
Sam mengabari Nay tentang meninggalnya Sisil. Tidak kalah terkejut dengan Sam, Nay cukup terpukul, walaupun pertemuan dengan Sisil termasuk singkat. Namun, dia sudah menyukai anak tersebut terlebih Nay memang menyukai anak-anak.
Mereka pergi ke tempat duka, dimana Sisil berada. Namun, tempat tersebut kosong, Sisil sudah dibawa ke pemakaman.
"Sam, bagaimana ini bisa terjadi?" ucap Nay dengan air mata yang menetes dari mata indahnya.
Sam masih memegang stir mobilnya, dia fokus berkendara menuju tempat pemakaman. "Belum mendapat info pasti. Bian hanya bilang Sisil telat penanganan." Sam melirik sedikit pada Nay. "Nay, apa kamu ingat saat kita bermalam di rumah pantai?"
"Ya."
"Saat itu, Falista menelponku, tetapi aku abaikan. Aku takut saat itu dia lagi butuh bantuan untuk biaya pengobatan Sisil."
Nay hanya menatap wajah Sam, dia tau Sisil bukanlah tanggung jawab mereka tetapi jika ada yang membutuhkan pertolongan di depan mata maka, tidak mungkin mereka menutup mata. Walaupun dia tau, Falista pernah menolak bantuan mereka.
Nay mengelus pundak Sam untuk menenangkannya. "Ini bukan salahmu Sam, kita juga tidak ingin hal buruk terjadi. Kita bahkan sudah mencoba menawarkan bantuan tetapi ditolak olehnya."
Mereka tiba di tempat pemakaman, sudah banyak pelayat yang pulang setelah proses penguburan. Falista menatap foto anaknya yang berada di atas pemakamannya. Nay hanya ikut menangis tanpa bisa melakukan penghiburan pada Falista. Sam mencoba mendekati Falista.
"Falista," panggil Sam.
Falista menoleh saat mendengar suara Sam. Menatap kosong padanya, hanya ada kehampaan di wajahnya. Falista mulai membuka mulutnya dan berkata, "Untuk apa kau ke sini? Dia sudah tidak membutuhkanmu lagi!"
"Maafkan aku, aku bukan sengaja tidak mengangkat teleponmu, aku benar-benar lupa untuk menelpon mu kembali. Kenapa kamu tidak bilang padaku bahwa kamu membutuhkan biaya pengobatan untuk Sisil sebelumnya? Kamu bisa menghubungi Bian jika aku tidak mengangkat teleponmu."
"Apa kamu kira, aku menelponmu hanya untuk meminta uang? Apa kamu kira uang adalah segalanya? Aku menghubungi mu karena Sisil merengek ingin bertemu denganmu. Namun apa? Sampai akhir hayatnya kamu tidak menemuinya. Kamu tidak tau usahaku untuk membujuk Sisil agar melupakanmu! Setelah kamu memutuskan hubungan denganku, aku susah payah memberi pengertian pada Sisil bahwa kamu tidak mungkin menjadi Ayahnya. Dia hanya ingin sekali saja bertemu denganmu! Begitu sulitkah dirimu menemui dirinya walau hanya sebentar?" ucap Falista putus asa.
"Maaf, aku sungguh minta maaf," ucap Sam sungguh-sungguh.
Falista menatap Nay yang ada di belakang Sam, "Pasti karena dirimu yang membuat Sam tidak mengangkat teleponku! Kau membuat Sam tidak bisa bertemu dengan Sisil, bukan? Kau pembunuh! Kau penyebab Sisil tidak bisa bertemu Sam!" Jerit Falista menatap nanar pada Nay.
Nay membeku di tempat, dia tau Falista sedang bersedih, dia ingin membela dirinya. Namun, hati nuraninya masih menuntunnya untuk berempati. "Aku tau kamu bersedih, tapi sungguh aku tidak pernah melarang Sam bertemu dengan Sisil."
__ADS_1
Ya, Nay memang tidak pernah melarang Sam bertemu Sisil. Namun, dia tidak suka Sam bertemu dengan Falista. Sam pun menjaga perasaan Nay, dia memang jarang menemui Sisil karena jika menemui Sisil otomatis akan bertemu Falista dan hal itu yang dia hindari untuk menjaga perasaan istrinya.
"Bohong! Kau lupa bahwa kau pernah mengancamku?" ucap Falista dengan kemarahan. "Kaulah penyebab kematian Sisil!" jerit Falista.
