SAMUDRA NAYNA

SAMUDRA NAYNA
BAB 74 Taman Belakang


__ADS_3

Mereka melangkahkan kaki ke taman belakang, berjalan mengendap-endap bagaikan pencuri, membuka pelan pintu yang sudah sedikit terbuka, yang menghubungkan dapur dengan taman belakang. Tidak ada suara dari orang yang berada di gazebo, hanya ada suara decakan.


Nay dan Sam berjalan semakin mendekat, Nay mengambil ponselnya dan menyalakan lampu senter yang ada di ponselnya, dia menyorotkan cahaya ke arah orang yang berada di gazebo dan hanya dalam jarak kurang dari dua meter, Sam berteriak, “Siapa kalian?” Sam langsung menghampiri dan memukul bagian belakang kepala orang yang sedang saling memanggut. Hingga, dua orang tersebut menghentikan atktivitas mereka.


“Ah ….” Zima berteriak sambil memegang kepala bagian belakang dan Nima langsung berdiri salah tingkah.


“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Nay dengan meninggikan suaranya.


“Ka—mi tidak melakukan apa-apa!” ucap Nima gugup.


“Kenapa kamu memukulku?” tanya Zima marah.


“Kamu sendiri, sedang apa di tempat sepi seperti ini? mengotori taman belakang saja!” marah Sam.


“Kami hanya sedang menikmati angin malam,” bela Zima.


“Dengan berbuat mesum seperti itu? Memalukan!”


Di tengah pertengkaran mereka, membuat seisi rumah heboh. Retno dan Leo datang ke arah keributan.


“Ada apa ini? malam-malam bikin keributan!” tanya Retno. Matanya tidak sengaja melihat Nima yang diam berdiri dengan kepala tertunduk.


Beberapa jam yang lalu, Zima membawa Nima bertemu dengan orang tuanya. Mereka telah makan malam bersama. Retno pikir Nima sudah pulang karena mereka sudah pamit satu jam lalu. “Kamu masih disini, Nima?”


Belum sempat Nima menjawab, sudah ada Zima yang berucap, “Sam, memukul kepalaku, Bu!” adu Zima.


“Aku memukulnya karena kupikir ada maling! Ternyata, mereka berbuat mesum!” ujar Sam.


“Kami, tidak berbuat itu, Bu!” bela Zima.

__ADS_1


“Tidak bagaimana? Tanganmu sudah bergerilya. Bahkan, tadi kalian hampir melepas semua pakaian!” cecar Sam.


Zima dan Nima ternganga mendengar penuturan Sam yang terlalu di lebih-lebihkan, nyatanya mereka hanya ciuman saja.


“Benarkah itu?” ucap Retno.


“Tidak, seperti itu, Bu!” ujar Zima.


“Mereka sudah sangat memprihatinkan, Bu! Kalau di desa, mereka sudah di arak keliling kampung karna berbuat mesum!”


“Jangan asal sembarangan bicara! Kami hanya berciuman! Lagi pula, jika kami ingin berbuat tidak senonoh tidak akan di tempat seperti ini juga.”


“Tuh kan, Bu! Zima ngaku berbuat mesum.”


“Bukan begitu!” ucap Zima.


Nima hanya diam di tempat dengan tatapan ke arah kakinya, rasanya ingin menghilang dari tempat itu. Dia merasa malu, karena sudah membuat namanya jelek di depan calon mertuanya.


“Baik, Yah!”


Setelah di tengahi oleh Leo, keadaan kembali kondusif, Zima mengantar Nima. Leo dan Retno kembali ke kamar mereka, begitu pula dengan Sam dan Nay.


“Kenapa kamu bilang pada Ibu yang tidak-tidak? kan, mereka memang tidak berbuat apa-apa!” ujar Nay.


“Biarkan saja, sekali-kali ngerjain Zima!” ucap Sam bangga.


“Ih, kamu iseng! Lalu, ayah mau apa, meminta kak Zima menghadapnya?”


“Tidak Tau, mungkin akan meminta sesegera mungkin menikah. Dia kan, sudah kepala tiga.”

__ADS_1


“Emm.”


“Sudah, yah. Aku mau mandi dulu.”


“Ya.”


Sam melepas atribut di tubuhnya, melepas arloji, mengambil ponselnya dari dalam saku dan menaruhnya di atas meja dan melangkah menuju kamar mandi.


Nay sedang mengecek email dari ponselnya, sedetik kemudian dia mendengar notifikasi chat dari ponsel Sam, melihat sekilas pada ponsel Sam, matanya terbuka lebar saat melihat si pengirim pesan. Nay mengambil ponsel Sam dan membuka isi chat dari si pengirim.


Falista : Sam, bisa kita ketemu besok?


Sam : Baiklah, besok mau ketemu dimana?


Falista : Kita ketempat café dekat sekolah Sisil, jam 11 bisa?


Sam : Baik.


Nay yang membalas pesan Falista dari ponsel Sam, setelah itu ia menghapus semua chat dari Falista.


“Baiklah, kita ketemu besok. Aku ingin tau bagaimana reaksimu saat yang datang bukan Sam, melainkan aku!” gumam Nay. Menatap pada ponsel Sam yang sudah dia hapus chat story-nya dan meletakannya di tempat semula.


Bersambung….


Hai, pembaca setia Samudra Nayna, otor mau minta tolong buat para reader untuk menyempatkan waktunya membaca satu cerpen buatan otor yang berjudul Call Center Cinta. Cuma butuh waktu satu menit untuk membacanya loh. Ini sebenarnya mau otor buat Novel, tapi otor masih mau fokus ke Samudra Nayna. karena itu, otor jadikan cerpen saja. mohon dibaca dan di beri komentar ya, layak atau tidaknya untuk di lanjutkan dalam bentuk novel.



Jangan lupa like, love, vote , bunga dan komentarnya

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2