi. "Mas, aku takut operasi."
Aslan menangkup kedua pipi Fara. "Sayang, aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu. Jangan dipaksa kalau memang kamu merasa tidak sanggup yang penting kamu dan anak kita selamat."
Aslan mencium kening Fara berusaha untuk memberinya ketenangan.
"Apa boleh ditemani Mas Aslan?"
"Boleh, setelah dilakukan pembiusan nanti suami boleh menemani."
Fara akhirnya menganggukkan kepalanya.
"Baik, kami siapkan ruang operasi dan juga Pak Aslan harus menandatangani surat persetujuan terlebih dahulu."
"Iya, Dokter."
"Mas..."
Aslan memeluk tubuh Fara, dia berusaha menenangkan Fara. "Jangan takut, ada aku. Semua pasti akan baik-baik saja."
"Mas, aku minta maaf ya kalau aku punya salah sama Mas Aslan." kata Fara yang kini mulai menangis. Dia benar-benar merasa takut karena dia pernah melihat bagaimana proses operasi sesar itu. Sangat mengerikan baginya.
"Sayang, ssstt, kamu tenang ya. Ini semua demi keselamatan kamu dan anak kita." Aslan meregangkan pelukannya lalu mencium kedua pipi Fara. "Semua pasti akan baik-baik saja."
💞💞💞
.
Like dan komen ya...
__ADS_1