
Beberapa saat kemudian Dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Aslan segera berdiri dan berjalan menghampiri Dokter itu. "Bagaimana keadaan istri saya dan kandungannya?" tanya Aslan.
"Istri Anda baik-baik saja, kandungannya juga sehat. Apa sebelumnya sempat mengalami guncangan perasaan?" tanya Dokter kandungan itu. Dokter itu memang sudah biasa menangani Fara dan dia sudah tahu persis kondisi Fara yang tidak bisa mengontrol emosinya.
"Iya Dok."
"Pikiran stress, khawatir yang berlebihan dan kelelahan juga bisa memicu pendarahan. Untuk sementara harus dirawat selama dua hari dan benar-benar istirahat total." terang Dokter itu.
Mendengar penjelasan Dokter, Aslan dan Mamanya kini bisa bernapas lega. "Iya Dok, terima kasih." kemudian Aslan segera berjalan menuju ruang rawat Fara yang diikuti Mamanya.
Saat sampai di ruangan Fara, Aslan berjalan mendekat dan duduk di dekat brangkar yang Fara tempati. "Sayang, jangan khawatir ya. Kamu dan dedek gak papa. Semua sehat." Aslan meraih tangan Fara dan menciuminya.
Fara menganggukkan kepalanya. "Iya Mas, aku bersyukur banget. Tadi aku udah takut setengah mati."
"Mulai sekarang kamu jangan stress dan harus banyak istirahat." kata Aslan lagi.
Fara menganggukkan kepalanya.
Bu Lani hanya tersenyum melihat putra dan menantunya yang semakin saling mencintai. "Kalian butuh apa-apa gak? Kalau gak ada Mama pulang dulu ya. Nanti sore biar Mama ke sini sama Ayahnya Fara."
"Iya Ma. Biar aku yang jaga Fara." kata Aslan.
Bu Lani mendekat dan mencium pipi Fara. "Cepat pulih ya sayang."
"Iya Ma."
Kemudian Bu Lani keluar dari ruangan Fara.
"Ternyata sekarang ada dua orang yang penting dalam hidup aku. Mas Aslan dan dedek yang ada di perut."
Aslan hanya tersenyum sambil mengusap rambut Fara. "Kalian berdua juga sangat penting buat aku."
__ADS_1
"Dulu aku sama sekali gak menginginkan Mas Aslan bahkan aku sempat menolak kehamilan aku. Tapi kejadian kemarin yang menimpa Mas Aslan dan kejadian hari ini, rasanya aku sangat takut kehilangan. Sekarang aku justru seolah gak bisa hidup tanpa kalian berdua."
Aslan mencium kening Fara lalu menempelkan pipinya di pipi Fara. "Aku juga gak mau kehilangan kamu. Setiap malam aku selalu berdo'a agar kamu bisa membalas perasaanku dan tidak pergi dari hidupku. Aku sangat bahagia Allah sudah mengabulkan do'a ku." setengah badan Aslan kini sudah naik ke atas brangkar dengan satu tangan yang memeluk Fara.
"Iya, aku yang terlalu lama mengartikannya." kata Fara. Mendapat perlakuan seperti ini rasanya terasa sangat nyaman.
"Tidak apa-apa. Kesabaranku masih banyak buat kamu." Aslan kembali mencium kecil pipi Fara.
"Makasih."
"Udah, jangan bilang makasih. Sekarang kamu istirahat. Selama dua hari ini kamu harus benar-benar istirahat total."
Fara menganggukkan kepalanya lagi.
Aslan masih saja menempelkan pipinya di pipi Fara. Mereka sama-sama terdiam dengan satu tangan yang kini terpaut. Benar-benar seperti pasangan yang sedang kasmaran dan membuat iri author saja.
Tiba-tiba mereka sama-sama menoleh. Fara yang ingin mengatakan sesuatu seketika urung saat melihat tatapan Aslan yang seperti menghinoptisnya.
Fara memejamkan matanya. Dia menerima kehadiran Aslan dengan terbuka. Mulai merasakan sapuan bibir yang terasa hangat dan basah. Fara seperti dibawa Aslan terbang tinggi dan melayang di udara.
Sudah lama sekali Aslan ingin merasakannya. Dia lu mat dengan lembut dan mulai menyesapi manisnya madu itu. Terasa sangat bergelora dan mampu membangkitkan gairah yang terpendam. Dia hisap kecil bibir bawah Fara lalu kembali menyusuri rongga mulutnya dan saling bermain indera pengecap.
Meski sebenarnya masih ingin merasakannya, Aslan melepas tautan bibirnya sebelum tegangannya semakin tinggi. Mereka kini saling bertatap lekat dengan wajah yang sama-sama memerah.
"I love you..." ucap Aslan yang masih begitu dekat dengan wajah Fara. Bahkan hangat napasnya terasa menyapu pipi Fara.
"I love you too."
Detak jantung Aslan masih saja belum terkontrol. Sepertinya dia harus mengalihkan ke lain hal agar pikiran kotornya hilang. "Dedek belum aku cium. Nanti dia iri." Aslan beringsut turun dan membuka selimut Fara. "Sayang sehat-sehat ya di dalam sana. Tunggu sampai waktunya kamu melihat dunia ini. Tinggal 4 bulan lagi kita akan bertemu." Aslan masih menciuminya yang membuat Fara tertawa kecil.
"Mas, udah geli."
__ADS_1
Aslan kini menegakkan tubuhnya lalu menyelimuti Fara kembali. "Kamu sekarang tidur saja. Aku temani di sini."
Fara menganggukkan kepalanya.
"Mulai sekarang kamu harus banyak-banyak istirahat dan gak boleh stress."
"Siap Pak Guru."
Setiap kali mendengar panggilan itu, Aslan menjadi sangat gemas. Dia mencubit kecil hidung Fara. "Selama beberapa hari aku akan jaga kamu. Gak ke sekolah, gak ke kantor juga. Kamu lebih penting dari semuanya."
"Ih, Pak Guru masak gak datang ke sekolah. Nanti anak muridnya pada senang gak ada pelajaran matematika."
"Masih ada guru pengganti."
"Tapi yang galak cuma Pak Aslan."
Aslan tersenyum. Dulu dia memang galak tapi sekarang dia sudah jauh lebih sabar. "Itu dulu saat jadi singa, tapi sekarang sudah jadi kucing orange, kena kutukan cinta."
Mereka sama-sama tertawa. Sudah 10 bulan bersama, tidaklah mudah bagi mereka sampai ke tahap ini. Semoga saja, mulai hari itu dan seterusnya hubungan itu kian membaik.
💞💞💞
.
🙄
Fara yang dicium author yang cemburu...
.
Like dan komen ya...
__ADS_1