SAMUDRA NAYNA

SAMUDRA NAYNA
BAB 44 Kamu tidak takut padaku?


__ADS_3

Nay keluar dari ruang ICU, Sam masih setia menunggunya.


“Kita pergi,” ucap Nay.


“Kemana?” tanya Sam.


“Bertemu Ibuku?” Sam menatap penuh keheranan pada Nay.


“Ibumu? Diska?” tanya Sam.


Bertemu Ibunya, dia tidak bercanda kan! Kumohon jangan bertindak bodoh Nay.


“Kenapa menatapku seperti itu? Aku ingin kemakam ibuku, bukan ingin bertemu dengannya di alam baka!” ucap Nay kesal seperti tau akan apa yang ada dipikiran Sam.


“He … he …, maksudku bukan begitu, memang kamu tidak lelah, lebih baik kita pulang dulu untuk istirahat!”


“Kalau tidak mau mengantar ya sudah, jangan membuat banyak bicara!” ucap Nay.


“Mana mungkin tidak mau mengantar, aku kan supir hatimu.”


“Ish… sudah ayo pergi.”


Sam melajukan mobilnya menuju makam Diska, namun di pertengahan jalan Nay menghentikannya.


“Sam, berhenti! Kita putar balik saja,” ucap Nay.


“Kenapa?”


“Tidak apa-apa, hanya saja aku sedikit lelah. Kamu benar, lebih baik kita istirahat saja dirumah.” Keberaniannya tiba-tiba menghilang, Nay belum siap bertemu dengan ibunya, Tadinya dia ingin sekali memaki di makam ibunya, namun teringat apa yang diinginkan oleh kakeknya bahwa Diska tetaplah ibunya dan jangan membencinya, maka itu dia urungkan untuk kemakam ibunya.


“Baiklah, mau pulang kerumah atau apartemen?” Sam memutar kemudi berbalik arah.


“Apartemen saja.”


“Mau langsung ke apartemen atau mampir dulu untuk makan? Kamu belum makan apa-apa sejak siang, ini sudah menjelang malam.”


“Aku yang belum makan atau kamu yang belum makan?” tanya Nay.


“Apa bedanya? Kita sama-sama belum makan kan.”


“Tapi aku tidak mau mampir-mampir, aku mau langsung pulang saja.”


“Kalau gitu kita delivery saja ya, kamu mau makan apa?


“Apa saja, yang penting isi perut.”


“Kalau begitu kita pesan pizza saja ya? yang pinggirannya ada sosisnya, aku tidak suka yang pinggirannnya kosong.”


“Iya, aku juga tidak suka yang pinggirannya hanya roti, aku suka sosis. Kalau gitu mana sini? Cepat buka!” ucap Nay.


“Ha? Apa yang buka? Jangan disini!” ucap Sam panik.


“Apa yang kamu pikirkan? Ponselku habis baterai, berikan ponselmu, biar kubuka aplikasi food delivery!”

__ADS_1


“Ha.. ha.. ha.., ku kira buka yang lain.” Sam mengeluarkan ponselnya dari saku dan memberikan pada Nay.


“Ish.. benar-benar ya, kenapa punya suami yang berpikir menggunakan otak yang berada di bagian bawah perut!”


“Habis, kamu bicaranya kurang jelas, ‘mana sini’, ‘cepat buka’, bagaimana aku tidak berpikir yang tidak-tidak!” protes Sam.


“Sudah jangan dibahas lagi, aku pesan satu pizza ukuran sedang saja ya? dengan pinggiran sosis, yang full daging atau dengan sayuran?” Nay membuka aplikasi food delivery dan mulai memesan.


“Yang full daging saja! hanya pesan yang sedang? Itu terlalu sedikit, aku dalam masa pertumbuhan perlu banyak makan.”


“Memang kamu anak umur tiga tahun? Masih dalam masa pertumbuhan! Lagian aku tidak banyak makan, kamu habiskan saja sisanya.”


“Tambah pesanan saja, kalau tidak mau pesan pizza di tambah spagetti saja. Kamu sudah kurus harus makan banyak, lihat kamu sudah seperti triplek saja, rata!”


“What? Kamu bilang aku rata? Kamu kira kamu tampan?”


“Ha.. ha… tentu saja aku tampan, kalau tidak tampan bagaimana mungkin dulu punya banyak pacar!”


“Jadi kamu bangga? Kamu pikir aku tidak pernah pacaran karena aku tidak cantik apa? aku itu sangat pemilih, kalau bukan di jodohkan olehmu, mungkin aku sudah menikah dengan orang lain yang lebih baik darimu!”


“Jadi sekarang kamu menyesal menikah denganku?”


