
Nima pergi dari ruang rawat kakeknya, melangkah pelan hampir tanpa suara, membuka pintu tanpa ada yang menyadari karena ketiga orang tersebut terlalu fokus membicarakan pekerjaan. Dia berjalan di lorong rumah sakit dengan menundukkan kepalanya hingga tanpa sengaja dia menabrak seseorang.
“Maaf, maaf, aku tidak sengaja!” ucap Nima masih dengan menundukkan kepalanya.
“Kamu baik-baik saja?” Nima mendongak setelah mendengar suara yang familiar.
“Kak Zima!”
“Bagaimana, sudah menemukan uang belum?”
“Uang?” tanya Nima bingung.
“Kamu berjalan sambil menunduk, ku kira kamu sedang mencari uang!”
“Mana ada! Kakak kenapa kesini?”
“Kamu lupa yah? sebelum kamu kesini, kan kamu yang menelponku bahwa kakek Adam di rawat!”
“Oh iya, maaf tadi aku salah nelpon, tadi aku mau telepon Nay tapi malah nelpon Kakak!”
“Apa Nay sudah tau?”
“Sudah, dia di kabari paman Anton, orangnya ada di dalam bersama kakek dan juga paman Anton. Kak Zima mau bertemu kakek?”
“Iya, kamu mau pulang?”
“Iya, Kak!”
“Biar aku antar pulang?”
“Bukannya Kakak mau bertemu kakek Adam?”
“Aku bisa kembali lagi kesini besok, ayo!”
“Tidak usah Kak, aku bawa mobil sendiri!”
“Sudah, aku antar saja! nanti mobilmu biar aku suru orang mengantar ke rumahmu!” Zima menggandeng tangan Nima menuju mobilnya, tanpa diketahui Zima, jantung Nima berdebar sangat cepat.
“Bagaimana kabar ibumu? Apa masih ditangani psikiater?” ucap Zima sambil berkendara.
“Masih, satu bulan sekali!”
“Emm, sudah masuk jam makan siang, kita makan dulu ya?” ucap Zima
“Ya.” Nima menganggukkan kepalanya. Mereka ke restoran terdekat.
“Mau makan apa?” tanya Zima.
“Aku tidak terlalu lapar, boleh aku pesan sepotong cake saja?”
“Tentu!”
Nima membuka buku menu dan menemukan yang dia inginkan, “Aku mau ini dan ini!” menunjuk menu yang diinginkan.
“Cake strawberry dan jus strawberry?”
“Ya, aku suka sekali strawberry.” Nima bicara dengan binar bahagia.
“Baiklah!” Zima memanggil pelayan restoran dan memesan yang akan mereka makan. “Bagaimana persiapan pameranmu?"
__ADS_1
“Sudah hampir selesai, sekitar 20% lagi selesai!” senyum tidak pernah luput dari wajahnya, betapa senangnya dia bisa makan bersama Zima.
“Baguslah!” Zima memperhatikan wajah Nima yang berseri.
Apakah dia sudah memiliki kekasih? Dia sudah tidak seagresif dulu lagi.
Tidak menunggu lama, makanan yang mereka pesan datang. Nima berbinar melihat makanan kesukaannya datang dan ditemani orang yang dia sukai. Mengambil garpu dan langsung memakan buah strawberry yang ada di atas sepotong cake strawberry.
“Kenapa makan strawberry-nya dulu? Kan jadi tidak cantik cakenya jika strawberry tidak ada?” tanya Zima.
“Strawberry-nya hanya satu dan itu kesukaanku, kalau tidak di makan duluan takut diambil orang!”
“Siapa yang mau ambil strawberry-mu?”
“Jika aku suka, maka aku akan langsung memakannya tidak perlu di makan nanti-nanti! sebaliknya jika aku tidak suka, maka akan langsung aku singkirkan, untuk apa mempertahankan yang tidak aku sukai, lebih baik diberi pada yang suka kan!”
“Dimakan diawal atau di akhir bukannya sama saja? tetap rasa strawberry?”
“Ya, rasanya sama! Namun untuk menunjukkan benar-benar suka maka harus segera di miliki karena jika dimakan akhir, kita tidak tau bagaimana nasibnya, bisa saja tiba-tiba ada yang mengambil atau dengan ceroboh menjatukannya! Bukannya sayang jika apa yang kita sukai tidak dapat kita milikki?”
“Bagaimana jika ada yang mengambil strawberry-mu?”
“Jika aku sudah berusaha untuk memakannya lebih dulu tapi strawberry-nya hilang maka aku akan mengiklaskannya, artinya strawberrynya tidak berjodoh dengan perutku!”
“Jadi, kamu sudah mengikhlaskanku?”