"Tidak, bukan aku," gumam Nay.
Sam menatap Nay yang mulai panik, dia langsung menghampirinya dan memeluk pundaknya.
"Ini bukan salahnya, Falista. Ini murni kesalahanku! Aku yang lupa menelponmu kembali" ujar Sam membela istrinya.
"Kalian sama saja, aku tidak akan pernah memaafkan kalian semua. Pergi dari sini!" usir Falista.
"Maaf." Sam pergi dengan membawa Nay, Falista sedang tidak dapat berpikir jernih, jadi dia lebih baik meninggalkan tempat itu.
Bian datang berpapasan dengan Sam di depan pintu masuk pemakaman. "Tolong jaga Falista, dia sedang dalam keadaan kacau. Aku takut terjadi sesuatu," ujar Sam pada Bian.
"Tenang saja, aku akan menemaninya," ujar Bian, setelah itu pergi menghampiri Falista. Bian duduk di samping Falista yang masih memandang wajah Sisil di dalam foto.
"Tidak, aku memang bekerja padanya, tapi aku juga temanmu," ucap Bian.
***
"Sam, bagaimana selanjutnya?" tanya Nay saat mereka sudah ada di dalam kamar.
"Entahlah. Aku hanya masih tidak menyangka Sisil berumur pendek," ujar Sam.
"Falista benar, aku penyebab semua ini. Aku yang mengancamnya saat itu." Nay meneteskan air matanya, dia merasa tidak adil bagi Sisil. Seorang anak kecil yang menjadi korban keegoisan para orang dewasa.
"Tidak, ini bukan salahmu! Seandainya kita membantu pengobatan Sisil. Namun, jika Tuhan berkehendak mengambilnya, maka kita tidak bisa berbuat apapun."
Sam dan Nay berpelukan, mereka berusaha memiliki anak sendiri tapi belum juga di kabulkan, sedangkan Falista dengan mudahnya memiliki anak, namun dengan cepat pula Tuhan mengambilnya. Tidak ada yang sempurna di dunia ini karena setiap manusia mempunyai cobaannya tersendiri.
__ADS_1
Lima hari berlalu, Falista masih dalam keadaan berduka, dia masuk ke dalam kamar Sisil. Melihat kamar yang menjadi kenangannya dengan anaknya. Melihat ke ranjang Hello Kitty, bayangan Sisil yang tertidur pulas, teringat akan Sam yang saat itu mendongengkan Sisil sebelum tidur, memeluk Sisil dengan penuh kasih sayang, Air mata Falista kembali mengalir.
Beralih ke meja belajar Sisil, menarik laci meja belajar, mengambil sebuah kotak yang ada di dalam laci. Dia membuka kotak tersebut, di dalam kotak ada tiga buah boneka kecil sederhana terbuat dari kain dan di dasar kotak ada sebuah kertas, dia mengambil kertas itu. Tangisannya semakin jadi setelah melihat gambar yang ada di kertas tersebut. Falista menatap nanar pada kertas tersebut.
Keesokan malamnya, Falista menelpon Sam.
"Hallo," ucap Sam.
"Bisa kamu datang ke rumah?" tanya Falista.
"Ada apa?" tanya Sam.
"Ada yang ingin ku berikan padamu, sesuatu yang ingin Sisil berikan padamu!" ucap Falista datar.
Sam menoleh pada Nay yang berada di sampingnya, Dia loadspeaker ponselnya agar Nay bisa mendengarnya. Nay hanya menganggukkan kepalanya menatap Sam sebagai tanda persetujuan.
"Baiklah, aku akan datang." Sam memutus sambungan teleponnya.
"Kamu temani aku yah?" ujar Sam. Dia ingin Nay menemaninya, entah mengapa perasaannya tidak enak.
"Kamu sendiri saja, Falista tidak mungkin ingin melihat wajahku. Aku tidak mau menambah masalah."
"Benar tidak mau ikut?" tanya Sam sekali lagi. Nay hanya menggeleng kan kepalanya.
Bersambung...
Jangan lupa like, love vote n komentarnya 😊
Tidak berasa kisah Sam dan Nay akan segera berakhir... kawal sampai akhir yach 🙏
Terimakasih yang masih setia dengan kisah Samudra Nayna 😊🥰
__ADS_1
Salam Age Nairie 🥰😘