
"Mas, malam ini jangan ganggu aku dulu, besok aku hari pertama masuk kuliah. Aku gak mau sampai kesiangan." Malam itu setelah menidurkan Arya, Fara merebahkan dirinya dan berusaha memejamkan matanya. Tapi Aslan justru menghimpit tempatnya dan memeluknya dengan erat.
"Mas, agak sana ih, aku gak bisa tidur." Fara mendorong tubuh Aslan tapi sangat berat.
"Dingin, butuh kehangatan. Apalagi diluar lagi hujan deras." Aslan masih saja mendekap Fara dengan erat.
"Hujannya kan diluar. Pakai selimutnya nih." Fara menggeser tubuhnya tapi Aslan masih saja mengikutinya dan memeluknya lagi dengan erat.
Akhirnya Fara hanya terdiam dan tak menghindari pelukan Aslan.
Bukannya Aslan tidur tapi tangan Aslan justru diam-diam merayap menyentuh titik-titik sensitif di tubuh Fara.
"Mas, udah. Aku mau tidur loh."
"Ya, kamu tidur aja gak papa. Biar aku yang beraksi." kata Aslan. Dia tidak peduli dengan cicitan Fara karena malam itu memang terasa sangat dingin.
Fara memutar tubuhnya dan menatap Aslan dengan mata sayunya. "Padahal tiap malam udah dikasih jatah. Kadang siang juga, gitu masih pengen aja."
Aslan tersenyum lalu mengecup singkat bibir Fara. "Kamu nyandu."
"Ya udah, 15 menit aja ya. Habis itu aku mau tidur." begitulah Fara, awalnya menolak tapi dia tidak bisa jika Aslan terus merayunya.
Fara hanya pasrah dengan perlakuan Aslan. Awalnya Fara hanya biasa saja tapi lama-lama menikmati. Hawa dingin itu sudah berganti menjadi panas hingga peluh membanjiri tubuh mereka berdua. Bukan hanya 15 menit tapi lebih.
"I love you, Fara."
Fara sudah tak menjawab perkataan Aslan. Dia kini memejamkan mata karena merasa lelah dibawa terbang tinggi Aslan dan meletup di udara berkali-kali.
Bahkan tengah malam saat Arya terbangun, Fara masih tertidur dengan nyenyak. Untunglah persediaan ASIP Fara melimpah, jadi Aslan bisa memberinya susu meski Fara masih terlelap.
Setelah meminum susu Arya kembali tidur lagi.
"Pintar banget sih sayang." Aslan mencium pelan pipi yang chubby itu. "Jadi pengen cepat-cepat buatkan kamu adik." Aslan tersenyum kecil lalu menurunkan Arya ke dalam box nya. Kemudian dia kembali merebahkan dirinya di sebelah Fara, dia pandangi wajah yang masih tertidur pulas itu.
"Tadi aku sampai gak sadar kalau buat tanda merah di leher kamu. Pasti besok kamu ngomel-ngomel." Aslan mengusap pelan tanda merah yang ada di leher Fara, sangat terlihat merah karena hisapannya yang terlalu kuat. "Biarin lah." Aslan tersenyum kecil. "Kan udah punya suami."
Kemudian dia kembali tertidur bersama Fara.
__ADS_1
Pagi hari setelah sholat Subuh, Fara segera bersiap ke kampus dengan memakai kemeja putih dan rok hitam panjangnya. Dia masih saja mendumel berkali-kali saat berkaca karena tanda merah dari Aslan begitu terlihat jelas.
"Udah tahu hari ini pertama masuk kampus malah dibuatin tanda merah kayak gini." Fara mengoles tanda merah itu dengan foundation berharap akan tertutup.
Aslan hanya tertawa sambil menggendong Arya. "Kan udah punya suami."
"Iya yang udah tahu. Yang belum tahu pasti anggapnya aku ini cewek gampangan." Fara bernapas lega karena tanda merah itu akhirnya bisa tertutup dengan foundation. "Nanti kena keringat bisa hilang nih. Harus dibenerin lagi pas istirahat."
Aslan masih saja tertawa.