“Tidak sampai tahap menyesal, tapi dengan kecantikkan diriku ini, seharusnya aku bisa mendapatkan yang lebih tampan dan lebih kaya darimu!”


“Oh.., miss perfect telah kembali! penyakit percaya dirimu sepertinya kambuh lagi?”


“Jadi kamu ikut menjuluki aku seperti teman-teman disekolah?”


“Bukan menjulukki, tapi itu kenyataan!”


Dalam perjalanan pulang ke apartemen, mereka bertengkar dan bercanda, seperti melupakan apa yang telah terjadi siang ini. Hingga akhirnya mereka sampai dan menikmati makan malam mereka.


“Nay!”


“Ya, kenapa?” Nay baru selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya di depan cermin.


“Aku lapar!” ucap Sam yang sudah berbaring diranjang.


“Tadi kan sudah makan banyak, masa masih lapar?”


“Kan aku sudah bilang, aku dalam masa pertumbuhan.”


“Ya sudah pesan saja, jangan minta aku untuk memasak!”


“Aku laparrr…..” teriak Sam.


“Kenapa berteriak seperti itu? Seperti tidak di kasih makan saja!”


“Memang tidak dikasih makan.”


“Kalau tidak dikasih makan, itu pizza dan spagetti apa namanya?”


“Aku lapar….”

__ADS_1


“Ya ampun Sam, kamu kenapa sih?” Nay berjalan menuju ranjang, mendekat pada Sam dan tiba-tiba tangannya ditarik hingga Nay terjatuh di ranjang.


“Ah….” Jerit Nay.


“Aku lapar, dan aku mau makan kamu!” ucap Sam.


Setelah melakukan olah raga malam hari, mereka terlelap, hingga ditengah malam, Sam menyadari tidak ada istrinya disampingnya. Dia terbangun mencari keberadaan Nay, karena tidak menemukan Nay di dalam kamar, dia keluar kamar, dan menemukan istrinya sedang menangis di dapur.


“Kamu lapar?” tanya Sam yang sempat mengagetkan Nay.


“Ah! Tidak, hanya sedikit haus. Kamu lapar?” ucap Nay mengusap air matanya.


“Kenapa menangis?” Sam mendekat lalu menggendong Nay.


“Apa yang kamu lakukan? Aku lelah Sam?”


“Memang apa yang kulakukan, aku hanya memindahkanmu saja, kita bicara di ruang tamu saja!” Sam sebenarnya hanya sedikit waspada karena di dapur banyak benda tajam, semenjak mendengar cerita tentang Diska, ada rasa khawatir di hatinya, bukan takut akan dirinya yang terluka namun takut Nay menyakiti dirinya sendiri, walaupun sebenarnya dia meyakini bahwa Nay tidak menuruni penyakit ibunya. “Ada apa? jangan menangis, lebih baik diceritakan.”


Nay ragu untuk memulai ceritanya, “Aku hanya takut, Sam!”


“Takut apa? ada aku disini.”


“Sebenarnya, aku takut apa yang terjadi pada ibuku, terjadi juga pada diriku?”


“Tidak mungkin.”


“Saat aku melempar vas bunga itu, aku benar-benar ingin melempar pada Tante Sinta, aku ingin dia terluka! dan juga saat membakar semua lukisan Nima, ada rasa bahagia dihatiku, padahal aku tau lukisan-lukisan itu sangat berharga untuknya.” Nay mulai meneteskan air matanya kembali.


“Dengar Nay, semua orang punya perasaan, ada emosi dalam setiap diri manusia, bagaimana cara kita mengontrolnya saja dan kamu berhasil mengontrol emosimu, terbukti kamu tidak benar-benar melemparkan padanya, bukan? dan sekarang kamu memiliki rasa penyesalan."


“Tapi, Sam ….” Nay menghentikan bicaranya.


“Sudah, kita lupakan saja, kalau kamu memiliki penyakit seperti ibumu, tidak mungkin sekarang kamu menangis di hadapannku, aku yakin ibumu tidak pernah menangis.” Sam mengusap air mata yang ada di pipinya. “Ini buktinya, kamu menangis hingga matamu bengkak, artinya kamu wanita normal.”


“Jadi aku normal?”


“Ya.”


“Kamu tidak takut padaku?”


“Tidak, kenapa bertanya begitu? Kalau takut aku sudah meninggalkanmu?”


“Kalau begitu kenapa kamu menggendongku ke sini? Bukan karena di dapur banyak benda tajam, kan?”


Bersambung ....


Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan


Jangan lupa like , favorit dan votenya ..


menerima dengan sangat saran dan kritik nya...


terima kasih sudah setia dengan kisah samudra nayna 🙏🙏🙏

__ADS_1


Selagi menunggu up dari Samudra Nayna bisa baca novel karya temanku yah...



__ADS_2