
Pukul 10.30, Sam baru saja selesai meeting, mengambil ponselnya untuk menelpon istrinya.
“Hallo, Sam.”
“Hallo, Sayang makan siang bareng, yuk! Aku jemput ke kantormu.”
Nay berpikir mencari alasan menolak ajakan Sam, dia sudah berencana untuk menemui Falista tanpa sepengetahuan Sam dan saat ini dia sudah bersiap untuk berangkat menemuinya.
“Maaf Sam, aku ada meeting siang ini. Bagaimana jika diganti makan malam saja?”
“Baiklah.”
“Tapi, tidak usah menaruh cincin dalam cake lagi, yah!”
“Hehehe…”
Mereka mengakhiri panggilan teleponnya, Sam masih memandangi ponselnya. Kemudian dia menyadari ada yang berbeda dengan ponselnya, beralih ke komputernya dan mulai mengutak atik. Sedetik kemudian dia tertawa.
“Kenapa kamu tertawa seperti itu? Bukannya tadi gagal makan siang bareng istrimu?” tanya Bian yang sedari tadi duduk di depan Sam.
“Ada yang menyadap ponselku!”
“Lalu, apa hubungannya dengan tawamu itu?”
“Yang menyadap Nay! Sepertinya dia curiga padaku. Lihat nih, dia menolak makan siang denganku untuk bertemu Falista siang ini.” Sam menunjukan ponselnya ke Bian.
“Kamu tidak takut mereka bertemu?”
“Kenapa aku harus takut? Nay berarti mencintaiku, dia cemburu padaku!”
“Bukan itu, aku hanya mengkhawatirkan Falista!” ucap Bian.
“*****t*! Aku pergi dulu.”
__ADS_1
***
Nay datang menemui Falista, dia tiba terlambat sepuluh menit dari waktu yang di janjikan. Dia masuk ke café tujuan mereka, membuka pintu kaca, matanya sudah menemukan sosok yang akan dia temui.
Falista tidak memperhatikan kedatangan Nay, dia sudah memesan minuman berwarna merah untuk dirinya dan juga untuk Sam. Matanya masih fokus dengan gadget di tangannya. Hingga, tersadar saat kursi di depannya ada yang menarik.
Nay menarik kursi dan duduk dengan menyilangkan kakinya, sudah ada dua gelas 🍷 minuman di meja tersebut. Falista mendongakkan kepalanya. Dia sempat terkejut setelah melihat yang datang bukan Sam.
“Hai,” sapa Nay.
“Hai,” jawab Falista. Matanya mengedarkan sekeliling mencari orang yang ingin dia temui.
“Tidak usah dicari! Aku datang seorang diri.”
“Oh.”
“Katakanlah, kenapa kamu mau menemui suamiku?”
“Dia suamiku! Urusannya adalah urusanku juga. Jangan bilang urusanmu itu adalah melepas rindu pada suamiku!”
“Terserah kamu mau bilang apa!”
“Baiklah, jadi aku harus menyebutmu apa? Pelakor atau Wanita Tidak Tau Malu?”
Falista tersinggung mendengar perkataan Nay, wajahnya sudah pucat pasi. “Kembalikan, Sam padaku!”
“Apa kamu bilang? Apa jika aku berikan, dia akan sukarela bersamamu?”
“Dia bisa bersamaku, jika kamu pergi dari hidupnya! Sam, sangat menyayangi Sisil.”
Pyurrr.
Nay menyiram air dari gelasnya ke wajah Falista, “Jangan menjadikan Sisil sebagai alasan. Sam peduli padanya hanya karena kasihan!”
__ADS_1
Kondisi café tidak ramai hanya ada empat pelanggan selain Nay dan Falista dan keempat pelanggan tersebut mengalihkan pandangannya pada mereka saat Nay menyiram Falista. Namun, tidak ada yang berniat menengahi.
“Lepaskan Sam jika kamu tidak bisa memberinya kebahagian! Aku bisa memberi berapapun anak yang dia inginkan!” Falista menatap sinis pada Nay.
“Apa maksudmu?”
Bagaimana dia bisa tau aku mempunyai masalah kesuburan?
“Kamu tidak bisa hamil, bukan? Untuk apa jadi wanita, jika hal dasar sebagai wanita saja tidak bisa dilakukan?”
Nay menatap tajam pada Falista, tangannya masih menggenggam jenis gelas anggur tipis🍷 yang di pakainya menyiram. Nay menekan keras pada gelas kaca tersebut. Entah kekuatan dari mana. Hingga, terdengar suara kaca pecah.
Prang!
Gelas tersebut pecah karena genggaman tangan Nay yang sangat kuat dan mengakibatkan darah segar melumuri tangannya, tidak ada raut kesakitan di wajahnya. Berbeda dengan Falista yang sudah pucat pasi melihatnya. Bukan dia yang berdarah. Namun, dia yang merasa sakit melihat darah yang ada di tangan Nay.
“Aku hamil atau tidak? bukanlah urusanmu! Jangan pernah mengusik kehidupanku dengan Sam! jika tidak, kamu akan mengalami seperti pecahan gelas ini!” ancam Nay.
Dia menatap darah yang ada di tangannya lalu berdiri meninggalkan Falista yang membatu di tempat. Beberapa pelanggan yang ada di sana hanya dapat melihat interaksi mereka dengan mata yang membulat dan mulut yang terbuka lebar. Tidak ada yang berani menghampiri Nay yang sedang terluka.
Nay meninggalkan café tersebut, menjalankan mobilnya. Sam datang ke café tersebut, berpapasan dengan Nay yang keluar dari café. Namun, mereka tidak ada yang menyadari. Sam turun dari mobil dan masuk kedalam café tersebut, dia melihat Falista yang terdiam di kursinya dengan wajah yang basah terkena cairan berwarna merah. Sam pun melihat ada gelas pecah dan juga darah yang bercecer, kontras dengan warna lantai yang putih.
Bersambung ....
Jangan lupa like, love, vote n komentarnya 🙏🙏🙏
Terima kasih 🙏
Salam Age Nairie 🥰🥰🥰
Otor membawa rekomedasi novel dari otor Teh Ijo nih.. cus kepoin.. keren loh.. 😊
__ADS_1