"Ih, tertawa terus." Fara meraih Arya dari gendongan Aslan. "Sayang, Mama kuliah dulu ya. Nanti agak sore pulangnya. Jangan rewel di rumah. Nanti waktu istirahat kita video call. Oke." Fara menciumi pipi bulat itu.
"Oke, Mama." jawab Aslan sambil mendaratkan ciumannya di pipi Fara. "Nanti pulangnya aku jemput ya. Hati-hati di sana, jaga mata dan hati."
"iya pasti."
"Jangan lupa nanti malam." Aslan mencium lagi pipi Fara.
"Ih, libur aja dulu. Aku full kegiatan hari ini."
...***...
Setelah Aslan menghentikan mobilnya di depan kampus, Fara mencium punggung tangan Aslan yang dibalas dua kecupan di pipi Fara.
"Hati-hati ya. Kalau ada apa-apa langsung WA saja."
Fara menganggukkan kepalanya. "Iya Mas. Mas Aslan juga hati-hati." kemudian Fara keluar dari mobil Aslan dan berjalan masuk ke dalam kampus.
Baru memasuki gerbang dia langsung disambut oleh Ayla dan Lili.
"Junior, salam dulu sama senior." canda Ayla sambil menepuk bahu Fara.
"Kalian berdua mentang-mentang jadi kating gue jangan seenaknya."
Ayla dan Lili hanya tertawa lalu menggandeng tangan Fara untuk berjalan menuju fakultas Fara agar menaruh tasnya terlebih dahulu sebelum apel pagi dimulai.
"Lo kelihatan ngantuk banget sih. Dedek Arya rewel?" tanya Lili yang melihat Fara menguap berkali-kali.
__ADS_1
"Yang rewel tuh bapaknya. Ih, kesel gue sama Mas Aslan." kata Fara.
"Kesel tapi iya-iya aja." Ayla masih saja tertawa. "Jangan ngomongin Bapaknya Arya deh nanti gue kena sawan."
"Tuh kelas lo. Buruan taruh tas lo bentar lagi udah mulai apel."
"Iya, kakak." Fara masuk ke dalam kelas dan memilih tempat duduk di tengah. Dia tersenyum menyapa beberapa temannya yang berada di kelas sambil bersalaman memperkenalkan diri. Setelah itu mereka keluar kelas bersama-sama untuk apel pagi.
Terik matahari yang semakin panas membuat peluh mengalir di pelipis Fara. Sudah lama dia tidak upacara dan berpanas-panasan seperti ini. Untunglah, dia tidak sampai pingsan hingga apel selesai.
Setelah selesai, mereka bubar dan menuju kelas fakultas masing-masing.
Saat dosen mengisi pembekalan materi pengenalan kampus, rasa kantuk itu semakin menyerang Fara. Dia tahan sekuat tenaga rasa kantuk itu. Dia sama sekali tidak mendengarkan penjelasan dosen di depan.
Setelah itu, berganti dengan perwakilan kating dari fakultas yang sama. Dua orang yang berdiri di depan itu salah satunya sudah Fara kenal.
Vero tersenyum ke arah Fara yang sedang menatapnya sesaat.
Rasanya Fara semakin bosan mendengar materi dari kakak tingkatnya itu. Untunglah pengenalan kampus hanya berlangsung sehari, tak apalah, tak perlu di dengarkan juga.
Fara menghela napas panjang, akhirnya istirahat juga. Perutnya sudah terasa sangat lapar. Untungnya juga dia membawa bekal jadi tidak perlu keluar ke kantin.
Dia memakan bekalnya sambil video call dengan Arya dan juga Aslan.
Bayi yang berumur tiga bulan itu seolah mengerti sedang diajak bercanda oleh kedua orang tuanya lewat video call. Dia tersenyum lucu, rasanya Fara sudah ingin mencubit pipinya.
"Fara, gak istirahat ke kantin?"
Pertanyaan itu seketika membuat kepala Fara mendongak. Ada Vero yang berdiri di dekatnya. Hanya lengannya saja yang tertangkap kamera video call nya.
"Eh, hmm..." Fara melirik Aslan yang semakin fokus dengan layar ponselnya.
💞💞💞
.
Like dan komen ya...
__ADS_1