“Apa?” tanya Nima, takut pendengarannya salah.
“Bukan apa-apa, makanlah!” ucap Zima dengan suasana hati yang kacau. Dulu sangat sebal jika Nima agresif mendekatinya tapi sekarang dia merasa ada sesuatu yang hilang.
“Bagaimana hubungan Kak Zima dengan pacar Kakak itu? Jangan-jangan sudah ada rencana untuk menikah ya? apalagi Sam sudah menikah!” ucap Nima dengan nada sebiasa mungkin agar tidak terlihat mencurigakan bahwa dia ingin mengetahui tentang kisah asmaranya.
“Kami sudah putus!” ucap Zima datar.
“Owh, pasti kakak cepat mencari penggantinya?”
“Sampai sekarang belum mendapat penggantinya.”
“Sepertinya dia sangat spesial!”
“Ya!” ada kesedihan dimata Zima, kekasihnya pergi
meninggalkannya dengan pria lain, pasti ada alasan kenapa dia meninggalkannya karena dia meyakini kekasihnya tidak mungkin selingkuh.
Sudahlah Nima! dia tidak akan menyukaimu, jangan berharap padanya! wanita itu sangat berarti untuknya.
“Kalau spesial kenapa putus?” Nima melanjutkan memakan cakenya.
“Seperti yang kamu bilang, jika sudah berusaha memiliki tapi masih saja hilang maka kami tidak berjodoh!”
“Semoga Kak Zima menemukan jodoh Kakak!”
Apa yang kau katakan Nima, malah berharap dia mendapatkan jodoh.
“Kamu sendiri, apa sudah ada orang yang kamu sukai?”
Ehm, ehm … Nima tersedak, mengambil minumannnya untuk meredakan tenggorokkannya dan mulai melanjutkan bicaranya.
“Sudah Kak!” Dan masih orang yang sama, kamu Kak.
__ADS_1
“Apa sudah selesai? Aku masih harus ke kantor?” setelah mendengar jawaban Nima, dia merasa kesal.
“Sudah Kak.”
“Ayo, ku antar pulang!”
“Iya.”
Kenapa tiba-tiba dia jadi dingin seperti ini, bahkan makanannya tidak dimakan.
***
Nay resmi menjadi CEO dari perusahaan Rastian Corp. kesibukannya sudah mulai bertambah, kakek Adam dirawat di rumah sakit selama seminggu, penyakit jantungnya belum sampai mengharuskan transplantasi jantung masih bisa ditangani oleh obat-obatan dan pola hidup sehat. Dia memilih pensiun karena ingin sedikit relax selama bertahun-tahun bekerja dan ingin fokus pada anaknya Sinta.
“Nay, hari ini kakek Adam di bolehkan pulang?” tanya Sam.
“Iya, kebetulan hari sabtu, aku akan mengantarnya kerumah!” Nay mengusapkan lipstik di bibirnya.
“Aku ikut ya?”
“Tentu harus ikut! Memangnya kamu mau kemana jika tidak ikut denganku di hari weekend gini?” ucap Nay dengan tatapan tajam.
“Roman-romannya ada yang sedang cemburu nih!”
“Dih PD! Kalau kamu ga ikut yang jadi supirku siapa?”
“Jadi kamu anggap aku supir?” tanya Sam dengan nada tinggi.
“Supir hatiku!” Nay mengecup pipi Sam agar dia tidak marah.
“Sekarang sudah mulai bisa gombal yah!”
“Ha … Ha… .” Mereka tertawa bersama.
***
Setibanya di rumah sakit, kakek Adam sudah di temani asisten setianya.
“Kakek aku datang, hari ini dibolehkan pulang kan?” Nay bergandengan tangan dengan Sam.
“Pagi Kek!” sapa Sam.
“Kamu juga datang Sam? Iya, aku di bolehkan pulang.” Matanya melihat genggaman tangan Sam dan Nay, dia bersyukur Nay mendapatkan Sam karena dia tau Sam sangat mencintai cucunya dan tak mungkin menyakitinya.
“Tentu saja aku datang Kek,” jawab Sam.
“Kalau begitu, aku urus administrasinya dulu,” pamit Anton lalu keluar dari ruangan.
Saat dia keluar ruangan dia melihat Sinta dan Nima berjalan ke arahnya.
Tidak, mereka tidak boleh bertemu!
Bersambung...............
Terimakasih yang masih bersedia mengikuti Samudra Nayna..
Jangan lupa LIKE , LOVE dan Komennya yach.,., menerima dengan sangat saran dan kritiknya biar aku lebih baik lagi dalam menulis...
ada satu lagi nih, aku punya rekomendasi novel temenku, sambil nunggu up Samudra Nayna bisa baca karya otor Ramanda
__ADS_1